KUTOARJO, Meski bukan merupakan sekolah berbasis agama (Islam), namun penguatan nilai religi siswa yang mengacu pada kebiasaan baik untuk berdoa dan bermunajat dalam lantunan tahlil, menjadi kebiasaan yang dilakukan siswa dan guru SMK Institut Indonesia (ii) Kutoarjo setiap hari Jumat. Seperti pada Jumat (30/7/2026) saat ratusan siswa SMK ii bermunajat memanjatkan doa tahlil di halaman indoor sekolah.
Dalam kegiatan tersebut, dengan bersila mereka khusyu melafalkan bacaan tahlil dengan dibimbing guru agama. Setelah selesai melakukan tahlil bersama, mereka pun berinfak melalui kotak yang diedarkan oleh pengurus OSIS.
“Pembiasaan kegiatan ini dilakukan untuk mendoakan arwah guru, karyawan, siswa, dan orang tua/wali yang telah mendahului kita. Selain itu juga untuk mempererat silaturahmi antara warga sekolah,” ungkap Kepala SMK ii, Shinta Kusumastuti, Jumat (30/7/2026).
Tak hanya itu, gerakan tahlil dan sedekah juga merupakan sarana untuk membentuk karakter siswa yang religius, berakhlak mulia, dan berbudi pekerti luhur. Selain juga sebagai wujud nyata menanamkan nilai kepedulian dan rasa empati kepada sesama.
Shinta menambahkan, kegiatan lain di hari Jumat yaitu senam bersama pada mingggu pertama, kerja bakti lingkungan sekolah di minggu kedua, penguatan karakter dari kesiswaan minggu ketiga, dan jalan sehat bersama minggu keempat.
Semua kegiatan itu, lanjutnya, bermuara pada tujuan untuk mewujudkan suasana kekeluargaan antara kepala sekolah, guru, karyawan, dan siswa. Juga menyegarkan badan, hati dan pikiran di awal hari Jumat agar kegiatan belajar mengajar berjalan lancar dan berkah.
Tujuannya lainnya, yakni untuk menjadikan SMK ii sebagai sekolah yang tidak hanya unggul akademik dan keterampilan, tetapi juga kuat jasmani dan spiritualnya. “Jadi tidak hanya bertujuan riligi, tetapi juga sosial, dan pembentukan karakter siswa,” tegas Shinta.
Dirinya meyakini, dengan membentengi siswa melalui kegiatan yang berlandaskan religi, kepedulian sosial, dan empati, para siswa dapat terhindar dari perbuatan atau tingkah laku negatif. Termasuk perundungan dan juga tawuran sesama pelajar yang masih kerap terjadi di lingkungan sekolah dan masyarakat.
“Kami selalu menekankan kepada siswa untuk saling menghormati dan menghargai pertemanan melalui kegiatan yang positif dan saling mengingatkan kepada kebaikan. Alhamdulillah selama ini siswa dapat mematuhi aturan sekolah dan berprestasi melalui bidangnya masing-masing,” pungkasnya. (Dia)



































Comment