PURWOREJO, Ratusan pengurus dan takmir masjid, musala, dan pondok pesantren (ponpes) di Purworejo mengikuti bimbingan teknis (bimtek) Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM). Peserta bimtek yang diadakan oleh Bagian Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Setda Purworejo ini diikuti oleh 172 ketua takmir dan pengurus masjid, musala, serta ponpes yang mendapat alokasi dana Hibah Rehabilitasi Sarana dan Prasarana Peribadatan tahun 2026 senilai Rp4,9 miliar dari dana APBD.
Dalam bimtek yang diadakan di pendopo pada Kamis (24/9/2026) tersebut, Kabag Kesra Nur Huda menyampaikan laporan bahwa pelaksanaan bimtek ini merupakan bagian dari perwujudan visi Bupati yaitu Purworejo yang religius. Selain jtu juga sebagai inovasi daerah Bagian Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kabupaten Purworejo dalam melaksanakan pembinaan kehidupan keagamaan serta peningkatan kesejahteraan rakyat.
“Kegiatan ini merupakan upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Yakni pengelola lembaga keagamaan agar mampu menjalankan tugas dan fungsi secara lebih profesional, tansparan, akuntabel, serta mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” kata Nur Huda di hadapan peserta bimtek.
Dirinya merinci tujuan diadakannya bimtek. Pertama, untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas pengurus serta takmir dalam pengelolaan tempat ibadah. Kedua, meningkatkan kemampuan pengelolaan dan pemanfaatan sarana pelaksanaan.
“Selanjutnya, mendorong pengurus masjid, musala, dan ponpes agar semakin aktif dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan. Selain itu juga untuk meningkatkan kemampuan mengurus dan menyusun program kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” lanjut Nur Huda.
Tujuan lain, yakni untuk mendorong pemanfaatan dan teknologi informasi dalam pengelolaan dan pelayanan kepada jemaah serta masyarakat. Serta membangun jejaring serta sinergi antar pengurus masjid, musala, dan ponpes dengan pemerintah dan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, pihaknya berharap terjadi peningkatan kapasitas bagi pengurus dan takmir dalam mengelola masjid, musala, maupun ponpes.

“Selanjutnya, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan dapat diterapkan di masing-masing lembaga sehingga terwujud tata kelola yang lebih tertib, profesional, transparan, dan akuntabel,” imbuh Nur Huda.
Tak hanya itu, ia juga berharap agar masjid, musala, dan ponpes tidak hanya menjadi pusat kegiatan ibadah dan pendidikan agama. Melainkan juga semakin mampu berperan sebagai pusat kegiatan sosial, pembinaan generasi muda, pemberdayaan ekonomi umat, serta penguatan persatuan dan kerukunan masyarakat.
Bupati Yuli Hastuti sebelum membuka acara menyampaikan, bimtek ini penting untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan para pengurus serta takmir dalam mengelola tempat ibadah. Diharapkan dapat menambah semangat dan kenyamanan jamaah secara lebih baik, tertib, dan amanah.
“Bantuan sarana dan prasarana tentu perlu diiringi dengan pengelolaan yang baik. Karena itu, saya berharap para pengurus dan takmir dapat terus meningkatkan kualitas pelayanan kepada jemaah, termasuk dalam manajemen pengelolaan kas infak dan sedekah, agar semakin tertib, transparan, dan memberikan manfaat yang lebih luas,” kata Bupati.
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penyerahan secara simbolis hibah sarana dan prasarana peribadatan serta pondok pesantren. Bantuan tersebut diberikan kepada 87 tempat peribadatan dan pondok pesantren, dengan total nilai sebesar Rp4,9 miliar.
“Saya berharap bantuan ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mendukung kegiatan ibadah, pembinaan keagamaan, serta memberikan manfaat bagi jemaah dan masyarakat,” tutur Bupati.
Dirinya pun mengajak peserta untuk memakmurkan tempat-tempat peribadatan, sehingga kehidupan keagamaan semakin kuat dan masyarakat Purworejo semakin religius, guyub, dan rukun.
Adapun pemateri bimtek yakni Ketua Takmir Masjid Jogokariyan Yogyakarta, KH. Muhammad Jazir yang menyampaikan materi tentang manajemen pengolahan keuangan masjid, termasuk mengembangkan zakat dan infak dari jemaah. (Dia)


































Comment