PURWOREJO, Peringatan Hari Kartini merupakan momen mengenang bangkitnya emansipasi atau peran perempuan Indonesia, baik di lini keluarga, masyarakat, hingga pemerintahan.
Di lingkungan Pemkab Purworejo, partisipasi perempuan relarif sangat tinggi. Mereka bahkan menempati posisi strategis. Selain bupati, tiga staf ahlinya juga semuanya perempuan. Beberapa OPD di Purworejo yakni jajaran kepala dinas juga diduduki oleh perempuan. Belum lagi para sekretaris dinas (sekdin) yang banyak ditempati oleh kaum perempuan.
Termasuk juga keterwakilan perempuan di jajaran legislatif. Tak hanya menjadi anggota, kaum perempuan juga menjabat sebagai wakil ketua DPRD Purworejo dan juga ketua komisi; sebuah jabatan yang strategis untuk menyuarakan aspirasi kaum perempuan.
Dengan kata lain, di bidang pemerintahan, kaum wanita sudah masuk pada jajaran eselon atau strata prestisius. Termasuk juga banyaknya organisasi wanita yang bernaung dalam satu wadah yakni Gabungan Organisasi Wanita (GOW).
GOW pun secara rutin mengadakan pertemuan untuk mencerdaskan anggotanya melalui kegiatan yang bermanfaat. Masalah pendidikan, kesehatan, hukum, ekonomi, dan isu-isu strategis menjadi topik bahasan yang diharapkan dapat membuka dan menambah wawasan anggotanya.
Namun di balik itu, ada catatan khusus yang berkaitan dengan kondisi perempuan di Purworejo. Bupati Yuli Hastuti dalam catatannya di Hari Kartini menyebutkan, di
bidang pendidikan, tercatat sebanyak 6.771 anak usia 7 hingga 18 tahun di Purworejo belum bersekolah.
Selain itu, isu kesehatan ibu juga menjadi perhatian. Yakni dengan angka kematian ibu (AKI) saat melahirkan pada tahun 2025 mencapai 11 kasus. Pada tahun 2026 hingga April 2026 tercatat satu kasus AKI.

“Ini menjadi perhatian serius kita bersama. Saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mendukung pemberdayaan perempuan dan membuka ruang seluas-luasnya bagi mereka untuk belajar, bekerja, dan berkarya,” tegas Bupati.
Di sisi lain, Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) pada Dinas PPPAPMD, Heny Safaryuni mencatat, sepanjang tahun 2025 ada 109 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Purworejo. Rinciannya, 50 kasus terhadap perempuan dan 59 kasus terhadap anak.
Angka tersebut, kata Heny, mengalami kenaikan dibanding waktu sebelumnya. Ia menyebutkan, meningkatnya angka tersebut dipengaruhi oleh semakin terbukanya akses pelaporan. Selain itu juga meningkatnya kesadaran masyarakat khususnya kaum perempuan untuk terbebas dari belenggu ketidakberdayaan.
“Setiap laporan dipastikan ditangani secara serius dengan menjaga kerahasiaan korban. Mayoritas kasus berupa KDRT dan penelantaran anak,” lanjutnya.
Pihaknya pun terus melakukan pencegahan melalui sosialisasi di sekolah, kegiatan parenting, serta kampanye perlindungan perempuan dan anak.
Dalam pesannya, Heny mengajak perempuan untuk mandiri dan produktif agar mampu melindungi keluarga, serta mengimbau generasi muda agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial.
Ditandaskannya, melalui peringatan Hari Kartini, Purworejo berharap nilai-nilai perjuangan Kartini terus diwariskan, sehingga perempuan dapat menjadi pilar kuat dalam mewujudkan masyarakat yang maju, sejahtera, dan berkeadilan menuju Indonesia Emas 2045.
“Peringatan Hari Kartini bukan sekadar seremoni, melainkan momen penghormatan atas perjuangan RA Kartini. Juga meneguhkan tekad upaya melanjutkan perjuangan emansipasi perempuan,” tegasnya. (Dia)



































Comment