PURWOREJO, Melalui penelitian dan inovasi dari suweg dan ekstrak biji pepaya yang mereka beri nama Suwaya Coat, lima siswa SMAN 1 Purworejo berhasil membuat para juri jatuh hati dan menetapkan mereka menjadi Juara 1 Lomba Krenova Kabupaten beberapa waktu lalu.
Suwaya Coat: Edible Coating Pati Suweg dengan Ekstrak Biji Pepaya yang disusun oleh Dzaky Al Haidar, Keisya Alya Tasefa, Kurniawati, Nafisah Larasati Nur aini, dan Syandana Andi Dharma ini mengangkat pamor suweg dan biji pepaya yang sering dijadikan limbah, untuk diolah menjadi pelapis buah dan sayur agar tetap segar dalam jangka waktu tertentu.
Ketua tim, Dzaky menjelaskan, suweg (Amorphophalus campanulatus) merupakan tanaman umbi lokal yang memiliki potensi tinggi sebagai sumber pangan alternatif karena kandungan patinya yang melimpah. Suweg mengandung karbohidrat kompleks dengan indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan beras putih, sehingga lebih ramah bagi penderita diabetes. Selain itu, suweg juga kaya akan serat pangan, vitamin C, vitamin B kompleks, serta mineral penting.
Namun, pemanfaatan suweg di masyarakat masih sangat terbatas. Dibandingkan dengan umbi-umbian lain seperti singkong atau kentang, suweg belum banyak dimanfaatkan secara luas, baik sebagai pangan pokok maupun bahan baku industri.
Salah satu penyebabnya adalah kandungan kalsium oksalat yang dapat menimbulkan rasa gatal dan pahit. Meski demikian, senyawa tersebut dapat diminimalisasi melalui proses perendaman dalam air garam atau air panas.
“Penelitian ini diltarbelakangi banyaknya pedagang sayur keliling maupun pelaku UMKM pertanian yang mengalami kerugian karena produk buah dan sayur cepat rusak, terutama saat tidak habis terjual. Tanpa fasiltas pendingin, suhu udara tinggi, mempercepat pembusukan produk dalam hitungan jam. Di sisi lain, pemahaman masyarakat tentang teknologi edible coaling masih sangat minim,” jelas Dzaky mewakili teman-temannya kepada Purworejo News, Jumat (28/11/2025).
Di satu sisi, tidak sedikit konsumen yang salah mengartikan lapisan tipis pada buah atau sayur sebagai bahan kimia berbahaya, akibat kurangnya edukasi tentang manfaat dan keamanannya.
Pati suweg dipilih karena ketersediannya yang melimpah dan kandungan karbohidrat kompleks. Adapun ekstrak biji pepaya mengandung senyawa antibakteri yang efektif menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab pembusukan.
Kombinasi ini menghasilkan lapisan yang tidak hanya alami dan aman dikonsumsi, tetapi juga tidak mengubah rasa, tekstur, atau aroma buah dan sayur yang dilapisi.
“Dengan hadirnya Suwaya Coat, kami berharap dapat memberikan solusi nyata serta berkelanjutan bagi pelaku pertanian dan distibusi pangan. Inovasi ini tidak hanya menjadi alternatif pelindung alami untuk buah dan sayur, tetapi juga sebagai bentuk pemberdayaan potensi lokal yang selama ini terabaikan,” jelas Dzaky.
Ia menambahkan, suweg tidak hanya menjadi pangan altematif, tetapi juga agen perubahan dalam menjaga ketahanan pangan, ekonomi lokal, dan kesehatan masyarakat. Suwaya Coat hadir sebagai solusi inovatif dalam memperpanjang masa simpan produk segar berbasis bahan lokal.
Tujuannya mengoptimalkan potensi loka| melalui pemanfaatan pati dari suweg. Selain itu, meningkatkan ketahanan pangan dengan pengurangan food loss akibat pembusukan dini.Tak hanya itu, Suwaya Coat juga meminimalkan penggunaan bahan kimia berbahaya. Hal penting lainnya, menurut Dzaky, yakni untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap teknologi pangan sehat dan berkelanjutan. Serta memberikan solusi nyata bagi pelaku usaha pertanian dan masyarakat dalam menjaga kualitas hasil panen secara alami dan aman.

Terkait manfaat inovasinya, Dzaky menyebutkan, Suwaya Coat dapat memperpanjang masa simpan produk segar buah dan sayur, menurunkan risiko kerugian pedagang akibat pembusukan dini. Selain itu juga meningkatkan nilai tambah suweg dan biji pepaya yang selama ini belum dirmanfaatkan optimal.
“Melalui inovasi ini juga kami ingin mengedukasi masyarakat tentang pentingnya teknologi pangan alami serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan pengawet sintolis dan plastik pembungkus,” tutur Dzaky mewakili teman-temannya.
Mereka menyebutkan, percobaan pertama pembuatan produk dilakukan pada bulan Juni. Selanjutnya penyempurnaan pada akhir Agustus.
Ia pun menjelaskan keunggulan inovasi
Suwaya Coat ini. Diantaranya, suweg dan biji pepaya banyak tersedia di pedesaan. Berdasarkan penelitian, ekstrak biji pepaya juga dapat menghambat pertumbuhan mikroba dan tidak menimbulkan efek samping jika tertelan.
Keunggulan lainnya, Suwaya Coat dapat menggantikan lapisan pelindung berbasis plastik atau lilin sintetis pada buah dan sayur. Dzaky menambahkan, Suwaya Coat juga sangat tepat untuk pelapisan buah dan sayuran tanpa mengubah penampilan. Disamping itu, penggunaannya juga ramah lingkungan.
Meski demikian, ada kelemahan dari produk ini. Yakni tidak ada waktu kadaluwarsa dan juga uji kandungan keefektifannya. Hal tersebut mereka sampaikan di hadapan juri saat presentasi.
Di hadapan para juri, Dzaky dan teman-teman juga memaparkan aspek inovasi yang membedakan Suwaya Coat dengan edible coating pada umumnya. “Formulasi bahan Suwaya Coat memanfaatkan pati suweg yang belum umum di dunia edible coating. Antibakteri alami dari limbah biji pepaya yang sering dibuang, kini dimanfaatkan sebagai bahan fungsional,” ungkap Dzaky.

Tak hanya itu. Secara umum, aplikasi produk relatif praktis Suwaya Coat bisa diterapkan oleh petani dan pedagang skala kecil dengan peralatan sederhana. Desain produk yang transparan dan tidak meninggalkan residu berlebihan, membuat konsumen bisa lebih paham saat mengaplikasikannya.
“Suwaya Coat ini dapat diaplikasikan secara langsung oleh pedagang sayur, petani, atau pengusaha kecil yang memasarkan produk pertanian segar. Produk ini hanya perlu dicelupkan atau disemprotkan pada permukaan buah atau sayur sebelum dikemas,” terang Dazky.
Selain memperpanjang umur simpan, kehadiran pelapis ini tidak mempengaruhi rasa atau tekstur produk. “Edukasi sederhana diperlukan agar masyarakat tidak keliru menganggap pelapis ini sebagai zat kimia berbahaya. Sistem penukaran hasil panen atau limbah biji pepaya dari pengepul ke tim produksi Suwaya Coat juga bisa dibangun sebagai sirkulasi ekonomi berkelanjutan,” tandas Dzaky. (Dia)

