KUTOARJO, Naskah kuno Babad Kedhung Kebo masih menjadi topik bahasan yang menarik untuk dikupas. Naskah dalam Bahasa Jawa yang ditulis oleh RAA Tjokronegoro membahas tentang Perang Jawa ini bahkan menjadi bahan kajian penting sejarawan terkemuka, Peter Carey. Ia menjadi salah satu pembicara dalam seminar Menuju Ingatan Kolektif Nasional Babad Kedhung Kebo: Perang Jawa dari Sudut Pandang Liyan yang digagas oleh Dinpusip Purworejo.
Selain Peter Carey, seminar juga menghadirkan Dr. Sudibyo Prawirpatmojo, seorang Pangarsa Kearsipan Kadipaten Pakualaman, dan Aditia Gunawan, Ketua Pokja Pengelolaan Naskah Nasional Perpunas RI. Kadinpusip Stephanus Aan Isa Nugroho menjadi moderator dalam seminar yang diadakan di Pendopo Kutoarjo pada Kamis (20/8/2026) ini.
Pada kesempatan pertama, Peter Carey yang hadir secara daring membahas bukunya yakni Sisi Lain Diponegoro: Babad Kedhung Kebo dan Histografi Perang Jawa.
Ia menyebutkan, Perang Jawa atau Perang Diponegoro yang terjadi pada tahun 1825-1830 merupakan peristiwa sejarah yang terkenal. Menurutnya, sejarah tertulis dari leluhur sehingga membawa sisi pandang yang tidak sesuai dengan sejarah nasional yang dikenal.
Adapun terkait inisiatif melacak sejarah berdirinya Purworejo, Peter Carey menyampaikan bahwa hal tersebut berdasarkan instruksi Gubernur Jawa Tengah pada tahun 1992, yakni agar semua kabupaten / kota punya hari lahir.
Di Purworejo, hari jadinya digagas oleh Bupati Agus Bastian yang merupakan keturunan Bupati pertama Tjokronegoro. Peter Carey juga menyebutkan bahwa Bupati Agus Bastian-lah yang pertama kali menghidupkan sejarah Purworejo.
Adapun Sudibyo dalam bahasannya menjelaskan tentang kontroversi Babad Kedhung Kebo. Disebutkan, Tjokronegoro dianggap berkolaborasi bersama pemerintahan Belanda dan berseberangan dengan Diponegoro.
Ia menuturkan, keberpihakan Tjokronegoro kepada Belanda menyebabkan tiga pangeran Kasultanan Yogyakarta gugur dalam peperangan di area Bukit Menoreh.
Gugurnya tiga pangeran tersebut tidak disampaikan oleh para pengikut Diponegoro. Mereka tidak berani menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Diponegoro. Mereka hanya mengatakan ketiga pangeran itu akan datang. Namun saat ditunggu tak juga datang Diponegoro merasa sedih dan gundah karena paman dan dua sepupunya gugur.
Namun faktanya, kisah dalam Babad Kedhung Kebo tidak sama dengan sejarah nasional.
Dalam paparamnya, Sudibyo menyebutkan bahwa Tjokronegoro yang dalam ingatan masyarakat Purworejo sebagai pendiri kabupaten Purworejo, didevaluasi akibat kejadian tersebut. Namun di sisi lain anggota keluarga dan Jakarta terus memulihkan nama baik Tjokronegoro yang wafat pada tahun 1862 tersebut.
“Berikutnya, pada tahun 1994, panitia hari jadi Purworejo mengesampingkan adanya Perang Diponegoro meskipun mereka mengetahui jasa Tjokronegoro. Akhirnya mereka menetapkan Hari Jadi Purworejo pada tanggal 5 Oktober 901 sehingga Purworejo sudah berusia ribuan tahun,” ujarnya.

Meski demikian, perjuangan keluarga tersebut akhirnya membuahkan hasil. Termasuk melalui perjuangan Bupati Agus Bastian yang merupakan keturunan Tjokronegoro, dengan menetapkan Hari Jadi Purworejo menjadi tanggal 27 Februari 1831.
Ini membatalkan penetapan hari jadi sebelumnya dengan berdasarkan Babad Kedhung Kebo. Tak hanya itu, sejak kepemimpinan Agus Bastian dilakukan acara jumenengan setiap tanggal 27 Februari berdasarkan Babad Kedhung Kebo.
Sudibyo juga menyebutkan bahwa Babad Kedhung Kebo berdasarkan naskah adalah kecintaan kepada tanah air pada masa pra kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada masa Perang Jawa. Yakni pada masa penjajahan Belanda.
Kini, jasa Tjokronegoro diabadikan sebagai nama jalan dan rumah sakit di Purworejo. Selain itu dalam setiap peringatan hari jadi ditampilkan kidung khusus tentang berdirinya Purworejo.
Berdasarkan hal itulah, Sudibyo berpendapat bahwa Babad Kedhung Kebo merupakan karya para bupati yang memiliki potensi dan layak diusulkan sebagai ingatan kolektif nasional pada penilaian berikutnya.
Menanggapi usulan tersebut, Aditia berjanji akan memasukkannya dalam penilaian berikutnya. “Sayangnya Pak Dibyo telat menyampaikan usulan ini. Kalau saja disampaikan seminggu lalu bisa dimasukkan dalam usulan tahun ini bersama 14 usulan lainnya,” ujarnya di awal paparannya.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa saat ini Perpustakaan Nasional memiliki 13.438 naskah. Saat ini lembaga yang dipimpinnya memiliki penyimpanan naskah terbesar di Indonesia dan
terbesar kedua di dunia setelah Leiden University. Naskah-naskah tersebut diterbitkan dan menjadi memory of the world.
Selaku moderator, Aan menyimpulkan bahwa Babad Kedhung Kebo yang berisi catatan Tjokronegoro ada dua. Salah satunya di Leiden University. Selain itu, perspektif Perang Jawa pun ada dua.Yakni dari sisi tokoh, dslam hal ini adalah Diponegoro dan sisi lingkungan yakni dari keraton Surakarta dan juga Babad Kedhung Kebo.
Perspektif lain Perang Jawa Babad Kedhung Kebo yakni seseorang yang sudah mendapatkan mandat mempertahankan area tersebut. “Kedaulatan waktu itu masih pada kerajaan, sehingga konflik di kerajaan Yogyakarta akan merambat ke wilayah lain,” tutur Aan.
Selaku Kadinpusip, Aan menyampaikan bahwa Babad Kedhung Kebo dapat diakses di Dinpusip Purworejo. Ia berharap kegiatan ini menjadi langkah baik untuk menjadikan Babad Kedhung Kebo sebagai ingatan kolektif nasional. (Dia)









































































Comment