GRABAG, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membutuhkan dapur yang memenuhi standar dari pihak berwenang, termasuk terkait kerjasama dengan Badan Gizi Nasional (BGN). Meski tak mudah, Ketua Yayasan Sri Agung Sejahtera, Muhammad Jazim Khamidi berhasil memenuhi standar yang telah ditetapkan untuk membuka dapur BGN di lahan seluas 650 m2 miliknya yang berada di Jalan Raya Sangubanyau – Grabag.
Ditemui di lokasi pada Sabtu (23/2/2025), Jazim menjelaskan, Dapur BGN yang berada di Grabag maupun Ngombol miliknya telah mulai beroperasional sejak tanggal 17 Februari lalu. Hal ini tentu setelah melalui berbagai proses, baik pembangunan dapur maupun rekrutmen 100 karyawan di dua lokasi tersebut.
Saat Purworejo News masuk ke dapur BGN di Grabag, tampak lima tungku kompor gas berukuran jumbo. Demikian juga mesin penanak nasi khusus yang mampu memasak 50kg sekaligus dalam waktu setengah jam. Di dapur itu juga terdapat dua lemari pendingin berukuran jumbo.
Kemudian di ruang bertemperatur khusus, terdampak ribuan wadah makan berbahan dasar aluminium (ompreng) yang digunakan untuk menempati makanan yang akan dibagikan kepada anak-anak. Di sanalah makanan yang sudah diolah didinginkan dulu sebelum dimasukkan ke ompreng.

Jazim pun menjelaskan prosedur mengolah makanan hingga siap santap. “Sebelumya ada kontrol dari ahli gizi sebelum bahan makanan disetor. Setelah aman, antara lain tidak layu atau busuk, barulah kemudian diolah dengan dibersihkan atau dicuci dulu sebelumnya,” ungkap Jazim.
Setelah matang, masakan dimasukkan terlebih dahulu ke dapur khusus yang diberi blower dengan temperatur sesuai yang dianjurkan oleh ahli gizi sehingga makanan terjaga higienitasnya. Demikian pula sebelum dikemas di dalam wadah penyajian juga dicek ulang oleh ahli gizi. Sehingga ketika sampai sekolah yang sudah melakukan MoU agar mengecek dulu makanan yang diantar oleh tim apakah siap saji atau tidak.
Di lokasi tersebut juga disediakan mess untuk tiga petugas khusus yakni kepala dapur, ahli gizi, dan akuntan lingkungan dapur. Hal itu karena tiga petugas khusus itu bekerja sejak dini hari untuk mengkontrol kualitas makanan yang akan disajikan.
Pada Sabtu, tengah diadakan pelatihan dari Dinkes yang diikuti 100 peserta. Materinya terkait dengan pengolahan makanan agar benar-benar higienis dan sesuai standar yang telah ditetapkan.
Terkait dengan insiden telur berbau busuk yang sempat terjadi di SMPN 10, Jazim menyebutkan karena saat itu kebetulan telur berasal dari suplier, bukan peternak langsung. “Langsung kami tarik dan ganti,” ucap Jazim.
Itulah sebabnya ia tidak menerima bahan makanan sembarangan. Misalnya telur ayam yang kalau diolah menjadi berubah warna atau bentuk. “Kami ambil langsung dari peternak untuk menjamin kualitas telur. Kami kontrol betul-betul, termasuk tidak memasak sayuran bersantan,” tegasnya.
Dalam MoU disebutkan, setiap hari dapur BGN di Grabag dan Ngombol menyediakan 3.500 porsi. Hanya saja saat ini di masa percobaan baru 2.850 porsi. Rinciannya, dapur BGN Grabag 1.480 dan Ngombol 1.370 porsi. Senin mendatang, menurut Jazim, akan ada penambahan kuota. Hal itu karena banyak sekolah yang mengajukan sekitar 450 porsi untuk delapan sekolah SD dan SMP.
Dalam sehari, pihaknya mengeluarkan 115 kg beras untuk memenuhi ribuan porsi makanan. Adapun menunya diatur dari BGN. “Susu seminggu dua kali dalam seminggu. Penggantinya buah, seperti semangka, salak, atau anggur,” imbuh Jazim.
Meski memiliki tanggung jawab yang berat karena Program MBG menjadi tumpuan harapan ribuan siswa dan orang tua khususnya di wilayah Grabag dan Ngombol, bagi Jazim hal itu diniatkannya sebagai ibadah. “Insya Allah saya niatkan ibadah, bisa membantu warga masyarakat mendapatkan pekerjaan serta anak-anak dapat makan gratis secara cepat,” pungkas Jazim yang mengaku belum mendapat uang pengganti sepeserpun dari semua yang telah dikeluarkannya. (Dia)