PURWOREJO, Sebagai upaya membangun budaya sekolah yang aman, nyaman, inklusif, dan harmonis, 100 perwakilan siswa SMA/SMK/MA sederajat se-Kabupaten Purworejo mengikuti Workshop Interaktif Bagi Perwakilan Siswa SMA/SMK/MA se-Kabupaten Purworejo. Workshop bertema “Aku Peduli, Sekolah Harmoni: Menjadi Pelopor Budaya Peduli, Saling Menghargai, dan Bertumbuh Bersama” ini digelar di Aula Kantor Disdikbud, Kamis (30/7/2026).
Adapun kegiatan diselenggarakan oleh Pawirosastro Foundation for Law, Justice, and Society Empowerment bekerja sama dengan Paguyuban Alumni SMAN 1 Purworejo atau Muda Ganesha (MG), Disdikbud, serta didukung oleh Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) DPPPAPMD Purworejo.
Workshop ini diselenggarakan melalui penguatan kapasitas kepedulian peserta didik sebagai pelopor sekaligus agen perubahan di lingkungan sekolah. Program ini juga menjadi bagian dari semangat memperingati Hari Anak Nasional Tahun 2026, sekaligus respon terhadap meningkatnya berbagai kasus perundungan dan kekerasan antarsiswa yang masih menjadi tantangan di dunia pendidikan.
Acara dibuka oleh Wakil Ketua Paguyuban Muda Ganesha, Hermawan Wahyu Utomo. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa workshop ini merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap berbagai dinamika sosial yang terjadi di lingkungan pendidikan.
“Bullying dan berbagai bentuk kekerasan di lingkungan sekolah merupakan persoalan yang tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara sekolah, keluarga, pemerintah, organisasi masyarakat, dan terutama para siswa sebagai bagian dari solusi,” kata Hermawan.
Ia berharap peserta workshop ini mampu menjadi pelopor yang menghidupkan budaya saling peduli di sekolah masing-masing.
Adapun Direktur Eksekutif Pawirosastro Foundation, Eka Puspasari menegaskan bahwa program ini dirancang untuk menumbuhkan kesadaran bahwa perubahan budaya sekolah harus dimulai dari para siswa sendiri.
“Kami percaya bahwa sekolah yang aman, ramah, dan harmonis lahir dari budaya saling peduli. Karena itu, melalui workshop ini kami ingin mengajak seluruh siswa di Kabupaten Purworejo untuk saling menghargai, saling mendukung, dan tumbuh bersama sehingga tercipta lingkungan belajar yang nyaman bagi setiap anak,” ungkapnya.
Membekali Siswa Menjadi pelopor dan pelapor,
sesi pertama menghadirkan Kabid PPPA DPPPAPMD, Henny Safaryuni Tataningsih. Ia menyampaikan materi “Bullying pada Anak serta Bagaimana Mekanisme Penanganannya bagi Siswa selaku Pelopor dan Pelapor.”
Diskusi berlangsung sangat interaktif. Banyak peserta mengangkat pengalaman nyata yang mereka jumpai di lingkungan sekolah. Mulai dari bentuk-bentuk perundungan yang sering dianggap sepele, hingga kebingungan mengenai mekanisme pelaporan ketika menyaksikan tindakan kekerasan terhadap teman sebaya.
Melalui sesi ini, peserta memperoleh pemahaman mengenai berbagai bentuk bullying, pentingnya keberanian untuk melapor, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan siswa dalam memberikan dukungan kepada korban tanpa harus bertindak sendiri di luar kewenangannya.
Pada sesi kedua, seluruh peserta dibagi ke dalam sepuluh kelompok yang masing-masing menggunakan nama pahlawan asal Purworejo. Mulai dari Jenderal Achmad Yani, WR. Soepratman, hingga Ki Sarino Mangunpranoto.

Didampingi para fasilitator dari Pawirosastro Foundation, Paguyuban MG, dan Forum Komunikasi Anak Kabupaten Purworejo (Forkare), peserta berdiskusi di area sekitar Kantor Disdikbud maupun kawasan sekitar Kantor Bupati Purworejo.
Setiap kelompok memperoleh ilustrasi kasus yang menggambarkan persoalan nyata yang kerap dihadapi siswa, baik di sekolah maupun di rumah. Melalui pendekatan reflektif, peserta diajak menganalisis apa yang sebenarnya terjadi, memahami sudut pandang setiap tokoh dalam kasus tersebut.
Selain itu juga mengidentifikasi nilai-nilai yang belum diterapkan, merumuskan solusi yang tepat, menentukan tindakan yang akan dilakukan apabila berada pada posisi tersebut, hingga menyusun kalimat reflektif sebagai bentuk pembelajaran.
Pada sesi penutup, peserta mengikuti materi reflektif bersama Abdul Wahab (Kak Awe), seorang pemerhati anak sekaligus pendongeng nasional.
Dalam suasana yang hangat dan menyentuh, peserta diajak merefleksikan pentingnya kepedulian antarsesama sebagai fondasi utama terciptanya sekolah yang inklusif, damai, dan ramah anak.
Momentum refleksi tersebut kemudian dilanjutkan dengan penyematan pin Pelopor Budaya Peduli kepada seluruh peserta sebagai simbol komitmen bahwa mereka akan menjadi agen perubahan di sekolah masing-masing.
Komitmen tersebut tidak berhenti pada kegiatan workshop semata. Para peserta diharapkan mengintegrasikan nilai-nilai budaya saling peduli ke dalam berbagai program OSIS maupun kegiatan sekolah lainnya.
Sebagai bentuk keberlanjutan program, Pawirosastro Foundation bersama para mitra akan melakukan pendampingan, pemantauan, dan monitoring selama enam bulan ke depan untuk melihat implementasi komitmen tersebut di masing-masing sekolah.
Sebagai puncak kegiatan, seluruh peserta secara bersama-sama membacakan dan menandatangani Deklarasi Siswa SMA/SMK/MA se-Kabupaten Purworejo bertajuk “Aku Peduli, Sekolah Harmoni: Menjadi Pelopor Budaya Peduli, Saling Menghargai, dan Bertumbuh Bersama.”
Melalui deklarasi tersebut, para peserta berkomitmen untuk menjadi pelopor budaya saling peduli, menolak segala bentuk kekerasan, perundungan, diskriminasi, dan intoleransi, berani bertindak ketika menemukan tindakan kekerasan terhadap sesama siswa, menghargai keberagaman, serta bersama-sama mewujudkan sekolah yang damai, inklusif, ramah anak, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
Deklarasi tersebut menjadi simbol lahirnya gerakan bersama yang menempatkan siswa bukan hanya sebagai penerima manfaat perlindungan, tetapi juga sebagai aktor utama dalam membangun budaya sekolah yang lebih sehat, aman, dan bermartabat.
Melalui workshop ini diharapkan akan lahir semakin banyak pelopor muda di setiap sekolah yang mampu menularkan nilai kepedulian, empati, dan penghormatan terhadap sesama. (Dia)



































Comment