BAYAN, Mahasiwa Universitas Diponegoro (Undip) Kuliah Kerja Nyata Temaik (KKN-T) 36 di Desa Tangkisan, Kecamatan Bayan. Kegiatan yang dilakukan meliputi pemetaan awal sebagai bagian dari perencanaan pembangunan instalasi Energi Baru Terbarukan (EBT). Yakni berupa digester biogas untuk menampung dan memanfaatkan limbah ternak sapi.
Peserta KKN-T 36 berjumlah 20 orang. Mereka dibagi menjadi dua kelompok dan akan berada di lokadi KKN selama 40 hari. Mereka berada di bawah bimbingan tiga dosen. Yakni Karnoto, MT, Prof. Dr. Eko Hidayanto, dan Dr. Septo Pawelas Arso.
Wakil Koordinator Desa KKNT Tim 36 Undip, Hadasa Dyah Budi Erawati menjelaskan, aktivitas awal di lokasi KKN-T36 difokuskan pada kegiatan mengumpulkan data lapangan. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi eksisting digester sebagai pengelolaan limbah ternak yang akan diterapkan di lingkungan masyarakat Desa Tangkisan.
“Kami melakukan observasi secara langsung dengan wawancara bersama peternak dan prrangkat desa setempat,” ucap Dyah. Hal itu dilakukan untuk menggali beberapa informasi. Diantaranya jumlah ternak, pola pemeliharaan ternak, serta potensi pemanfaatan limbah kotoran ternak khususnya sapi sebagai bahan utama pembentukan biogas.
“Pembuatan digester biogas ini merupakan langkah awal untuk mendukung pengembangan energi alternatif berkelanjutan. Juga sekaligus upaya penanganan lingkungan dan pengelolaan limbah ternak yang bernilai guna di wilayah pedesaan,” imbuhnya.
Berdasarkan observasi awal, limbah kotoran ternak terutama sapi di Desa Tangkisan selama ini belum terkelola secara optimal.

Sehingga berpotensi mencemari lingkungan, seperti bau tidak sedap akibat kotoran yang menumpuk, dan bisa pula berisiko terhadap gangguan kesehatan lainnya bagi masyarakat.
Saat penerjunan ke lokasi di Desa Tangkisan, mahasiswa KKN-T 36 Undip mendapatkan pengarahan dari perangkat desa dan Ketua Kelompok Ternak Bina Lestari, Tari. Pengarahan berupa kegiatan yang dilakukan selama berkegiatan di lingkungan setempat.
Ketua Kelompok Ternak Bina Lestari menyatakan, sebagai peternak, dirinya melihat biogas ini sangat membantu. “Jika limbah ternak bisa dimanfaatkan menjadi biogas, kami tidak perlu terlalu bergantung pada gas LPG untuk memasak, jika biogas tersedia,” ucapnya.
Selain itu, biogas juga dapat dimanfaatkan sebagai penerangan dengan lampu yang dimodifikasi, seperti petromax sehingga pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan energi bisa diminimalisir.
“Saya juga berharap masyarakat sekitar dapat mencontoh kegiatan biogas ini untuk menunjang kehidupan mereka dalam melakukan penghematan energi. Juga mendorong mereka dalam pemanfaatan energi terbarukan,” tandasnya.
Mahasiswa KKN-T-36 berharap serangkaian kegiatan dari awal perencanaan pembangunan instalasi digester biogas ini nantinya membantu mengurangi dampak pencemaran lingkungan. Selain juga dapat meningkatkan pengelolaan limbah ternak, serta mendorong pemanfaatan energi baru terbarukan di Kabupaten Purworejo. (Dia)

