PURWOREJO, Ratusan Siswa SLB Negeri Purworejo mengekspresikan keragaman yang dimiliki Indonesia melalui Parade Budaya Pesona Nusantara. Didampingi guru dan orang tua siswa, mereka mengenakan kostum beraneka ragam berbentuk flora, fauna, kuliner, dan wastra bangsa atau kain tenun Nusantara dalam parade pada Selasa (21/10/2026).
Kepala SLB Negeri Purworejo, Ripto Utomo menjelaskan, Parade Budaya ini diikuti 49 rombongan belajar (rombel) dengan total 213 siswa yang turut menampilkan pesona dan kekayaan budaya Nusantara.
“Mereka mengenakan kostum yang menampilkan harmoni dalam bentuk flora, fauna, kuliner, dan wastra bangsa. Ini menjadi wadah bagi para siswa untuk mengenal, mengapresiasi, dan mengekspresikan keberagaman Indonesia,” kata Ripto.
Selain itu, beragam penampilan dan kreativitas yang ditunjukkan mencerminkan kekayaan identitas bangsa sekaligus menumbuhkan rasa cinta tanah air sejak dini.
Lebih lanjut Kepala SLB Negeri Purworejo mengungkapkan bahwa Parade Budaya merupakan agenda rutin tahunan dan termasuk kegiatan kokurikuler. “Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan siswa tentang ragam budaya dan kuliner yang ada di Nusantara,” imbuhnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para siswa dapat semakin mengenal warisan budaya Indonesia, mengembangkan kreativitas, serta menanamkan nilai kebersamaan, toleransi, dan kebanggaan terhadap keberagaman bangsa.
Ia menegaskan, Parade Budaya ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga menjadi momentum untuk meneguhkan semangat persatuan dalam keberagaman. Menurutnya, dengan mengenal dan melestarikan budaya, generasi muda turut mengambil bagian dalam menjaga kekayaan Indonesia agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Secara kelembagaan, Ripto berharap kegiatan ini bisa menjadi bentuk nyata dari pilar SBI yang baru dideklariasikan. “Karena dalam kegiatan ini ada dimensi kerjasama, disiplin ,sinergi , kolaborasi antar murid, guru, wali murid, dan masyarakat,” lanjutnya.
Selanjutnya ia berharap kegiatan ini akan mendapatkan atensi atau perhatian terhadap keberadaan SLB yang sampai hari ini status tanahnya masih tidak jelas karena tak bertuan dan bersertifikat. “Kami membutuhkan support dan dukungan dari dinas terkait agar kami lebih bisa mengembangkan dari sisi sarana dan prasana,” tandas Ripto Utomo. (Dia)


































Comment