BRUNO, Perayaan peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW atau yang lebih dikenal dengan istilah Mauludan di Dusun Peniten Desa Brunorejo, Bruno benar-benar meriah dan wah. Betapa tidak, para tamu undangan mendapatkan berbagai bingkisan yang terbilang fantastis untuk ukuran dusun terpencil di Kabupaten Purworejo ini.
Bingkisan yang dibawa pulang oleh tamu undangan pun beragam. Mulai dari anek kue kering dan minuman kaleng yang dikemas beberapa susun menyerupai parcel lebaran, hingga barang elektronik seperti kipas angin berdiri (standing fan).
Tak hanya itu, tamu undangan tertentu bahkan mendapatkan bingkisan berupa lemari pakaian dari bahan platik lengkap dengan makanan dan minuman kemasan, hingga kasur busa yang dilipat dan dikemas layaknya bingkisan.
Pemandangan tersebut tampak saat perayaan Mauludan yang berlangsung di Masjid Al-Hidayah Dukuh Peniten, Desa Brunorejo, Bruno pada Minggu (30/8/2026) pagi. Usai perayaan Mauludan yang sebelumnya diisi pengajian itu, puluhan pemuda dan warga dusun setempat membawa bingkisan tersebut untuk selanjutnya diserahkan kepada para tamu undangan.
Kepala Desa Brunorejo, Mahmud Ali yang dihubungi pada Sabtu (5/9/2026) pagi, menjelaskan, ada sekitar 400 tamu undangan yang menghadiri acara peringatan Mauludan di Masjid Al-Hidayah pekan lalu.

Adapun tradisi memberikan bingkisan kepada tamu undangan, menurut Mahmud, sudah berlangsung turun temurun. “Hanya saja, sebelumnya berupa makanan berkat minimal berisi nasi, sayur, lauk (ayam dan telur), dan buah. Kemudian mulai tahun 2000-an, isi bingkisan mulai dimodifikasi,” ungkap Mahmud.
Isi bingkisan pun beragam. Mulai dari makanan dan minuman kaleng, ditambah peralatan rumah tangga seperti penggorengan, teko aluminium, setrika, kompor gas, hingga kasur busa dan aneka peralatan elektronik. “Tujuannya supaya awet sebagai cendera mata,” ujar Mahmud.
Isi bingkisan pun berdasarkan kedudukan atau jabatan dari tamu undangan. Semakin tinggi jabatannya, maka makin bernilai isi bingkisan yang diberikan. Adapun pengajian kali ini selain masyarakat, juga dihadiri ulama, tokoh masyarakat dan tokoh agama, serta warga dengan undangan khusus.
Mahmud menuturkan, dana pembelian seluruh isi bingkisan berasal dari warga dusun yang menjadi tuan rumah kegiatan Mauludan tersebut. Menurutnya, warga sangat menghargai tamu mereka. Selain itu mereka berpendapat bahwa suatu ketika mereka akan menjadi undangan di masjid atau musala tetangga, sehingga akan terjadi hubungan timbal balik.
Meski demikian, isi bingkisan tersebut tidak mengurangi tujuan sejati dari peringatan Mauludan dengan tausyiyah yang disampaikan oleh KH. Muhammad Sahnun Toifur dari Kedungsari. Yakni memperingati kelahiran manusia pilihan yang membawa risalah dan kebaikan bagi seluruh alam. (Dia)


































Comment