PURWOREJO, Proses penetapan dan penegasan batas desa di Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo, menjadi bagian dari kegiatan kolaboratif antara Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DP3APMD) dengan Program Studi Perencanaan Tata Ruang dan Pertanahan (PTRP), Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro (Undip).
Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk mendukung proses administrasi pemerintahan desa, tetapi sekaligus menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa PTRP UNDIP melalui pendekatan Project Based Learning (PjBL).
Sekertaris Dinas DP3APMD, Purnomo Adi memgatakan kegiatan kerja sama batas desa yang dikolaborasikan dengan mata kuliah Survey Batas Wilayah pada Program Studi Perencanaan Tata Ruang dan Pertanahan merupakan kegiatan yang sangat bagus dan bermanfaat.
”Kolaborasi ini dapat memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam memahami proses penetapan dan pengelolaan batas desa, sekaligus menghubungkan teori yang diperoleh di perkuliahan dengan kondisi di lapangan, seperti halnya yang dilakukan di Kabupaten Purworejo ini,” kata Adi.
Dalam kegiatan ini, mahasiswa memperoleh kesempatan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam kondisi nyata di lapangan. Salah satu mata kuliah yang menjadi dasar pelaksanaan kegiatan tersebut adalah Mata Kuliah Pilihan (MKP) Survei Batas Wilayah.
Menurut Dosen Pengampu Mata Kuliah Survei Batas Wilayah, Syachril Warasambi, melalui kegiatan ini pihaknya ingin mahasiswa memperoleh pengalaman pembelajaran yang benar-benar kontekstual.
”Mahasiswa tidak hanya belajar mengenai teknik survei dan pemetaan batas wilayah, tetapi juga memahami proses koordinasi dengan pemerintah desa dan masyarakat sebagai bagian penting dalam penetapan dan penegasan batas desa. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat kompetensi profesional mahasiswa PTRP Sekolah Vokasi UNDIP,” ujarnya.

Pelaksanaan kegiatan di Kecamatan Ngombol tersebut memberikan pengalaman kepada mahasiswa untuk memahami bahwa penetapan dan penegasan batas desa bukan semata-mata persoalan teknis pemetaan. Di lapangan, mahasiswa harus mampu mengidentifikasi berbagai informasi yang berkaitan dengan batas wilayah, melakukan komunikasi dengan pemerintah desa dan masyarakat, serta mengintegrasikan informasi hasil survei dengan data spasial.
Salah satu mahasiswa peserta MKP Batas Wilayah, Dony Albar, mengungkapkan kegiatan lapangan ini memberikan pengalaman yang sangat bermanfaat bagi para mahasiswa, untuk memahami dan merasakan secara langsung kegiatan penegasan batas wilayah.
”Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam pembelajaran mahasiswa PTRP karena pekerjaan di bidang perencanaan tata ruang dan pertanahan membutuhkan kemampuan untuk menggabungkan aspek teknis, sosial, administratif, dan spasial,” ungkap Dony.
Dengan terlibat secara langsung dalam kegiatan penetapan dan penegasan batas desa, mahasiswa dapat memahami proses yang sebelumnya dipelajari secara teoritis di ruang kelas.
Kerja sama antara DP3APMD Kabupaten Purworejo dan Program Studi PTRP Sekolah Vokasi UNDIP juga menunjukkan keterkaitan antara pendidikan tinggi dengan kebutuhan pembangunan daerah. Pemerintah daerah memiliki kebutuhan terhadap data dan informasi wilayah yang akurat, sementara perguruan tinggi memiliki sumber daya akademik berupa dosen, mahasiswa, metode, serta kemampuan teknis dalam survei dan pemetaan.
Kolaborasi tersebut kemudian mempertemukan kebutuhan praktis pemerintah daerah dengan proses pembelajaran mahasiswa. Bagi mahasiswa, kegiatan ini memberikan pengalaman bekerja dalam konteks pekerjaan profesional. Sementara bagi pemerintah daerah, keterlibatan perguruan tinggi dapat mendukung proses pengumpulan, pengolahan, dan penyajian informasi spasial yang diperlukan dalam pengelolaan wilayah desa.

Kegiatan survei batas desa di Kecamatan Ngombol menjadi salah satu bentuk nyata penerapan Project Based Learning (PjBL) di Program Studi PTRP Sekolah Vokasi UNDIP. Dalam pendekatan PjBL, mahasiswa tidak hanya menerima materi pembelajaran secara teoritis, tetapi diarahkan untuk menyelesaikan suatu proyek nyata dengan menghasilkan produk atau keluaran tertentu.
Pada kegiatan ini, mahasiswa menghadapi persoalan nyata terkait batas wilayah desa dan kemudian menerapkan tahapan survei, pengukuran, pengolahan data, analisis spasial, serta pemetaan untuk menghasilkan informasi batas wilayah. Proses tersebut sekaligus melatih berbagai kompetensi mahasiswa, seperti kemampuan bekerja dalam tim, melakukan survei lapangan, menggunakan perangkat pengukuran dan pemetaan, mengolah data spasial, berkomunikasi dengan pemangku kepentingan, serta menyusun hasil pekerjaan secara sistematis.
Bagi Program Studi PTRP, kegiatan lapangan seperti ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan dunia kerja. Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menggunakan perangkat lunak maupun instrumen survei, tetapi juga harus memahami konteks pengelolaan wilayah dan mampu berinteraksi dengan masyarakat serta pemerintah daerah.
Disampaikan oleh Ketua Program Studi Perencanaan Tata Ruang dan Pertanahan Sekolah Vokasi UNDIP, Khristiana Dwi Astuti, bahwa pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat keterampilan mahasiswa dalam bidang survei dan pemetaan wilayah, khususnya yang berkaitan dengan batas administrasi dan pertanahan. Kegiatan penetapan dan penegasan batas desa di Kecamatan Ngombol pada akhirnya menjadi titik temu antara pembelajaran, penelitian atau pengembangan kompetensi, dan kebutuhan nyata pemerintah daerah.
Kolaborasi antara DP3APMD Kabupaten Purworejo dan PTRP Sekolah Vokasi UNDIP dapat terus dikembangkan pada berbagai bidang lain yang berkaitan dengan tata ruang, pertanahan, survei dan pemetaan, serta pengelolaan wilayah.
“Pembelajaran di perguruan tinggi tidak hanya di ruang kelas, tetapi dapat hadir dan memberikan pengalaman nyata bagi mahasiswa sekaligus berkontribusi terhadap kebutuhan pembangunan daerah,” pungkas Dwi. (Ita)


































Comment