PURWOREJO, SMPN 15 Purworejo sukses menyelenggarakan kegiatan projek kokurikuler berbasis Project-Based Learning (PjBL) bertajuk “Pelajar Penjaga Bumi”. Kegiatan yang menggandeng SMAN 1 Purworejo ini berlangsung selama satu pekan mulai 16 hingga 22 Oktober 2026.
“Tujuannya untuk membekali peserta didik dengan pemahaman mendalam mengenai isu lingkungan, sekaligus keterampilan praktis dalam memanfaatkan potensi lokal secara berkelanjutan,” kata Kepala SMPN 15 Purworejo, Nurhayati pada Jumat (23/10/2026).
Ia pun merinci rangkaian kegiatan, diawali pada Jumat (16/10/2026) melalui pembiasaan tadarus, kultum, dan literasi lingkungan di berbagai sudut sekolah. “Pada hari pertama, siswa menerima materi komprehensif mengenai hubungan manusia dan alam oleh Bu Suryatini serta pentingnya menjaga alam oleh Pak Murgiyanto,” kata kepala sekolah.
Berbagai isu lingkungan krusial turut dibahas. Seperti pemanasan global, sampah dan plastik, kerusakan hutan. Juga pencemaran lingkungan, banjir, tanah longsor, serta kekeringan dan krisis pangan. Semuanya dipandu oleh para guru di SMPN 15. Sebagai langkah aksi, siswa diajak memahami aksi reboisasi, pemeliharaan ekosistem sungai, konservasi air dan energi, serta penerapan teknologi ramah lingkungan.
Pada Sabtu (17/10/2026), setelah senam pagi dan diskusi jurnal 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, sekolah berkolaborasi dengan Tim Adiwiyata SMA Negeri 1 Purworejo menyelenggarakan sosialisasi dan praktik langsung mengenai zero waste, budidaya jamur, budidaya maggot, pembuatan komposter, hingga produksi sabun sereh dan sabun eco-enzyme. Antusiasme tinggi terlihat saat siswa mempraktikkan keterampilan baru tersebut secara berkelompok.
Berikutnya, pada Senin (19/10/2026), usai upacara bendera, para siswa merancang media kampanye lingkungan yang mencakup berbagai isu alam. Dilanjutkan dengan sesi presentasi dan pengunggahan karya ke drive sekolah.
Langkah inovasi berlanjut pada Selasa (20/10/2026). Setelah kegiatan kebersihan lingkungan, siswa mengikuti sosialisasi pembuatan briket dari limbah batok kelapa di aula sekolah oleh
Para siswa antusias memperhatikan demonstrasi, menyiapkan bahan, dan praktik membuat briket. Praktik pembuatan briket arang diawali dengan pengenalan bahan baku berupa arang yang telah diproses dan dihaluskan. Bubuk arang kemudian dicampur dengan bahan perekat, seperti tepung kanji yang telah dimasak dengan air menjadi larutan, hingga menghasilkan adonan yang dapat dibentuk.
Setelah tercampur merata, adonan briket dibentuk sesuai ukuran yang diinginkan. Briket yang telah dicetak selanjutnya dikeringkan hingga cukup kering agar dapat digunakan sebagai bahan bakar alternatif.
“Melalui tahapan tersebut, siswa belajar memahami bahwa bahan yang tersedia di lingkungan sekitar dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna. Mereka juga memperoleh pengalaman langsung mengenai pentingnya ketelitian, kebersihan, keselamatan kerja, dan pembagian tugas dalam menyelesaikan sebuah proyek,” jelas Nurhayati.
Menurutnya, kegiatan ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar tidak hanya melalui teori, tetapi juga melalui praktik. Siswa dilatih untuk bekerja sama, mengikuti instruksi, memecahkan masalah, dan bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing.

Selain meningkatkan keterampilan, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan pola pikir kreatif dan inovatif. Siswa diajak memahami bahwa pemanfaatan bahan sisa yang sesuai dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi limbah sekaligus menghasilkan produk yang bermanfaat.
Agenda berikutnya, pada Rabu (21/10/2026), diawali dengan penguatan pendidikan karakter, presentasi laporan pembuatan briket batok kelapa, serta pemberian materi mengenai peran penting air bagi kehidupan. Dalam kelompok kecil, siswa merancang alat penjernih air sederhana menggunakan bahan-bahan di sekitar rumah untuk mencari susunan pembentuk air paling jernih. Setelah ekperimen sisiwa membuat laporan dan presentasi.
Puncak kegiatan berlangsung pada Kamis (22/10/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional yang diawali dengan tadarus bersama. Pada hari ini juga siswa melaksanakan pilketos untuk memilih ketua OSIS yang memiliki jiwa kepemimpinan kuat dan memiliki kesadaran ekologis serta mampu menggerakkan warga sekolah menjaga kelestarian lingkungan sekolah.
Penoblosan dilakukan secara bergilir. Sambil menunggu giliran siswa menguji daya bakar briket hasil karya mereka untuk memasak beragam hidangan kelompok. Seperti olahan bakaran, sate, hingga bakmi. Hasil uji coba menunjukkan briket batok kelapa ini memiliki daya tahan bara yang lama, tingkat panas yang stabil, dan menghasilkan asap yang jauh lebih sedikit dibandingkan arang kayu biasa.
Penerapan Project Based Learning memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman nyata. Mereka terlibat dalam proses pengolahan bahan, pembuatan briket, pengeringan, hingga pengujian hasil produk.
Melalui kegiatan ini, siswa belajar bahwa proses pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas, tetapi juga dapat dilakukan melalui praktik langsung yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Mereka memperoleh pengalaman dalam memecahkan masalah, bekerja sama, membagi tugas, mengamati hasil percobaan, serta mengevaluasi kualitas produk yang dihasilkan.
Keberhasilan briket yang dibuat siswa hingga dapat digunakan untuk memasak menjadi pengalaman belajar yang bermakna. Siswa dapat melihat secara langsung bahwa bahan yang sebelumnya dianggap sebagai limbah ternyata memiliki nilai guna apabila diolah dengan pengetahuan, keterampilan, dan kreativitas.
Rangkaian projek diakhiri dengan evaluasi mendalam melalui Refleksi 4P (Peristiwa, Perasaan, Pembelajaran, dan Penerapan ke depan). Dari catatan refleksi, siswa menyatakan rasa senang dan berkomitmen untuk terus menjaga lingkungan dari hal-hal kecil di sekitar mereka.
“Melalui pendekatan kontekstual ini, SMPN 15 Purworejo tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga memberikan ruang bagi siswa untuk berpikir kritis, berkolaborasi, dan menghasilkan karya nyata yang bermanfaat bagi masa depan yang berkelanjutan,” ujar kepala sekolah Nurhayati.
Dengan semangat Adiwiyata, SMPN 15 Purworejo berkomitmen untuk mendukung tumbuhnya generasi yang berpengetahuan, terampil, inovatif, dan memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. (Dia)
















































Comment