BAYAN, Desa Krandegan tak hanya dikenal sebagai desa pertanian tetapi juga inovatif dan telah meraih beberapa penghargaan bergengsi. Dalam peringatan Hari Bumi 2026, desa ini kembali menjadi contoh pengembangan teknologi energi terbarukan yang menjadi harapan baru para petani.
Peluncuran pompa tenaga surya berkapasitas 15 PK, yang digelar Kamis (21/6/2026) ini adalah hasil kerja sama antara pemerintah desa, perguruan tinggi, dan pihak swasta melalui Agros Global.
Pompa ini disebut sebagai yang terbesar yang dimiliki desa saat ini dan mampu mengairi lahan pertanian hingga 50 hektare.
Wakil Bupati Purworejo Dion Agasi Setiabudi menegaskan bahwa ketahanan energi menjadi tantangan besar di masa depan. Menurutnya, sumber energi fosil seperti minyak bumi dan batu bara suatu saat akan habis sehingga daerah harus mulai beralih menuju energi mandiri.
“Negara yang bisa bertahan adalah negara yang mandiri energi. Desa Krandegan ini bisa menjadi inspirasi dan contoh bagi kita semua bahwa kemandirian pangan dan energi dapat berjalan berdampingan,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala Desa Krandegan Dwinanto yang dinilai berhasil menghadirkan solusi nyatabagi kebutuhan petani.
Pemerintah Kabupaten Purworejo, lanjutnya, siap mendukung dan memfasilitasi pengembangan serupa di wilayah lain, terutama daerah pertanian yang kesulitan irigasi dan masih bergantung pada pompa listrik.
Menurut Dion, penggunaan pompa listrik untuk penyedotan air sering kali tidak efisien karena biaya operasional yang tinggi. Karena itu, konsep pompa tenaga surya di Krandegan akan dicoba direplikasi di desa-desa lain yang mengalami persoalan serupa.

“ketika menggunakan listrik costnya tidak terlalu efektif. maka akan mereplikasi kerjasama dengan perguruan tinggi dan Agros, diskusi dengan Pak Dwinanto, ditularkan ke desa-desa lain yang mengalami kesulitan air,” ujarnya.
Bagi petani Krandegan, keberadaan pompa tenaga surya bukan sekadar proyek teknologi. Sistem irigasi ini terbukti membawa perubahan nyata. Jika sebelumnya sebagian lahan sulit mendapatkan air saat musim kemarau, kini petani sudah bisa panen hingga tiga kali dalam setahun.
Dwinanto menjelaskan, saat ini desanya memiliki tujuh unit pompa tenaga surya yang digunakan untuk membantu pengairan lahan pertanian. Meski demikian, masih terdapat dua titik kecil yang belum terjangkau karena tidak memiliki akses sumber air sungai.
Pompa yang didemonstrasikan dalam kegiatan tersebut menggunakan energi matahari sebagai sumber utama melalui panel surya. Sistem ini mampu mendistribusikan air hingga 200 meter kubik per jam tanpa bergantung pada BBM maupun listrik PLN.
Selain menekan biaya operasional petani, sistem tersebut juga dinilai lebih ramah lingkungan karena tidak menghasilkan emisi karbon langsung.
Hadir dalam kegiatan tersebut Rektor UIN Riau, Leny Nofianti. Ia menyebut program di Krandegan sebagai bukti nyata hilirisasi hasil penelitian kampus yang mampu memberi dampak langsung bagi masyarakat.
“Ini menjadi bukti bahwa dosen sebagai akademisi bisa menghadirkan hilirisasi produk penelitian yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, CEO Agros Global Max Jean H Nelen menilai Desa Krandegan bukan sekadar lokasi demonstrasi teknologi. “Desa Krandegan bukan hanya showcase, tetapi merupakan solusi,” katanya singkat. (Ita)



































Comment