PURWOREJO, Purworejo Expo tahun 2026 tidak hanya diikuti pelaku UMKM dari lokal saja. Pameran yang digelar selama lima hari mulai Rabu hingga Minggu (11-15/2/2026) ini juga diikuti pelaku UMKM dari berbagai daerah. Salah satunya dari Provinsi Aceh.
Menempati lolasi tepat di sebelah barat pintu masuk tenda VIP, stand dari Provinsi Aceh menyajikan aneka produk unggulan. Mulai dari tas, kain pucuk rebung untuk lilit dan selendang, kopi Gayo, bubuk coklat dari Pidi Jaya, dodol nangka, dan berbagai camilan khas lainnya. Juga oleh oleh khas Aceh, yakni Asam Kana dan pisang sale.
Aneka tas cantik khas Aceh dijual mulai harga Rp35 ribu hingga Rp350 ribu dengan berbagai bentuk. Adapun kain pucuk rebung ditawarkan mulai harga Rp350 ribu hingga Rp500 ribu. Semuanya merupakan hasil karya para warga Aceh yang terdampak banjir bandang beberapa waktu lalu.
“Semua hasil produksi rumah tangga itu merupakan bagian dari UMKM Sumatera Bangkit bersama dengan Provinsi Sumatera Selatan dan Sumatera Barat,” kata Lia yang merupakan owner sekaligus koordinator aneka produk khas Aceh.
Didampingi suami dan seorang anak laki-lakinya, Lia mendapat kesempatan mengikuti Purworejo Expo dengan mendapatkan fasilitas penuh dari Kementerian Koperasi dan UMKM.
Kepada Purworejo News yang menemuinya saat pembukaan expo, Rabu (11/2/2026), Lia menuturkan, tujuannya mengikuti kegiatan ini adalah untuk membangkitkan kembali roda perekonomian para perajin UMKM di wilayah Aceh yang sempat terpuruk terdampak banjir bandang.
“Banyak dari kami yang ikut terdampak banjir karena akses jalan putus, termasuk jalur distribusi,” katanya. Setiap bulan, ia memproduksi sekitar 300 buah tas dan juga kain pucuk rebung dari berbagai ukuran. Bahkan produknya juga pernah diekspor ke Australia.

Saat ini Lia memiliki 15 karyawan yang memproduksi tas khas Aceh, kain pucuk rebung, dan kemas Kopi Gayo. Dalam pameran kali ini ia membawa barang terbatas, disesuaikan dengan kapasitas barang bawaan kargo.
“Saya juga membawa produk lain yang bisa masuk kargo seberat 60 kg supaya tidak kena charge tambahan (saat naik pesawat, Red),” ungkap Lia.
Itulah sebabnya, sebelum berangkat ia menimbang terlebih dahulu barang bawaannya sehingga tidak melebihi berat 60 kg. Dengan asumsi satu penumpang maksimal 20 kg barang bawaan.
Di Purworejo Expo, Kopi Gayo kemasan 250 dijual seharga Rp150 ribu. Meski mahal, kopi premium ini banyak diburu para pengunjung pameran. Termasuk Kapolres Purworejo, AKBP Windy Syafutra dan Sekda Suranto yang membelinya saat meninjau stand usai pembukaan expo oleh bupati.
Lia menuturkan, Kopi Gayo merupakan produk unggulan UMKM yang sudah mendunia. “Alhamdulillah di sini banyak yang suka dan membeli,” ucapnya. Selain itu, produksi lain seperti tas dan kain pucuk rebung juga dilirik oleh pengunjung pameran, terutama kaum hawa.
Bagi Lia, ini merupakan pertama kalinya ia mengenal Purworejo untuk mengikuti expo. Sebelumnya ia pernah mengikuti expo di Semarang dengan difasilitasi kementerian pula.
Lia berharap, pihaknya akan kembali dirangkul oleh kementerian. Tujuannya,
supaya pengrajin di aceh bisa kembali bangkit dan produksinya berkelanjutan. Selain juga mengenalkan produk unggulan Aceh kepada masyarakat luas. (Dia)




























































Comment