PURWOREJO, Jejak sejarah citarasa makanan serta masakan kuno yang ada di Kabupaten Purworejo menjadi topik bahasan seminar gastronomi. Seminar ini merupakan rangkaian kegiatan Festival Literasi yang diadakan oleh Dinpusip Purworejo.
Dua narasumber yang kompeten di bidangnya dihadirkan dalam seminar di Aula Dinpusip pada Selasa (18/8/2026) ini. Keduanya yakni Dr. Sudibyo Prawiroatmodjo, sejarawan Pangarsa Kearsipan Kadipaten Pakualaman serta Sumartoyo, aktivis Komunitas Gastronomi Indonesia.
Kadinpusip Stephanus Aan Isa Nugroho menjadi moderator dalam seminar yang diikuti peserta dari berbagai unsur. Diantaranya pelaku usaha, akademisi, tokoh masyarakat, dan OPD terkait.
Pada kesempatan pertama, Sudibyo membahas gastronomi berdasarkan penelusuran sejarah Bagelen. Disebutkan, jenis makanan yang ada dalam sejarah Bagelen salah satunya berasal dari Prasasti Watukuro. Saat itu Purworejo sudah terhubung dengan pusat kerajaan Islam.
Ia menekankan bahwa pada masa lampau Bagelen adalah Purworejo, begitu pula sebaliknya. Sehingga sejarah Purworejo tidak terlepas dari Bagelen berdasarkan
Prasasti Kayu Arahiwang tahun 901 dan Prasasti Watukuro pada tahun 902.
“Pada Prasasti Watukuro dijelaskan ada beberapa macam kuliner termasuk cara memasaknya. Disebutkan ada daging, tempe, dan kluban. Juga olahan masakan dari ikan ada yang dipanggang di atas arang,” jelas budayawan senior ini.
Adapun jenis ikan yang disebutkan dalam Prasasti Watukuro diantaranya tenggiri, cumi, dan kakap berasal dari pantai. Selain itu juga olahan daging hewan seperti kerbau, sapi, dan celeng yang salah satunya dibuat dendeng.
Selain makanan, menurut Sudibyo, pada gastronomi Bagelen juga menyebutkan minuman tuak yang ada pada masa Hindu Mataram.
Tak hanya dari Prasasti Watukuro, Sudibyo mengungkapkan sejarah gastronomi Purworejo juga berasal dari undangan Bupati pertama Tjokronegoro untuk menjamu para pejabat Belanda.
Menurutnya, dalam catatan harian Tjokronegoro dari tinjauan sejarah Provinsi Bagelen, disebutkan hidangan pesta saat menjamu para pejabat Belanda. Diantaranya ayam kalkun, sapi, kerbau, babi, celeng, serta berbagai jenis ikan seperti gurame, pelus, sidat, tambra, dan sili.
“Daging kijang dan kancil dibuat dendeng, termasuk daging merak yang diasap. Sedangkan ikan sili dibuat pepes,” ungkap Sudibyo.
Dengan demkian ia menyimpulkan bahwa gastronomi Purworejo berasal dari Prasasti Watukuro dan jamuan undangan Bupati pertama Tjokronegoro.
Terkait dengan hasil seminar tersebut, Sudibyo mengusulkan kepada panitia hari jadi Purworejo untuk mengenalkan makanan yang pernah dikonsumsi pada zaman itu dan dijadikan sebagai ikon baru.
“Jadi bukan hanya lanting atau lompong saja, tapi makanan khas Purworejo yang perlu dikenalkan lebih luas,” tandasnya.
Adapun pembicara lainnya, Sumartoyo
membahas gastronomi yang menurutnya bukan hanya sekedar masalah kuliner. “Tetapi juga bagaimana sebuah sajian itu hadir dari bahannya, teknik memasak, dan cara menghidangkan atau ritual,” ucapnya di awal pembahasan materi.
Ia menjelaskan bahwa di zaman kerajaan Mataram, hidangan dibagi tiga bagian. Yakni hidangan ritual, keseharian, serta untuk pesta atau menjamu tamu.

Sumartoyo pun mengenalkan berbagai
makanan tradisional abad 8 hingga 10 yang dikenal melalui relief, termasuk di Candi Prambanan. Juga Prasasti Watukuro dan juga naskah kuno Serat Centhini.
