PURWOREJO, Kondisi saat ini khususnya di wilayah Indonesia berdasarkan prakiraan BMKG, mengalami kemarau yang lebih kering dari biasanya. Kemarau pun diperkirakan lebih panjang dari biasanya atau disebut sebagai fenomena El Nino.
Akibatnya ketersediaan di sumber-sumber air untuk irigasi sudah mengalami penurunan yang sangat signifikan sejak awal Juni sampai akhir Juli ini. Bahkan kondisi terakhir di Sungai Bogowonto mengalami kondisi debit air yang sangat kecil sekali di dasarian yang ketiga bulan Juli.
“Terpantau di Bendung Boro itu debitnya tinggal 397 liter per detik. Sangat jauh dibanding saat normal sekitar 6.000 liter per detik. Sedangkan di Kedung Putri dari aliran Sungai Bogowonto per tanggal 24 Juli tinggal 1.444 liter per detik. Sehingga perlu diantisipasi bersama,” kata Kadin PUPR Eko Paskiyanto melalui Kabid Sumber Daya Air Dinas PUPR, Dwi Rahmanto.
Menghadapi kondisi tersebut pihaknya menyatakan agar para petani di Purworejo
siaga dan bijak menghadapi di musim kemarau. Koordinasi dengan petugas penyuluh pertanian pun ditingkatkan, termasuk pemantauan ketat terhadap penggunaan air.
“Artinya pada saat sekarang ini kan ada beberapa wilayah yang musim tanam atau MT 2 padinya itu belum selesai. Kemudian tata kelola pengaturan airnya pun kita harus sesuai dengan prosedur,” jelas Dwi saat ditemui di Kantor Dinas PUPR, Senin (27/7/2026).
Dengan kata lain ketika ketersediaan air kurang dari yang dibutuhkan, maka harus diatur sehingga air tersebut bisa memfasilitasi atau melayani untuk penyelamatan tanaman. Menurut Dwi, saat ini difokuskan pada penyelamatan tanaman di MT 2 yang harus tuntaskan sampai masa panen.
Ia menjelaskan, saat ini masih ada beberapa wilayah yang belum menyelesaikan panen atau masih membutuhkan air, sehingga diatur perairannya. Adapun aliran air Kedung Putri diatur ketat oleh UPT masing-masing. Hal itu karena saluran air di Kedung Putri dan Bendung Boro berada di bawah pengelolaan juga dari unit pengelola irigasi.
“Kami mengkoordinasikan di tingkat kabupaten, bersama-sama dengan pengelola irigasi Bendung Boro dan Kedung Putri agar bisa difokuskan kepada penyelamatan tanaman MT 2,” imbuhnya.
Pihaknya berharap dapat menyelesaikan pelayanan air di MT2 dengan maksimal. Meskipun terdapat keterbatasan air yang hanya tinggal 50% dari dari kebutuhan, maka akan diatur dengan sistem skala besarnya dropping yang fokus pada area yang mungkin sudah krisis air.

Koordinasi dengan penyuluh pertanian pun gencar dilakukan, karena ternyata ada beberapa petani yang memang semangat menanam atau masuk MT 3. “Artinya di situ sebenarnya kita perlu sepahamkan bersama antara petani dengan ketersediaan air di musim kemarau ini,” jelas Dwi.
Karena ketersediaannya tidak cukup sampai untuk tanam MT 3, maka pola tanamnya adalah padi-padi-palawija. Jadi MT 3-nya tidak padi melainkan palawija yang membutuhkan sedikit air, hanya butuh siraman. Sehingga nanti harapannya tidak terjadi gagal panen.
Adapun yang sudah terlanjur tanam MP3, seperti di Ngombol dan Purwodadi, dari penyuluh menyampaikan permohonan untuk dropping air ataupun pengaturan air untuk 1.200 hektare.
Secara normal masa pertumbuhan 1 airnya ketika olah tanah di lahannya itu 1,25 L per detik per hetarenya. Sehingga membutuhkan debit sekitar 1.600-an liter per detik. Padahal yang ada di Bendung Boro hanya 300-an liter per detik.
Sehingga pihaknya memprioritaskan yang akan panen lebih dahulu.
“Kita harus menyepahamkan dengan petani sendiri dan penyuluh bahwa tahun ini kemaraunya panjang dan juga kering dari biasanya. Itu perlu diantisipasi dan kita menyarankan kalau sudah yang tanam agar menyediakan air secara mandiri. Jadi tidak mengandalkan dari irigasi karena ketersediaan air sudah minim. Sehingga nanti mengupayakan secara mandiri bisa menggunakan drainase yang sudah di daerah areal hilir,” jelasnya.
Hal ini dilakukan agar petani tidak rugi, disamping itu juga memanfaatkan sumber-sumber yang sudah ada seperti bantuan dari dinas pertanian maupun sumber alam yang ramah lingkungan. Jadi penggunaannya tidak boleh menggunaakan air tanah secara berlebihan karena juga untuk kebutuhan air minum masyarakat sekitar.
Dengan kata lain, program pertanian ini perlu disinkronkan lagi kaitannya dengan tanah dari pertanian ini perlu perlu dikaji ulang secara selektif.
Mengacu pada pedoman penanaman padi-padi- palawija, nanti bisa mengambil jenis tanaman sesuai arahan PPL yang mengkaji di wilayahnya. Misalnya jagung, kedelai, atau cabai yang tidak membutuhkan air sebanyak tanaman padi.
Pihaknya berharap bisa terus meningkatkan koordinasi dengan penyuluh pertanian agar air yang ada bisa maksimalkan. “Meskipun perlu mensosialisasikan kepada petani, bersama-sama penyuluh bahwa kita harus paham terhadap musim penghujan dan kemarau,” imbuhnya.
Jadi jenis tanaman dan waktu menanamnya itu ketika dari MT 1, MT 2 dan MT 3 ditepati jadwal tanam yang sudah diatur dan dibahas. Terutama pembahasannya pada saat sidang komisi irigasi yang akan mempertemukan seluruh pihak antara pengelola irigasi dan juga petani pemakai air.
Selanjutnya sepakat merencanakan pola tanam dan rencana tatap tanam tahunan. Program tersebut agar bisa dipatuhi bersama oleh petani dan pengelola irigasi di dalam pengalokasian airnya. “Supaya nanti saat menempati jadwal tanam, seperti dimulai dari MT 1 ketika ada hujan, pengairannya harus serentak tanamnya, sampai dengan MT 2 juga tepat sehingga MT 1 dan MT 2 bisa berhasil,” tandasnya. (Dia)



































Comment