BANYUURIP, Sebanyak 22 lansia wanita jemaah Masjid Nurul Ikhwan di lingkungan Kledung Wetan Rt 4/4 Kelurahan Keldung Kradenan, Banyuurip berhasil menuntaskan bacaan 30 juz Al-Qur’an. Acara khataman Al-Qur’an pun digelar bersamaan dengan peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW di Masjid tersebut pada Sabtu (3/10/2026) malam.
Dengan diiringi gending dan lagu Jawa, seluruh peserta yang sudah khztan Al-Qur’an mendapatkan piagam dan bingkisan dari panitia. Acara tersebut turut dihadiri Camat Banyuurip, Sumarjana, jajaran forkopincam, dan anggota DPRD Alipman Syafii yang tinggal di lingkungan tersebut.
Ketua panitia Bumantoko menjelaskan, peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW bertujuan untuk syiar Islam. Juga untuk syiar masjid Nurul Ikhwan. Menurutnya jumlah hadirin dalam acara tersebut mencapai 500 orang, termasuk warga di lingkungan Kelurahan Kledung Kradenan.
Peringatan Maulud Nabi Muhammad juga dirangkai dengan khataman Al Quran 22 orang nenek-nenek. Sebelumnya mereka melakukan tadarus atau membaca Al Quran bersama-sama selama empat bulan. Mereka melakukan tadarus di bawah bimbingan Ketua Takmir Masjid Nurul Ikhwan, KH Nur Chayat.
Bumantoko menambahkan, khataman atau khotmil Quran ini merupakan angkatan yang kedua setelah sebelumnya diikuti lansia bapak-bapak sebanyak 11 orang. “Setelah ini nanti mungkin ada lagi untuk bapak-bapak buat sangunya (bekal) ke sana (akherat),” ujarnya.
Selain khataman, peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW di Masjid Nurul Ikhwan juga diisi dengan pengajian oleh Ustad Ahmad Sarwono dari Kebumen.
Ketua Takmir Masjid Nurul Ikhwan, Ustad Nur Chayat pun memberikan keterangan. Menurutnya, ini merupakan kegiatan rutin setiap tahun Masjid Nurul Ikhwan agar para jemaahnya mau membaca Al-Qur’an.
“Paling tidak bisa layak membaca Al-Qur’an meskipun tidak begitu fasih seperti orang-orang yang pandai membaca Al-Qur’an. Karena ini sudah sepuh-sepuh kondisinya tentunya tidak sama dengan anak-anak,” kata Ustad Nur Chayat.

Menurut Ustad Nur Chayat, anak belajar seperti halnya mengukir di atas batu. Tapi kalau orang tua belajar seperti mengukir di atas air. “Begitu kita beri (pelajaran) hari ini, besok lupa. Tapi kalau di batu seperti halnya relief atau ukiran itu kan lama sih. Inilah perbedaan mengajari lansia dengan anak-anak,” ungkapnya.
Ia pun merasa bangga karena para jemaah lansia di Masjid Nurul Ikhwan memiliki semangat untuk mencintai Al-Qur’an. Selaku ketua takmir, Ustad Nur Chayat tidak henti-hentinya memberikan motivasi kepada jemaah untuk mau belajar Al-Qur’an.
“Setelah khotmil Quran akan kita teruskan dalam sebuah majelis Alqur’an. Kita kumpul dan belajar bersama. Karena membaca Al-Qur’an itu ibarat pisau. Kalau pisau itu tidak diasah, akan juga tumpul,” ujarnya.
Selain itu, acara semacaam ini juga sebagai wahana untuk ukhuwah Islamiyah. Saat ini jumlah jemaah lansia wanita sebanyak 35 orang yang aktif. Dalam acara khataman Al-Qur’an tersebut, peserta tertua berusia 75 tahun.
Salah satu peserta Khatam Al-Qur’an, Sumarwati (65) mengungkapkan kelompoknya belajar membaca Al-Qur’an sejak setahun lalu. Mulai Ramadan lalu ia bersama-sama peserta lainnya melakukan tadarus.
“Tadarus seminggu tiga kali rutin setiap malam Sabtu, Minggu, dan Senin setelah salat Maghrib dibawah bimbingan Ustad Nur Chayat,” kata Sumarwati.
Setelah khatam Al-Qur’an ia mengakui merasa senang dan berencana akan kembali mengulang dengan bacaan yang lebih baik dari sebelumnya.
Sumarwati yang mengaku bacaan Al-Qur’an-nya belum begitu lancar, bertekad akan terus belajar. Termasuk ingin membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang lebih baik dan benar.
Ia pun berusaha memberi motivasi ibu-ibu lainnya untuk terus belajar membaca Al-Qur’an dan mengaji. “Ini buat bekal nanti kita pulang ke akherat,” tuturnya. (Dia)


































Comment