PURWOREJO, Tahun 2026 ini, beberapa SMP negeri di Purworejo mengalami penurunan jumlah penerimaan murid yang cukup drastis. Bahkan ada SMP negeri di Purworejo yang kekurangan murid hingga hampir mencapai tiga rombongan belajar (rombel).
Terkait dengan fenomena tersebut, Kadisdikbud Purworejo, Yudhie Agung Prihatno menyampaikan data dan fakta. Ditemui di ruang kerjanya pada Rabu (1/7/2026) sore, Yudhie menjelaskan, tahun ini jumlah lulusan SD dan daya tampung SMP mengalami gap yang cukup lebar.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data, jumlah total lulusan SD dan MI mencapai 10.595 murid. Sedangkan daya tampung SMP dan M.Ts secara keseluruhan mencapai 12.735 murid. “Artinya antara jumlah lulusan SD dan daya tampung SMP ada gap sebanyak 2.140,” jelas Yudhie.
Dari jumlah tersebut, daya tampung SMP negeri sebanyak 7.807. Namun hanya terpenuhi 7.128, sehingga ada kekurangan 641 murid yang tersebar di beberapa SMP negeri di Kabupaten Purworejo.
Menurut Yudhie, ini merupakan bagian dari fenomena yang harus diterima karena kondisinya memang seperti itu. Yakni pada tahun ini jumlah lulusan SD menurun dari tahun sebelumnya.
Ia mencontohkan, di Kecamatan Grabag ada sekitar 500 murid lulusan SD, sedangkan daya tampung SMP negeri sekitar 700-an. Sehingga ada gap sekitar 200 murid yang tidak terisi di tingkat SMP.
Faktor lainnya, menurut Yudhie, juga karena ada juga yang melanjutkan sekolah ke luar Purworejo dan bahkan mungkin yang masuk ke pondok pesantren (ponpes). Namun ia berharap
tidak ada yang disebabkan karena putus sekolah.
“Pada prinsipnya kami membandingkan dengan proses efisiensi proses belajar, termasuk beban keuangan dan sebagainya. Kalau memang memungkinkan ada pengurangan rombel, maka akan menjadi solusi adanya kekurangan guru di Purworejo. Yakni dengan mendistribusikan ke sekolah yang kekurangan guru,” jelas Yudhie.

Ia juga menyampaikan bahwa kapasitas satu rombel sesuai dengan aturan di masing-masing data pokok pendidikan (dapodik) secara umum sejumlah 32 murid. Apabila ada 60 murid maka konsekuensi harus dua rombel. Demikian pula bila jumlah yang masuk ada 35 murid maka juga tetap harus dua rombel.
Hal itu karena bila dipaksakan satu rombel tidak sesuai dengan pelaporan pada dapodik. “Jadi mau muridnya 60 atau 35 ya tetap harus dua rombel. Termasuk bila kurang dari 32 murid juga harus tetap satu rombel,” jelas Kadisdikbud.
Lebih lanjut Yudhie menyebutkan beberapa sekolah pinggiran di Purworejo yang masih kurang jumlah muridnya. Berdasarkan data sementara hingga Rabu (1/7/2026) sore, masih ada beberapa sekolah terutama yang berada di pinggiran, masih kekurangan murid cukup signifikan.
Seperti SMPN 13, masih kurang 50 murid dari daya tampung 224, yang daftar ulang 174. Kemudian SMPN 24 masih kurang 40 murid. SMPN 26 kurang 53 murid, SMPN 30 kurang 81 murid. SMPN 35 juga baru 23 murid yang daftar ulang dari kapasitas tahun lalu dua rombel.
Yudhie kembali menegaskan, untuk sekolah yang masih kurang muridnya harus legowo karena memang seperti itu faktanya. Yakni dengan adanya gap antara jumlah lulusan SD dengan daya tampung SMP negeri.
Ia pun mengimbau agar sekolah punya terobosan terkait potensi dan juga beberapa yang harus dibenahi serta dibranding ulang.
Termasuk saat penerimaan mungkin ada beasiswa atau insentif untuk anak. “Pada prinsipnya jumlah berapapun siswa yang masuk harus dioptimalkan dan harus tetap berprestasi,” pesannya.
Meski demikian, Yudhie belum menganggap pembatasan rombel pada masing-masing sekolah sebagai hal yang urgen untuk dilakukan. Hanya saja nantinya dibutuhkan pemetaan terkait letak geografis dan jangkauan masyarakat.
Selain itu dengan kondisi seperti ini menurutnya, bisa jadi di sekolah tersebut memang hanya sejumlah itu rombel yang dibutuhkan untuk masa berikutnya. “Jadi ini bisa jadi bahan evaluasi. Termasuk letak geografis yang harus dipertimbangkan, terutama di daerah pinggiran dan perbatasan wilayah dengan kecamatan lainnya,” tandas Yudhie. (Dia)



































Comment