PURWOREJO, Sebagai upaya pencegahan kekerasan seksual di kalangan remaja, polisi wanita (polwan) di jajaran Polres Purworejo menyelenggarakan kegiatan Polwan Goes to School. Salah satunya digelar di SMPN 6 Purworejo dengan melibatkan Kasi Humas Polres Purworejo AKP Ida Widaastuti bersama enam anggotanya.
Kegiatan yang diadakan dalam rangka HUT ke-78 Polwan Indonesia ini digelar di Ruang Keterampilan pada Rabu (26/8/2026). Bertema menjaga generasi bangsa dari kekerasan seksual, ratusan siswa SMPN 6 Purworejo mengikuti kegiatan yang diadakan jam pelajaran sekolah.
Kasi Humas AKP Ida di awal materinya menyampaikan bahwa kehadirannya di sekolah tersebut dilakukan menjelang HUT Polwan tanggal 1 September mendatang.
Ia memaparkan bahwa siswa SMP memasuki masa remaja dengan ciri sedang mencari jati diri, membangun pertemanan yang solid, dan aktif berekspresi di dunia digital dan media sosial.
“Ada pertemanan sehat dan tidak sehat. Untuk itu, anak-anak perlu melakukan perlindungan baik fisik, digital, dan emosional,” ujar AKP Ida. Salah satunya yakni berani menolak hal-hal yang tidak sesuai norma dan etika dengan cara yang sopan.
Ia pun mengenalkan berbagai bentuk pelecehan dan kekerasan. Meliputi fisik, verbal, psikologis, dan digital. “Pelecehan dan kekerasan fisik misalnya menendang, mendorong, dan memukul. Kekerasan verbal yaitu menghina, memaki, atau memberi sebutan yang menyakitkan,” paparnya.
Adapun kekerasan psikologis berupa ancaman intimidasi dan juga olok-olok . Sedangkan kekerasan digital yakni dengan cara mengirimkan pesan tidak pantas di media sosial atau menyebarkan foto tanpa izin.
Bila siswa mengalami kekerasan tersebut, AKP Ida menyarankan agar mereka menjauh dan bersuara. Kemudian mengamankan bukti serta segera melaporkan.

Dalam hal penggunaan media digital, dirinya mengajarkan anak-anak bisa bersikap bijak dan berhati-hati. “Karena jejak digital itu abadi dan tidak bisa dihapus,” tegasnya.
Tak hanya itu, kekerasan lainnya yakni berupa cyberbullying atau perundungan digital yang dampaknya sama nyatanya dengan pukulan fisik.
Ia mencontohkannya berupa komentar yang menghina, membuat akun palsu untuk mengejek, menyebarkan rumor, atau mengucilkan teman dari grup chat.
“Cyberbullying ini memiliki dampak nyata, diantaranya mericu rasa sedih mendalam, meningkatkan tingkat stres, dan kehilangan rasa percaya diri secara drastis,” ungkap AKP Ida.
Ia pun menegaskan auran main di dunia nyata atau konsekuensi kukum yang dibuat untuk melindungi diri kita, melindungi orang lain, dan menciptakan lingkungan yang nyaman.
“Meskipun masih remaja, tindakan menyimpang tertentu tetap dapat diproses sesuai aturan hukum yang berlaku di Indonesia. Ini masuk kategori pelanggaran hukum berat. Termasuk didalamnya pencemaran nama baik dan penipuan online,” lanjutnya.
Di akhir paparannya, AKP Ida mengajak para siswa agar menjadi remaja yang keren. Yaitu mampu menghormati diri sendiri, menghargai batas orang lain, dan berani bertanggung jawab atas setiap tindakannya.
Terkait dengan kegiatan tersebut, Kepala SMPN 6 Purworejo, Wahyu Kurnia Lestari menjelaskan, pesertanya berasal dari perwakilan kelas 7, 8, dan 9 masing-masing dua kelas. Yakni Kelas 7A, 7B, 8C, 8D, 9E, dan 9F. Jadi sekitar 200 peserta.
Ia berharap agar kegiatan tersebut dapat menambah wawasan pengetahuan anak, sehingga mereka dapat memahami dan mencegah terjadinya kekerasan seksual di sekolah.
“Nanti anak-anak bisa mengetahui dan pencegahan. Untuk selanjutnya ada refleksi buat anak-anak bahwa apa yang sebelumnya telah terjadi, itu tidak boleh dilakukan lagi. Anak-anak juga nanti bisa menularkannya kepada teman yang lain. Karena mereka adalah perwakilan, dari teman-temannya,” jelas Wahyu. (Dia)









































































Comment