PURWOREJO, Satu adikarya ditampilkan oleh budayawan sekaligus sejarawan Purworejo, Dr. Sudibyo melalui kreasi baru batik yang diberi nama Ron Tumuwuh. Menariknya, hasil karya batik tersebut diluncurkan bersamaan dengan hari pernikahan putranya, Bagas Pratyaksa Nuraga dengan Ayu Lestari pada Minggu (11/10/2026).
Bertempat di Joglo Nolopranan, Pacekelan, Kaligesing sebagai lokasi resepsi pernikahan, Dr. Sudibyo didampingi istrinya Widyastuti Sulistyorini, menuturkan filosofi batik kreasinya tersebut. “Batik Ron Tumuwuh ini artinya Daun Bertumbuh, yang secara simbolis memiliki makna sebuah doa untuk Bagas dan Ayu sebagai awal mereka bertumbuh. Mudah-mudahan keduanya dapat bertumbuh sesuai dengan yang mereka harapkan,” ungkap Dr. Sudibyo sesaat sebelum resepsi dimulai.
Menurutnya, daun juga bisa memiliki filosofi yang kurang baik. Yakni apabila daun itu kering. “Daun kering itu itu hanya beterbangan ke arah mana angin meniupnya. Karena itu tentu saja kita semua tidak berharap bahwa Bagas dan Ayu akan seperti itu. Tetapi akan tetap sebagai daun yang terus tumbuh dan tumbuh,” lanjutnya.
Dalam resepsi yang juga dihadiri Wakil Bupati Dion Agasi Setiabudi itu dipamerkan pula lembaran batik karya Dr. Sudibyo dalam bentuk cetak atau printing. Selain itu, motif Ron Tumuwuh juga dikenakan oleh kedua mempelai sebagai bagian dari busana pengantin.
Terkait dengan hasil karyanya tersebut, Dr. Sudibyo menyebutkan sudah merancangnya sekitar empat tahun. Hasil pemikiran selama empat tahun tersebut kemudian diluncurkan bersamaan dengan hari pernikahan putra keduanya tersebut.
Selain batik cetak prada, dibuat juga versi lain berupa batik tulis dengan motif yang sama. Karya itupun ditampilkan di salah satu sisi bagian yang ada di Joglo Nolopranan.

Ia pun berharap agar hasil karyanya ini dapat merangsang atau menstimulus kreasi batik di Purworejo. “Sehingga bisa mencari motif dari mana saja, tidak harus berfokus pada motif manggis, durian atau clorot ” pungkasnya.
Hasil karya budayawan Purworejo itupun mendapatkan apresiasi dari Dion Agasi. Dalam sambutan singkatnya di sela acara resepsi, Dion menyampaikan beberapa hal.
“Ini luar biasa, di hari bahagia kedua mempelai tidak hanya sekedar momen bersatunya keluarga. Tetapi juga momen mengangkat budaya Purworejo dengan mengangkat batik dengan ornamen khusus,” kata Dion.
Dirinya pun menyampaikan ucapan terima kasih kepada keluarga besar Dr. Sudibyo yang telah mengangkat budaya dan memperkaya khasanah budaya terutama batik Purworejo. Tak lupa, Dion juga mengucapkan selamat kepada kedua mempelai serta menyampaikan doa.
Acara resepsi pernikahan pun berlangsung meriah, termasuk dihadiri para pejabat dan tokoh masyarakat di Purworejo. Dengan diiringi gending-gending Jawa, ratusan tamu yang hadir turut berbahagia dan mendoakan kedua mempelai.
Adapun Bagas Pratyaksa Nuraga adalah seorang sejarawan muda, peneliti, dan budayawan asal Purworejo yang aktif dalam kajian sejarah, seni, budaya, serta arsitektur tradisional. Bagas selama ini dikenal berkontribusi di kementerian terkait kebudayaan (Ministry of Culture of the Republic of Indonesia) serta aktif sebagai narasumber, moderator, dan budayawan dalam berbagai forum sejarah dan sarasehan. (Dia)


































Comment