PURWOREJO, Musim hujan yang belum berlalu membuat kekhawatiran tersendiri terutama untuk kondisi Mini Zoo. Ya, musim hujan dengan intensitas tinggilah yang menjadi awal petaka rusaknya bangunan di seputar Mini Zoo; sebuah proyek yang telah menghabiskan anggaran sebesar Rp9,5 miliar.
Saat ditinjau oleh Sekda Suranto beserta jajaran dinas terkait pada Selasa (28/4/2026) hampir seluruh bangunan di area Mini Zoo sudah dalam kondisi rusak. Di bagian barat, tiga bangunan yakni gudang peralatan, masjid, dan toilet mengalami rusak parah.
Bahkan bangunan mushola pun roboh tak berbentuk. Bagian dinding dan atapnya yang terbuat dari material baja ringan berserakan. Termasuk pecahan kaca pada bagian pintu dan jendela mushola. Demikian pula toilet yang telah rata dengan tanah.
Sedangkan dua bangunan lain yang sejajar dengan mushola dan toilet, yakni gudang pakan dan peralatan, sudah dalam kondisi retak bahkan amblas dan miring.
Di bagian tangga menuju bangunan utama yakni sangkar raksasa, pada sisi kiri sudah miring. Tangga yang terbuat dari semen itupun ditumbuhi rumput liar. Sisi bagian atas bangunan, juga banyak mengalami retak termasuk pada tembok penahan sangkar raksasa.

Tak hanya itu, kandang kelinci di sisi utara bagian atas pun roboh. Bagian atapnya yang menghujam ke tanah masih dibiarkan di tempat semula.
Dsri sekian properti yang ada di Mini Zoo, hanya lampu taman yang masih tegak berdiri di beberapa sudut bangunan.
Salah satu petugas Satpam yang sedang berjaga saat Sekda melakukan peninjauan, Ramadhan (24), menuturkan asal mula runtuhnya bangunan – bangunan yang ada di Kompleks Mini Zoo tersebut.
Ia menceritakan, saat dirinya pertama kali bertugas pada bulan Desember 2024, kondisi bangunan masih aman. Namun memasuki tahun 2025, saat hujan deras terjadi, bagian atas mulai longsor pada malam hari.
“Bunyinya seperti suara gemuruh begitu,” katanya. Peristiwa itu terjadi saat pergantian shift yakni sekitar pukul 19.00, di waktu hujan deras terjadi. “Tapi saya tidak ingat tanggal dan bulan terjadinya. Seingat saya sekitar awal tahun 2025,” ucapnya.

Longsor itupun, menurut Ramadhan yang digaji standar UMR, tidak hanya terjadi dalam sehari. Di waktu berikutnya, kandang kelinci yang juga terletak di bagian atas ikut tergerus air dan akhirnya roboh.
Seiring dengan berjalannya waktu dan curah hujan yang makin tinggi, akhirnya beberapa bangunan yang berada di bawah pun tak kuasa menahan beban erosi tanah. Hingga pada akhirnya, menurut penuturan Ramadhan, bangunan mushola dan lainnya ikut roboh pada tahun 2026 ini.
Kini, area seluas 1,3 hektare itu hanya menyisakan bagian bangunan depan yang digunakan untuk pos satpam dan menerima kunjungan dari pihak internal. Proyek inipun mangkrak hingga jangka waktu yang belum bisa ditentukan.
Selaku Sekda, Suranto pun berkeinginan untuk mencegah longsor hingga ke area irigasi dan pemukiman warga. Namun hal itu bukanlah hal yang mudah dan murah. Mengingat kondisi tanah yang sudah longsor “berkumpul” di bagian bawah dan mengandung air.
“Upaya ini kami tegaskan, bukan untuk menyelamatkan aset Mini Zoo, melainkan untuk mengamankan fasilitas umum yang berada di bawahnya,” tegas Suranto. (Dia)



































Comment