PURWOREJO, Kepala SMPN 2 Purworejo, Prastowo Widagdo tengah bersiap-siap memberikan program unggulan untuk siswa siswinya. Diantaranya melalui metode pembelajaran Flipped Cassroom atau Kelas Terbalik. Yakni model pembelajaran di mana siswa mempelajari materi dasar terlebih dahulu di rumah melalui video atau bacaan. Waktu tatap muka di kelas kemudian difokuskan untuk diskusi aktif, pengerjaan tugas, dan pemecahan masalah bersama guru dan teman.
“Dengan adanya metode ini, nantinya tidak ada lagi PR dan kerja kelompok atau kerkom di luar jam sekolah. Selain itu juga orang tua tidak perlu pusing mengajari anaknya belajar di rumah,” kata Prastowo saat ditemui di ruang kepala sekolah, Rabu (3/6/2026).
Melalui metode ini, lanjut Prastowo yang pernah menjadi Guru Berprestasi ini, siswa datang ke sekolah untuk berdiskusi dan kerja kelompok di kelas. Hal ini siswa betul-betul belajar sekolah dengan didampingi guru.
Prastowo menambahkan, motode Flipped Cassroom ini dapat berjalan dengan baik jika menggunakan Learning Managemen System (LMS), yakni semua materi ajar akan dapat diakses oleh siswa dan guru.
Untuk mendukung program tersebut, sekolah telah menyiapkan wifi disekolah untuk pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, meski tidak diharuskan, semua siswa diharapkan punya laptop atau ipad sebagai sarana belajar di sekolah atau di rumah.
Penggunaan HP untuk kegiatan tersebut, menurut Prastowo, tidak direkomendasikan. Disamping karena terlalu kecil, juga berpotensi mengakibatkan gangguan kesehatan mata dan postur tubuh yang buruk akibat posisi membungkuk.
Selain Flipped Cassroom, Prastowo juga berencana menjalankan program block system. Yakni dalam sehari hanya ada dua mata pelajaran (mapel) agar siswa fokus.

“Jadi misalnya pelajaran IPA, maka pembelajaran IPA dalam satu hari selama lima jam pelajaran. Atau pelajaran Bahasa Indonesia enam jam dalam satu kali pertemuan. Diharapkan pembahasan akan tuntas dalam satu kali pertemuan sehingga pembelajaran akan lebih mendalam atau deep learning,” jelas Prastowo.
Terkait rencana pelaksanaan program tersebut, pihaknya akan melakukan tindak lanjut berupa pembekalan kepada para guru dalam bentuk in house training (IHT) yang akan digelar tanggal 1 dan 2 Juli di Joglo Noloprayan.
Tak hanya itu. Prastowo pun ingin membawa siswa SMPN 2 yang memiliki kemampuan untuk mengikuti program pertukaran siswa (student exchange), baik ke dalam maupun luar negeri. Ia menyebutkan, sekolah dalam negeri yang dituju adalah Labschool. Sedangkan negara tujuan student exchange yakni Korea Selatan atau negara lain yang ada program tersebut.
“Tujuannya adalah untuk mengenal budaya setempat dan mengadopI hal-hal baik di sana, sesuai dengan visi sekolah yaitu berwawasan global,” ujar Prastowo.
Semua program tersebut menurut Prastowo akan dilakukan paling tidak mulai semester awal tahun ini. Selain itu seluruh rencana program sudah dibahas dengan guru dan dikonsultasikan dengan Koordinator Pengawas SMP Kabupaten Purworejo, Sunaryo dan dikomukasikan dengan komite sekolah.
Prastowo menadaskan bahwa program-program tersebut belum pernah diterapkan di Purworejo. Ia berharap dapat segera direalisasikan sebagai upaya mendukung program pemerintah pusat di bidang pendidikan yaitu Transformasi Pendidikan.
“SMPN 2 sebagai sekolah unggulan harus berani melakukan langkah-langkah inovatif dan kreatif agar lulusannya semakin unggul dan berdaya saing,” pungkasnya .(Dia)



































Comment