Ribuan Warga Doplang Purworejo Meriahkan Kirab Gunungan Merti Bumi

PURWOREJO, Ribuan warga Kelurahan Doplang, Kecamatan Purworejo, tumpah ruah di kawasan balai pertemuan kelurahan untuk menonton Kirab Budaya pada Jumat (16/12/2026) sore. Kirab gunungan tersebut menjadi puncak acara Merti Bumi Kelurahan Doplang yang sebelumnya telah dilaksanakan beberapa tradisi kegiatan. Mulai dari bersih lingkungan dan makam hingga tawu belik.

Kirab gunungan diberangkatkan dari Lapangan Kelurahan Doplang dan berakhir di balai pertemuan. Warga tampak antusias menyambut iring-iringan kirab yang berjalan pelan mengikuti alunan Gending Jawa.

Tahun ini kirab dimeriahkan dengan delapan gunungan. Enam gunungan merupakan hasil swadaya setiap RW, satu gunungan inisiatif seluruh lembaga, dan satu gunungan berasal dari sponsor.

Gunungan-gunungan tersebut berisi aneka hasil bumi, seperti sayur dan buah-buahan serta produk-produk UMKM. Peserta kirab juga membawa gagar mayang yang digantungi uang.
Kepala Kelurahan Doplang, Puguh Dono Pratopo, mengatakan bahwa tradisi kirab menggambarkan kebersamaan. “Adapun filosofi dari kirab gunungan itu sendiri adalah manunggalnya pemerintah dan masyarakat. Di samping ucapan syukur kepada Tuhan Yang maha Kuasa yang telah memberikan karunia kepada masyarakat lewat hasil bumi, sehingga sudah sepatutnya bumi ini dirawat,” ungkapnya.


Kepala Kelurahan Doplang, Puguh Dono Pratopo, mengatakan bahwa tradisi kirab menggambarkan kebersamaan. “Adapun filosofi dari kirab gunungan itu sendiri adalah manunggalnya pemerintah dan masyarakat. Di samping ucapan syukur kepada Tuhan Yang maha Kuasa yang telah memberikan karunia kepada masyarakat lewat hasil bumi, sehingga sudah sepatutnya bumi ini dirawat,” ungkapnya.

Pelepasan burung perkutut simbol harapan dan doa, oleh Lurah Doplang dan istri

Puguh menambahkan, dalam rangkaian acara rebutan gunungan juga akan ada prosesi pelepasan burung perkutut. “Ini merupakan simbol harapan dan doa untuk melangkah lebih baik. Artinya ini harmonisasi antara masyarakat dan pemerintah serta alam,” lanjutnya.

Peserta kirab yang merupakan perwakilan dari tiap RW terlihat menikmati setiap prosesi. Mengenakan busana adat Jawa, para peserta berjalan tertib mengikuti irama musik. Peserta wanita tampak membawa bakul berisi sayuran sebagai simbol rasa syukur atas hasil bumi.

Sementara itu, warga yang tidak mengikuti kirab berdiri di tepi jalan untuk menyaksikan jalannya prosesi. Saat gong ditabuh sebagai tanda gunungan boleh diambil, hujan deras turun. Meski demikian, semangat warga tidak surut. Anak-anak hingga orang dewasa tetap berebut isi gunungan dengan gembira.

Puncak acara Merti Bumi dilanjutkan dengan Pengajian Rojabiyah yang dipimpin oleh Pengasuh Pondok Pesantren Hidayatullah Mubtadiin pada Jumat malam. (Ita)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *