PURWOREJO, Pengalaman wisata kini tidak lagi hanya soal pemandangan indah, tetapi juga bagaimana wisatawan diperlakukan sejak pertama kali datang.
Hal inilah yang menjadi fokus utama Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) dalam menyiapkan Borobudur Highland sebagai destinasi unggulan.
Di balik megahnya alam Perbukitan Menoreh, Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) menggelar pelatihan Manajemen Pelayanan Tamu bagi kru De’Loano Glamping, Rabu (22/4/2026).
Hal ini merupakan upaya BPOB mengasah ketulusan dan profesionalisme para kru di garda terdepan. Langkah ini menjadi strategi nyata BPOB untuk memastikan setiap sudut Borobudur Highland siap menyambut tamu dengan standar kelas dunia.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan BPOB, Novita Dwihapsari, menegaskan bahwa senyuman dan kompetensi staf adalah kunci kemenangan sebuah destinasi.
“Hospitality bukan sekadar melayani, tapi menciptakan kesan. Kami ingin tim di lapangan menjadi sosok yang adaptif dan responsif. Lewat tangan-tangan profesional mereka, kita membangun kepercayaan wisatawan,” ujar Novita dengan optimis.

Ia tak menampik adanya tantangan, seperti standar layanan yang belum seragam. Itulah sebabnya pelatihan ini hadir untuk menyentuh aspek krusial yakni cara berkomunikasi yang baik dan seni mengubah keluhan menjadi kepuasan.
Dalam mewujudkan visi tersebut, BPOB menggandeng para pakar dari Sekolah Tinggi Pariwisata AMPTA Yogyakarta. Tujuannya untuk membedah strategi pelayanan dari berbagai sudut pandang.
Mereka adalah Sahlit Sugesti, Setyo Prasiyono Nugroho, dan Dr. I Putu Hesti Duari.
Sahlit Sugesti menekankan bahwa di era wisata yang semakin beragam, tim operasional harus mampu menerjemahkan ekspektasi tamu yang mencari keaslian lokal.
Menurutnya, glamping seperti DeLoano menawarkan kemewahan dalam kesederhanaan alam, sehingga kru dituntut tidak hanya terampil secara teknis, tetapi juga harus mampu menjadi “pemandu cerita” yang memperkenalkan kearifan lokal Menoreh dengan cara yang elegan dan menyentuh hati.
Melengkapi perspektif tersebut, Setyo Prasiyono Nugroho menyoroti pentingnya seni mengelola ketidakpuasan. Ia membekali peserta dengan teknik respon cepat agar setiap keluhan berubah menjadi solusi yang melegakan.
Setyo mengingatkan bahwa satu keluhan yang terabaikan bisa merobek reputasi destinasi. Sementara penanganan yang tulus justru berpotensi mengubah tamu yang kecewa menjadi pengunjung setia yang dengan senang hati merekomendasikan pengalaman mereka kepada kolega. Baginya, kecepatan dalam memberikan solusi adalah bentuk tertinggi dari rasa hormat kepada wisatawan.

Menutup cakrawala pelatihan, Dr. I Putu Hesti Duari membawa para peserta sgar memahami realitas persaingan di layar digital. Ia mengingatkan bahwa wajah Borobudur Highland kini ditentukan oleh jempol para milenial dan Gen-Z di media sosial.
Karena pasar saat ini lebih memercayai penilaian sesama netizen ketimbang janji di brosur iklan. Hesti menekankan bahwa tingkat kepuasan tamu adalah “alat jual” paling organik sekaligus ampuh.
Dengan menjaga performa pelayanan yang luar biasa, setiap tamu secara tidak langsung akan menjadi duta promosi yang menyebarkan pesona Borobudur Highland ke jangkauan yang lebih luas.
Penguatan kapasitas ini menjadi fondasi utama BPOB dalam membangun Borobudur Highland sebagai ikon wisata baru yang berkelanjutan. Kualitas layanan yang konsisten diharapkan mampu menciptakan efek bola salju bagi ekonomi masyarakat sekitar melalui loyalitas wisatawan yang terus kembali.
BPOB berkomitmen untuk terus mendampingi peningkatan kompetensi SDM ini secara berkesinambungan, karena pada akhirnya, kenyamanan sejati wisatawan bermula dari keramahan yang dikelola dengan hati dan profesionalisme tinggi.
Upaya BPOB memperkuat kapasitas SDM ini merupakan investasi jangka panjang bagi Borobudur Highland. Layanan yang konsisten bukan hanya mendatangkan wisatawan kembali, tapi juga menggerakkan roda ekonomi warga sekitar.
Ke depan, BPOB berkomitmen terus mendampingi para pelaku wisata agar kompetensi mereka terus berkembang. Karena bagi BPOB, membangun destinasi bukan hanya soal mendirikan bangunan, tapi merawat keramahan yang menjadi ciri khas. (Ita)



































Comment