PURWOREJO, Layaknya orang tua paripurna yang masih memikirkan kehidupan anaknya ketika sudah menikah, demikian halnya yang dilakukan kepala SMK Kesehatan Purworejo, Nuryadin. Meski siswanya telah lulus dari SMK Kesehatan, namun selaku kepala sekolah ia masih memikirkan kelanjutan hidup anak didiknya.
“Inilah yang dinamakan kepala sekolah paripurna. Meski sebenarnya tanggung jawab saya sebagai kepala sekolah itu begitu saya tanda tangani ijazah itu sudah selesai. Soal pekerjaan, soal kuliah, melanjutkan itu sudah bukan menjadi tanggung jawab saya. Tetapi saya ingin menjadi kepala sekolah paripurna. Setelah anak-anak luluspun masih saya pikirkan,” kata Nuryadin saat ditemui di SMK Kesehatan pada Selasa (1/9/2026).
Ia menjelaskan, sebagai konsekuensi dari hal tersebut, dirinya mencari informasi tentang tempat kuliah dan bekerja anak didiknya yang baru lepas dari sekolah.
“Saya memikirkan bagaimana dia pasca lulus, bagaimana nyari kerja, bagaimana kuliah. Sekolah juga harus menyediakan tempat-tempat untuk bekerja dan kuliah. Baik itu kuliah yang memang gratis, kuliah yang sambil kerja, juga pekerjaan yang di dalam maupun luar negeri,” jelas Nuryadin.
Hal itu, lanjutnya, merupakan salah satu moto SMK Kesehatan, yakni siswa siswinya akan tetap dan selalu 3 T ; tertib ibadah, tertib belajar, tertib organisasi. Juga anggun akhlaknya, unggul intelektualnya. Kemudian simpatik, menarik, meyakinkan. Sehingga saat lulus, mereka siap kerja, siap kuliah, siap bekerja sampai kuliah.
Ia menambahkan, ini merupakan output dari proses di sekolah. Sekolah pun memberikan sarana, pilihan, serta jalan untuk yang ingin kerja di dalam maupun luar negeri.
Juga bagi lulusan yang ingin kuliah, baik menggunakan program KIP ataupun reguler dan beasiswa, sekolah punya jaringan MoU
dengan perguruan tinggi maupun DUDI
Yakni dengan perusahaan dan LPK untuk siswa yang ingin kerja.

Disediakan pula bagi lulusan yang ingin wirausaha. Sekolah juga mendampingi dengan izin mandatorynya.
Nuryadin menyebutkan, pihaknya sudah melakukan MoU dengan UNY dan juga UMPwr melalui program beasiswa, serta Untidar. “Termasuk dengan perguruan tinggi di Yogyakarta. Karena kebetulan saya kan di forum rektor di Yogyakarta sehingga saya tahu program-program beasiswa yang dimiliki oleh seluruh PTS yang ada di Yogya. Sehingga saya kira nanti kalau kita bisa menjaring sekitar 100 atau 90 PTS di Jogja sudah cukup itu untuk program beasiswa sehingga tidak ada alasan bagi anak-anak kita untuk tidak kuliah,” tegasnya.
Tak hanya itu, menurut Nuryadin, sesuai dengan tagline SMK Bisa, maka setelah lulus, mereka bisa kuliah di jurusan apapun. Misalnya Kurusan Keperawatan bisa masuk ke Sastra Inggris UGM, ke prodi pertanahan. Demikian pula dengan lulusan jurusan Farmasi, bisa kuliah di jurusan Fisika atau Matematika.
Ia berharap, dengan persaingan yang semakin ketat, termasuk berkurangnya lulusan SMP
sementara jumlah SMK jumlah kursi tetap bahkan bertambah.
“SMA Kesehatan Purworejo harus lebih kreatif dan inovatif menciptakan keunggulan-keunggulan yang kita miliki. Sehingga nanti masyarakat itu akan tetap bertahan memilih sekolah kita. Karena memang sekolah kita ini profesional, ditangani dengan serius dan sungguh-sungguh,” kata Nuryadin.
Selain kreatif dan inovatif, SMK Kesehatan Purworejo juga mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki oleh sekolah lain.
“Tentu persaingannya semakin berat. Sehingga sekolah-sekolah yang ingin bertahan, tentu harus lebih serius, kreatif, dan berinovasi. Sebab kalau tidak begitu akan ditinggalkan oleh masyarakat. Karena masyarakat itu pintar dan cerdas kok. Dia bisa memilih sekolah-sekolah mana yang memang itu baik dan profesional. Inilah tantangan kita bersama begitu mengelola SMK, terutama selalu berkreasi dan berinovasi,” pungkas Nuryadin. (Dia)









































































Comment