PURWODADI, Antusiasme ribuan warga yang memadati area Pantai Jatimalang saat prosesi Merti Jaladri berlangsung begitu tinggi. Tak sedikit dari mereka yang berharap mendapatkan berkah melalui hasil bumi berbentuk gunungan yang diarak ke bibir pantai. Akibatnya, sebelum gunungan khusus dari kelompok Nelayan Jati Samudra yang dibawa ke tengah laut menggunakan kapal dilarang, gunungan berisi hasil bumi ludes disebut warga.
Termasuk satu gunungan yang tersisa, semula akan dibagikan setelah sesaji dilarang ke laut. Namun entah karena faktor ombak yang besar sehingga perahu tak kunjung menghadap selatan untuk melarung sesaji, warga yang tidak sabar mulai mengambil hasil bumi yang menjadi materi gunungan.
Pengunjung lainnya ikut-ikutan hingga akhirnya dalam sekejap, gunungan hanya menyisakan rangka bambu. Bahkan beberapa warga yang belum kebagian rela mengais sisa hasil bumi seperti kacang panjang yang sudah tidak lagi utuh serta batang padi.
Sebagian dari mereka menjadikan hasil “perburuan” hasil bumi dalam Merti Jaladri ini sebagai bentuk berkah. Mereka percaya hasil bumi yang mereka peroleh dapat membawa keberuntungan.
Pemandangan tersebut terjadi pada acara Merti Jaladri di Pantai Jatimalang pada Senin (6/7/2026) siang. Kades Jatimalang, Suwarto memimpin jalannya kirab Merti Jaladri dari area tempat pelelangan ikan (TPI) menuju bibir pantai melalui jalan setapak.
Wakil Bupati Dion Agasi bersama jajaran forkopimda serta OPD terkait turut mengikuti kirab. Termasuk anggota Komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah, Muhammad Hajar Zainudin dan Camat Purwodadi, Veny Yudha Apriyani.

Disampaikan dalam Bahasa Jawa, ketua panitia Ardiyanto menjelaskan, Merti Jaladri dilaksanakan setiap bulan Suro atau Muharram. Merti Jaladri dilakukan sebagai bentuk ucapan terima kasih kepada Tuhan atas karunia yang telah diberikan serta memohon keberkahan dan keselamatan dalam menjalankan pekerjaan.
Sebelum prosesi Merti Jaladri dilakukan kenduri agung oleh tokoh masyarakat setempat, Surahman. Ia pun merinci aneka rupa yang akan dilarung. Diantaranya ingkung dan aneka jenang atau bubur, kupat, lepet, kendi, pupus daun, selendang hijau, dupa ratus, dan minyak mawar.
Juga dilakukan pemotongan tumpeng oleh Kades Jatimalang sekaligus ketua Polosoro Purworejo. Potongan tumpeng diserahkan kepada Wabup Dion.
Usai prosesi Merti Jaladri, Suwarto menjelaskan, event ini dilakukan setahun sekali sebagai bentuk rasa syukur masyarakat Jarimalang yang sebagian besar adalah nelayan serta permohonan doa diberi keselamatan dalam bekerja.
“Ada 80 tumpeng dari kelompok nelayan, pedagang, penginapan, kecamatan, dan juga pihak lain yang dikumpulkanpada acara MertiJaladri ini,” ujar Suwarto. Dijelaskan bahwa rangkaian kegiatan ini dilakukan selama tiga hari mulai Sabtu dan puncaknya hari Senin ini berupa Merti Jaladri dan pagelaran wayang kulit.
Adapun Dion Agasi mengapresiasi segenap panitia pelaksana termasuk pelaksanaan malam hari berupa wayang kulit. “Kegiatan tahun 2026 seperti ini terbukti tidak hanya kegiatan seremonial namun juga sebagai wujud bahwa wisata budaya di Jatimalang punya potensi luar biasa,” ungkap Dion.
Ia berharap selain ungkapan rasa syukur juga bisa mendongkrak wisata di Purworejo. “Pemda siap mendukung agar pertukaran uang semakin meningkat. Termasuk dengan adanya Koperasi Nelayan Merah Putih dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pelaku UMKM,” kata Wabup. (Dia)



































Comment