PURWOREJO, Di tengah meningkatnya kebutuhan sistem peternakan yang lebih modern, aman, dan berkelanjutan, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IDBU 59 Universitas Diponegoro menghadirkan serangkaian inovasi multidisiplin di Desa Tangkisan, Bayan.
Selama 45 hari pengabdian, kolaborasi tujuh program studi berhasil melahirkan solusi yang tidak hanya menjawab kebutuhan mitra peternak, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat melalui penerapan teknologi tepat guna, peningkatan kualitas produk, penguatan budaya keselamatan kerja, serta pendampingan tata kelola usaha.
Project Manager KKN-T IDBU 59 Universitas Diponegoro (Undip) 2026, Muhammad Khoirul Rozi menjelaskan, inovasi dilakukan berdasarkan potensi Desa Tangkisan sebagai salah satu sentra peternakan ayam petelur. Mahasiswa bersama pemerintah desa dan mitra mengidentifikasi sejumlah tantangan, mulai dari pengelolaan kandang yang masih dilakukan secara manual, sanitasi lingkungan, keselamatan kerja, hingga pemanfaatan potensi lokal yang belum optimal.
“Kondisi tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan program multidisiplin yang melibatkan mahasiswa Program Studi Teknik Elektro, Teknik Listrik Industri, Fisika, Teknologi Pangan, Kesehatan Masyarakat, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), serta Akuntansi dari Unidip,” kata Khoirul Rozi kepada media, Rabu (5/7/2026)
Menùrutnya, tujuan utama program multidisiplin KKN-T IDBU 59 Undip ini adalah terwujudnya Semi-Automatic Poultry House yang dikembangkan oleh mahasiswa Program Studi Teknik Elektro dan Teknik Listrik Industri. “Sistem kandang semi-otomatis ini memadukan pemanfaatan energi baru terbarukan dengan teknologi Internet of Things (IoT) untuk mendukung pengelolaan peternakan unggas yang lebih modern dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sistem ini dilengkapi pembangkit listrik tenaga surya, pemantauan suhu dan kelembapan kandang, sensor gas amonia yang terintegrasi dengan smart exhaust fan, sensor ketinggian air minum ternak, pemantauan kapasitas baterai, hingga master control panel sebagai pusat kendali seluruh perangkat.
Ia melanjutkan, seluruh sistem dirancang untuk membantu peternak memantau kondisi kandang secara lebih mudah sekaligus mendukung lingkungan pemeliharaan yang lebih nyaman bagi ternak. “Sejak awal kami tidak ingin hanya memasang alat, tetapi membangun sebuah sistem yang benar-benar dapat dimanfaatkan oleh mitra secara berkelanjutan,” lanjutnya.
Oleh karena itu, setiap inovasi dirancang saling terintegrasi, mulai dari penyediaan energi, pemantauan kondisi kandang, pengelolaan lingkungan, aspek keselamatan kerja, hingga penguatan tata kelola usaha. Harapannya, seluruh program yang telah kami kembangkan dapat terus dimanfaatkan dan menjadi pijakan bagi pengembangan peternakan di Desa Tangkisan meskipun masa KKN telah berakhir.
Penerapan sistem tersebut turut didukung oleh kajian ilmiah yang dilakukan mahasiswa Program Studi Fisika melalui pengukuran kondisi termal kandang serta evaluasi penggunaan air sebagai dasar penyempurnaan sistem. Pendekatan ini memastikan teknologi yang diterapkan tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga sesuai dengan kondisi nyata di lapangan.

Upaya peningkatan produktivitas peternakan juga dilakukan melalui inovasi mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan yang mengembangkan formulasi pakan berbahan baku lokal menggunakan daun kelor, maggot, dan minyak ikan. Formulasi tersebut diharapkan mampu menghasilkan telur ayam dengan kandungan omega-3 yang lebih tinggi sehingga memberikan nilai tambah sekaligus membuka peluang pasar bagi produk peternakan masyarakat.
Di sisi lain, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat memperkuat aspek sanitasi melalui edukasi mengenai biosekuriti, pengelolaan sanitasi kandang, dan perilaku hidup bersih dan sehat untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit yang berasal dari lingkungan peternakan.
Program ini melengkapi upaya mahasiswa Program Studi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP), memasang safety sign, mengidentifikasi potensi bahaya, serta memberikan edukasi budaya keselamatan kerja kepada mitra.
Penguatan sektor ekonomi juga menjadi perhatian dalam pelaksanaan KKN. Mahasiswa Program Studi Akuntansi mendampingi mitra dalam menyusun analisis kelayakan investasi pembangkit listrik tenaga surya, menghitung biaya operasional peternakan, serta memberikan gambaran mengenai potensi penghematan penggunaan energi dan pengembangan usaha berbasis inovasi.
Menurut Rozi, kekuatan utama program KKN-T IDBU 59 terletak pada sinergi antar-bidang ilmu yang memungkinkan setiap persoalan diselesaikan secara lebih menyeluruh.
“Setiap program studi memiliki keahlian yang saling melengkapi. Ketika seluruh potensi tersebut dipadukan, solusi yang dihasilkan tidak hanya berhenti pada pembangunan teknologi, tetapi juga mencakup aspek kesehatan, keselamatan kerja, kualitas produk, hingga pengelolaan usaha. Kolaborasi inilah yang menjadi nilai utama dari seluruh program yang kami jalankan di Desa Tangkisan,” jelasnya.
Berbagai inovasi yang diterapkan mulai memberikan manfaat bagi mitra, mulai dari kemudahan dalam memantau kondisi kandang, meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya sanitasi dan keselamatan kerja, hingga terbukanya peluang pengembangan produk peternakan bernilai tambah. Lebih dari itu, kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi modal penting untuk melanjutkan berbagai inovasi yang telah dibangun selama masa pengabdian.
Khoirul Rozi menandaskan, Program KKN-T IDBU 59 Undip ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) melalui penerapan inovasi dan penguatan infrastruktur pendukung peternakan, serta SDG 17 (Partnerships for the Goals) melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, mitra peternak, dan masyarakat dalam menghadirkan solusi yang berorientasi pada pembangunan desa yang berkelanjutan. (Dia)








































































Comment