PURWOREJO, Sebagai upaya mendukung transformasi digital di era Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity atau VUCA, seluruh guru dan tenaga kependidikan, termasuk kepala SMPN 2 Purworejo, Prastowo Widagdo, mengikuti kegiatan in house training (IHT) selama dua hari, Rabu dan Kamis (1-2/7/2026).
Agar materi IHT dapat terserap secara maksimal, kegiatan dilakukan di luar sekolah pada dua lokasi yang berbeda. Yakni di Joglo Nolopranan Desa Pacekelan Kaligesing pada hari Rabu, dan di Heroes Park, Kamis.
Di hari pertama, seluruh peserta mendapatkan materi tentang konsep Flipped Classroom yang mendukung transformasi digital di era VUCA. Dengan menghadirkan pemateri dari luar secara zoom, yakni Kepala SMPN 3 Surakarta, Kucisti Ike Retnaningtyas Suryo Putro. Juga Kadisdikbud ,Yudhie Agung Prihatno dan Koordinator Pengawas SMP Disdikbud, Sunaryo.
Di sela kegiatan, kepada media Prastowo menjelaskan, IHT ini bertujuan untuk menyiapkan rencana SMPN 2 ke depannya. Baik dari sisi kurikulum, kesiswaan, sarpras, maupun humas. “Semua bidang menyampaikan presentasi rencana kegiatannya,” ujar Prastowo saat ditemui di Joglo Nolopranan, Rabu (1/7/2026).
Ia mengungkapkan alasan dipilihnya kepala SMPN 3 Surakarta sebagai narasumber. “Sekolah ini kan sudah go internasional, termasuk dengan menerapkan flipped classroom. Sehingga kita pun ingin nantinya SMPN 2 ini bukan lagi mengejar prestasi level kabupaten maupun provinsi, tetapi sudah internasional,” tutur Prastowo.
Dengan kata lain, SMP negeri tapi prestasinya luar negeri. Selain itu juga diharapkan nantinya SMPN 2 dapat dijadikan sebagai model dan contoh di Purworejo. Hal itu karena menurutnya, di Purworejo belum ada sekolah yang menerapkan sistem tersebut.
Lebih lanjut Prastowo menjelaskan, sesuai tema, saat ini dunia sedang menghadapi volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity atau VUCA. Yakni era yang bergejolak, adanya ketidakpastian, kompleksitas, dan ambigu.
“Di era VUCA saat ini, semua siswa SMPN 2 harus menguasai literasi digital dengan blended learning atau metode pendidikan yang menggabungkan pembelajaran tatap muka (offline) dengan pembelajaran digital secara daring (online),” jelas Prastowo.
Sistem online dilakukan di rumah, yakni siswa mempelajari materi yang akan disampaikan di sekolah sebagai basic knowledge. Kemudian di sekolah siswa menggunakan sistem offline dengan berdiskusi dan mengerjakan tugas bersama temannya secara kolaborasi.
“Dengan Flipped Classroom ini nantinya tidak ada lagi PR, karena semua tugas dikerjakan siswa di sekolah dengan didampingi guru. Juga tidak ada lagi kerja kelompok atau kerkom yang menyita waktu di rumah, karena pelajaran didiskusikan bersama-sama di sekolah,” tegas Prastowo.

Adapun kegiatan retret yang dilaksanakan para peserta IHT di Heroes Park, bertujuan untuk meningkatkan kedisiplinan dengan pemateri dari Koramil Purworejo. “Kalau disiplin kuat maka program akan bisa terlaksana sesuai rencana,” imbuhnya.
Dirinya berharap semua kegiatan yang telah direncanakan bisa dilaksanakan. Selanjutnya SMPN 2 dapat menjadi sekolah digital dan menjadi contoh sekolah lain, yakni mengajar sesuai dengan zamannya.
Kadisdikbud saat membuka kegiatan IHT di Joglo Noloprayan menyampaikan apresiasi kepada SMPN 2. Tema yang diangkat menurutnya menarik, yakni tentang digitalisasi pembelajaran. Tujuannya agar para siswa dan guru siap menghadapi tantangan di era yang penuh dengan gejolak, ketidakpastian, kompleks, dan ambigu.
Dirinya berharap agar hasilnya bisa diimplementasikan dan dievaluasi pelaksanaannya. Sehingga dapat meningkatkan prestasi, termasuk juga bisa ditiru sekolah lainnya di Kabupaten Purworejo.
Menurutnya, kompetensi guru tidak hanya tanggungjawab pemerintah saja, melainkan juga sekolah, termasuk individu guru. Terutama yang sudah bersertifikasi juga harus selalu meningkatkan kompetensinya.
“Ini merupakan salah satu harapan kepada semua sekolah untuk memanfaatkan libur sekolah seoptimal mungkin. Karena salah satu kunci meningkatkan kualitas pendidikan adalah dengan meningkatkan kompetensi guru,” ujarnya.
Adapun ketua komite SMPN 2 melalui Ketua Bidang Pengembangan Sarpras dan SDM, Wahidin menyatakan, pihaknya mendukung setiap langkah perbaikan baik internal maupun eksternal.
“Kegiatan IHT yang diambil kepala sekolah dengan didukung oleh tim manajemen dan guru ini tentu saja adalah langkah-langkah kemajuan SMPN 2 ke depan. Tentu saja, kita tidak bisa diam dan stagnan agar tidak tergilas,” ujar Wahidin.
Ia juga mendukung orientasi sekolah agar berprestasi tidak hanya nasional tetapi internasional, seperti yang sudah diukir beberapa waktu sebelumnya.
“Dengan adanya era VUCA ini, maka literasi digital menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya di SMP 2 Purworejo,” tandas Wahidin. (Dia)



































Comment