WONOSOBO, Paragliding Culture Festival 2026 yang digelar di Desa Lengkong, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo, pada Sabtu dan Minggu (25–26/7/2026) menghadirkan pemandangan yang tak biasa. Di tengah puluhan penerbang dari berbagai daerah yang memeriahkan rangkaian Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-201, seorang remaja asal Kabupaten Purworejo tampil mencuri perhatian dengan mengenakan busana Tari Dolalak sebelum mengudara.
Remaja tersebut adalah Embun Alifaturrenaisan (16), pilot paralayang perempuan pertama dan satu-satunya yang berasal dari Kabupaten Purworejo. Tidak hanya mengenakan kostum khas Dolalak, Embun juga menampilkan tarian tradisional tersebut di hadapan dewan juri sebelum lepas landas membawa identitas budaya Purworejo ke angkasa.
Keikutsertaannya dalam festival ini menjadi pengalaman istimewa. Selain menjadi kesempatan pertama terbang di lokasi tersebut, festival ini juga menjadi penampilan perdana setelah menyelesaikan pendidikan sekolah paralayang di Glide and Fly Yogyakarta bersama instruktur Capung Indrawan.
“Seru sih, senang bisa terbang dengan pakaian Dolalak, tarian kebanggaan warga Purworejo, bisa membawa seni adat budaya asli Purworejo. Saya juga belum pernah terbang di sini, jadi ini pengalaman yang luar biasa buat saya,” ujar pemilik nomor lisensi pilot PG04568.
Perjalanan Embun menekuni olahraga dirgantara berawal dari rasa ingin tahu. Saat melihat para siswa Glide and Fly menjalani latihan ground handling di Pantai Ketawang, Kecamatan Grabag, minatnya terhadap paralayang mulai tumbuh. Ketertarikan itu kemudian diwujudkan dengan mengikuti latihan bersama Capung Indrawan hingga akhirnya berhasil melakukan penerbangan pertamanya dari Take Off Level 1 Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri.
Kemampuannya terus diasah melalui latihan rutin di Bukit Paralayang Watugupit, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terutama ketika musim angin barat daya. Untuk memperoleh lisensi, Embun harus melalui tahapan yang tidak mudah, mulai dari mengikuti ujian teori di Wonogiri, praktik terbang dari Puncak Joglo Wonogiri, hingga memenuhi persyaratan sedikitnya 40 kali penerbangan di tiga lokasi berbeda.
Seluruh proses tersebut berbuah manis setelah Federasi Aerosport Indonesia (FAI) resmi menerbitkan lisensi PL1 atas namanya.

“Saya kemudian rutin latihan di Girisembung, Kalibawang, Kulon Progo bersama para senior. Kebetulan idola saya, Teh Liz Adriana, juara dunia paralayang perempuan Indonesia, juga terbang di sana sebagai tandem master. Banyak senior dari TNI AU dan atlet nasional lainnya, jadi banyak sekali ilmu yang saya dapat,” katanya.
Keikutsertaannya dalam Paragliding Culture Festival 2026 berawal dari informasi yang disampaikan sang ayah. Meski festival tersebut bukan merupakan kompetisi ketepatan mendarat yang menjadi bidang yang ingin ia tekuni, Embun tetap antusias mengikuti kegiatan tersebut.
Kesempatan mengenakan pakaian adat yang diberikan panitia pun dimanfaatkannya untuk memperkenalkan budaya daerah asal. Tanpa ragu ia memilih kostum Tari Dolalak, tarian tradisional yang telah dikenalnya sejak kecil karena pernah belajar menari.
“Kata panitia boleh mengenakan pakaian adat asal, akhirnya saya pakai pakaian Dolalak. Saya kebetulan juga suka menari dulu, jadi tanpa latihan saya masih ingat gerakan-gerakannya. Seru sih bisa mengenalkan Dolalak di Wonosobo,” tutur siswi kelas X SMA Negeri 7 Purworejo tersebut.
Di balik usianya yang masih muda, Embun memiliki cita-cita menjadi atlet paralayang perempuan berprestasi. Ia ingin mengikuti jejak para senior sekaligus membuktikan bahwa olahraga dirgantara dapat ditekuni siapa saja, termasuk perempuan, selama memiliki kedisiplinan dan komitmen terhadap keselamatan.
Nilai tersebut selalu ia pegang dari pesan sang instruktur, Capung Indrawan.
“Pakde Capung selalu bilang, paralayang itu butuh disiplin tinggi dan ketenangan. Harus mengikuti SOP untuk zero accident. Kita bermain di luar habitat kita, di udara, sama seperti orang menyelam di air. Syaratnya cuma satu, fokus, disiplin, terus belajar, insya Allah aman. Saya dulu juga takut ketinggian. Kata Pakde, itu justru bagus, karena kalau terlalu percaya diri dan tidak takut ketinggian malah bisa berbahaya dan melanggar SOP,” pungkasnya.
Melalui penampilannya di langit Wonosobo, Embun tidak hanya menerbangkan selembar sayap kain. Ia juga mengangkat nama Purworejo, memperkenalkan Tari Dolalak kepada masyarakat luas, sekaligus menunjukkan bahwa keberanian, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap budaya dapat terbang berdampingan di angkasa. (Ita)


































Comment