KALIGESING, SMPN 24 Purworejo yang berlokasi di Desa Kaliharjo Kecamatan Kaligesing memiliki potensi yang luar biasa dalam hal Kepramukaan atau Scouting. Dengan diampu oleh pembimbing gugus depan (gudep) yang benar-benar mumpuni serta didukung oleh lingkungan di sekitar sekolah, SMPN 24 terbukti berhasil menjadi jawara dan mampu bersaing dengan SLTP lain di Kabupaten Purworejo.
Tercatat dua pembimbing khusus di sekolah yang menjadi ketua gudep yakni Siti Juwariyah selaku Kagudep Putri dan Heri Purwanto Kagudep Putra. Melalui “tangan dingin” keduanyalah, SMPN 24 berhasil menjadi Juara 1 Putra dan Juara 2 Putri pada Lomba Pramuka Garuda Berprestasi Penggalang Kwarcab Purworejo.
Keduanya yakni Rafael Thobia Chistanto (8A) dan Davina Syafa Felisa (8C). Mereka mewakili Kwartir Ranting (Kawaran) Kaligesing bersaing ketat dalam lomba tersebut. Sebagai juara 1, Rafael akan mewakili Kwarcab Purworejo ke tingkat Kwarda Jawa Tengah di Semarang.
Selain itu, SMPN 24 Purworejo juga meloloskan perwakilan terbaik putra dan putri mewakili gudep untuk mengikuti Jambore Nasional (Jamnas) yang akan digelar di Cibubur bulan Agustus mendatang. Keduanya yakni Rafael Tobia dan Felizarda (8A).
Ditemui di sekolah pada Jumat (5/6/2026), Kagudep Siti Juwariyah dan Heri Purwanto membeberkan kegiatan yang dilakukan untuk membina siswa menjadi anggota Pramuka yang andal.
Didampingi Kepala SMPN 24 Enang Kuncoro, Siti menjelaskan, selain Pramuka reguler yang diikuti oleh seluruh siswa kelas 7 dan 8, di SMPN 24 juga terdapat anggota Pramuka khusus calon asisten (calas) Penggalang Putra dan Putri yang diberi nama Toxedo dan Saundersii.
“Toxedo yang artinya kucing gurun, dikenal aktif, cerdas, sederhana, namun juga mematikan. Sedangkan Saundersii merupakan bunga yang tumbuh di gurun Afrika. Bunganya indah dan kuat ditempa segala cuaca. Keduanya mencerminkan jiwa Pramuka Calas SMP. 24 Purworejo, ” jelas Siti Juwariyah.
Ia menyebutkan, anggota Asisten Pembina (Dewan Penggalang) melakukan latihan
seminggu dua kali yakni Jumat dan Minggu. Menurut Siti, tantangan terberat yakni di hari
Minggu. Namun selama empat bulan berlatih, mereka diberi kesempatan tidak mengikuti latihan selama tiga kali bila ada keperluan lain. Namun bila mereka datang tanpa keterangan akan mengurangi poin.

“Dengan cara inilah seleksi alam berlaku. Dari awal 29 siswa, sampai bulan keempat ini yang masih bertahan hanya 13 anak, yakni tujuh putra dan enam putri,” jelas Siti.
Adapun materi yang diterapkan selain kepramukaan juga latihan fisik berupa olah raga dengan cara berlari mengelilingi lapangan sekolah. Dilakukan bertahap dari mulai dua putaran pada awal hingga sekarang sudah delapan putaran.
Dijelaskan, kegiatan yang ditunggu para peserta yakni napak tilas berupa susur jejak sebelum long march. Yakni menyeberang sungai kemudian melewati jalur yang telah ditentukan.
“Kami punya dua jalur yang keduanya tidak mudah. Pertama yakni Jalur Surga berupa jalan yang berliku namun teduh. Serta Jalur Neraka dengan jalan terjal dan panas,” ungkapnya. Tahun ini yang akan dilalui yakni Jalur Neraka.
Meski demikian, untuk meningkatkan keakraban antar sesama calas ada juga fun game. Siti menambahkan, biasanya saat kegiatan napak tilas dihadiri pejabat dan anggota DPRD.
Dari semua materi tersebut, para peserta berikutnya akan diseleksi menjadi Pramuka Garuda dan mempunyai Syarat Kecakapan Umum (SKU). Meski begitu menurut Siti, tidak semua anak berminat karena menurutnya itu seperti manusia setengah dewa.
Terkait dengan hal tersebut, Enang Kuncoro menyatakan rasa syukur dengan keunggulan yang dimiliki SMPN 24. “Ini membanggakan sekaligus saya punya tugas berat, minimal bisa mempertahankan keunggulan sekolah ini,” ujarnya.
Dirinya pun berjanji akan memberikan fasilitas agar latihan bisa lebih maksimal. Selain itu ia juga berusaha agar SMPN 24 bisa terus bersaing di tingkat kabupaten. Menurutnya, Pramuka merupakan satu hal yang bisa menjadi keunggulan SMPN 24 dan bisa berkompetisi dengan sekolah lain di KabupatenPurworejo. (Dia)



































Comment