KUTOARJO, Festival Literasi Purworejo 2026 tak hanya menghadirkan bazar buku dan berbagai perlombaan. Tahun ini, festival bertema Semarak Literasi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber berkualitas. Salah satunya sejarawan Prof. Peter Carey yang akan hadir dalam seminar Menuju Ingatan Kolektif Nasional membahas Babad Kedung Kebo.
Festival Literasi Purworejo dibuka Wakil Bupati Dion Agasi Setiabudi di halaman Perpustakaan Daerah Kabupaten Purworejo, Jumat (14/8/2026) siang. Hadir dalam kegiatan tersebut Bunda Literasi Purworejo Raja Thifal, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Tengah Rama Nurhayati, serta anggota DPRD Purworejo Timbul Susilo.
Festival digelar selama 11 hari, tanggal 14–24 Agustus 2026, mulai pukul 09.00 WIB. Selain bazar buku Gramedia dan Mizan, kegiatan diisi pameran lukisan, UMKM, pentas seni, talk show, seminar, bimtek, pelatihan smartphone, vokal dan coding, serta berbagai lomba literasi. Panitia menargetkan 3.500 pengunjung.
Terkait seminar yang membahas sejarah nasional di Purworejo, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Stephanus Aan Isa Nugroho mengatakan, Babad Kedung Kebo memiliki nilai histori penting karena memuat kisah Perang Jawa dari perspektif yang berbeda. Pemkab Purworejo mendorong agar naskah tersebut dapat memperoleh pengakuan sebagai bagian dari Warisan Ingatan Kolektif Nasional.
“Purworejo memiliki naskah kuno Babad Kedung Kebo yang menceritakan Perang Jawa dari sudut pandang lain. Karena Babad Diponegoro telah diakui UNESCO sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World), maka sangat strategis bagi kita untuk mendorong Babad Kedung Kebo diangkat menjadi Warisan Ingatan Kolektif Nasional,” terang Aan.

Menurutnya, festival juga menjadi bagian dari upaya bersama mengampanyekan gerakan literasi masyarakat. Ia menyebut, berdasarkan penghitungan Perpusnas, Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Purworejo 2025 berada di angka 9,36 dan masuk kategori rendah, sementara pada 2024 tercatat 78,32.
Perubahan tersebut terjadi karena adanya perbedaan metode penghitungan dari Perpusnas. “Demikian pula Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) yang terkoreksi ke angka 56,83. Oleh karena itu, Festival Literasi ini menjadi upaya bersama untuk mengampanyekan gerakan literasi masyarakat,” ucapnya.
Wakil Bupati Dion Agasi mengatakan, peningkatan minat baca membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, terutama keluarga dan sekolah. Menurutnya, anak-anak saat ini menghadapi tantangan karena lebih mudah tertarik pada konten visual dibandingkan aktivitas membaca yang bersifat statis.
“Ilmu pengetahuan dimulai dari rasa penasaran. Kita tidak bisa memaksa anak-anak kita untuk gemar membaca kalau orang tuanya tidak mencontohkan,” kata Dion.
Festival Literasi Purworejo juga menjadi momentum memperkenalkan inovasi Gemasebuku, atau gerakan membaca satu bulan satu buku yang telah diuji coba di SD Mutiara Ibu dan tahun ini akan direplikasi ke sekolah lain.
Rangkaian kegiatan turut diisi pelantikan 16 Bunda Literasi Kecamatan, penandatanganan kerja sama, pemberian penghargaan, serta berbagai kegiatan yang diharapkan memperkuat budaya literasi di Purworejo. (Ita)









































































Comment