“Jejak kuliner pada Mataram kuno dapat diketahui, karena setiap ada acara kerajaan pasti ada pesta yang identik dengan hidangan. Adapun jejak cara memasak dan rasa masakan diperoleh melalui prasasti. Termasuk dalam Prasasti Watukuro, ada istilah kelan atau masak,” ungkap Sumartoyo.
Beberapa contoh masakan yang sudah ada sejak zaman kuno diantaranya nasi tumpeng dan sego megono. “Jadi makanan hadir tidak secara serta merta melainkan melalui proses sesuai pakem,” katanya.
Ia juga membahas asal usul bahan baku kuliner makanan zaman dahulu. Seperti ikan sidat yang berasal Sungai Bogowonto. Disampaikannya bahwa sidat harusnya menjadi potensi ikan asli Purworejo yang harus terus dilestarikan.
Selain sidat, beberapa jenis makanan yang ada di relief Candi Prambanan yakni ikan cumi, nasi bakul, buah kelapa, durian, dan mangga yang banyak dijumpai di Purworejo.
Menurut Sumartoyo, wilayah Bagelen atau Kedu Selatan merupakan salah satu daerah yang ada pada era Mataram Islam. Yakni melalui kekayaan alam melimpah yang berasal dari laut, gunung, dan daratan. Hasil alam tersebut semuanya merupakan sumber bahan pangan.
Adapun peta perjalanan gastronomi Bagelen berasal dari pegunungan yang ada dan melingkupi Purworejo saat ini. Termasuk juga Sungai Bogowonto serta beberapa pantai yang ada.
Sumartoyo pun menyimpulkan bahwa gastronomi Purworejo berasal dari Prasasti Candi Prambanan, Watukoro, dan Serat Centhini. “Prasasti pada candi hanya dapat diihat gambarnya saja. Sedangkan Prasasti Watukuro lebih detil seperti halnya Serat Centhini,” imbuh Sumartoyo.
Selain makanan, seperti halnya disampaikan oleh Sudibyo, ia juga menyebutkan minuman tuak yang ada pada zaman itu. “Ini dipengaruhi oleh budaya Mataram kuno yang sudah berkurang pada zaman Mataram Islam dan lama kelamaan diganti dengan minuman cincau. Sedangkan kudapan clorot baru muncul pada tahun 1800-an yang disajikan di Wonomarto,” tutur Sumartoyo.
Senada dengan Sudibyo, dirinya juga berharap agar Pemkab Purworejo aware terhadap warisan bernilai tinggi tersebut. “Saya berharap makanan tersebut jadi warisan budaya tak benda,” ungkapnya.
Dirinya bahkan menyebutkan bahwa saat ini kita sudah ditinggali warisan tapi mengabaikannya. Padahal hidangan tersebut bisa menjadi komoditas seperti Bagelen jaman dahulu yang menjadi sumber pangan.
Dari menu prasasti kemudian menjadi pengalaman makan. Berdasarkan sumber (referensi) kemudian diidentifikasi dan dilakukan rekonstruksi penyajiannya dalam sebuah cerita atau story telling sehingga akan memiliki nilai tambah.
“Boleh saja chef berkreasi tapi kita harus tetap ikut pakemnya. Ini seperti halnya Tari Ndolalak. Potensi gastronomi ini jadi heritage di Purworejo. Bisa dijadikan kreasi dalam festival pangan yang memunculkan gastronomi tersebut,” pungkas Sumartoyo.
Terkait dengan hal tersebut, Kadinpusip Aan pun memberikan rekomendasi kepada pelaku usaha seperti rumah makan dan juga sekolah kejuruan Boga untuk dapat membuat menu hidangan gastronomi seperti yang sudah disebutkan.
“Gastronomi diharapkan menjadi salah satu daya tarik kuliner dan dapat menjadi pemantik UMKM untuk memajukan gastronomi khas Purworejo. Ini agar makanan yang menjadi warisan turun temurun berkaitan dengan asal usul Purworejo dari tanah Bagelen dapat terus dilestarikan,” kata Aan.
Dirinya pun akan membawa hasil seminar ini untuk dapat ditindaklanjuti oleh pemkab sebagai sebuah rekomendasi untuk keberlanjutan Purworejo dari sisi histori. (Dia)









































































Comment