PURWODADI, Sebanyak 80 bibit pohon mahoni ditanam di sepanjang saluran irigasi jalan masuk Desa Plandi, Kecamatan Purwodadi. Kegiatan ini merupakan program dari mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPwr) sebagai upaya memperkuat konservasi lingkungan sekaligus meningkatkan partisipasi aktif warga desa.
Menurut Ketua Tim KKN, Irfan Prastio program reboisasi tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi minimnya tutupan vegetasi di sepanjang tebing irigasi. “Area tersebut sebelumnya dinilai rawan erosi, terutama saat musim hujan, serta mengalami penurunan kualitas estetika lingkungan,” ujar Irfan.
Selain berfungsi sebagai saluran distribusi air pertanian, jalur irigasi ini juga merupakan akses utama menuju desa sehingga memiliki nilai strategis secara ekologis dan sosial.
Kegiatan dilaksanakan bersama dengan dosen dan masyarakat. Puluhan warga terlibat langsung dalam penanaman.
Lebih lanjut Irfan menyampaikan, penanaman dilakukan di sepanjang sistem irigasi yang berada di jalan masuk Desa Plandi.
Program berlangsung selama satu bulan dengan puncak kegiatan penanaman telah dilaksanakan pada Sabtu (14/2/2026) lalu.
Irfan menuturkan, kegiatan ini dilakukan karena rendahnya tutupan vegetasi di tebing irigasi yang meningkatkan risiko erosi, sedimentasi, serta menurunkan kualitas lingkungan desa.
Pelaksanaan dilakukan melalui metode partisipatif. Tahapannya meliputi observasi lokasi, koordinasi dengan perangkat desa dan warga dan pengadaan bibit berkualitas. Pelaksanaan penanaman secara gotong royong, hingga monitoring dan evaluasi pasca penanaman.

Sebelum penanaman dilakukan, tim terlebih dahulu melakukan survei lapangan untuk mengidentifikasi titik prioritas dan menyesuaikan jarak tanam. Koordinasi intensif bersama perangkat desa juga dilakukan untuk memastikan keterlibatan aktif masyarakat.
Irfan juga menjelaskan bahwa pendekatan partisipatif menjadi kunci keberhasilan program ini. “Kami tidak hanya menanam pohon, tetapi juga membangun kesadaran kolektif masyarakat. Harapannya, warga merasa memiliki dan ikut menjaga tanaman yang sudah ditanam,” tambahnya.
Pada hari pelaksanaan, peserta dibagi dalam beberapa kelompok kerja. Mereka menggali lubang tanam sesuai kedalaman standar, menempatkan bibit mahoni dengan posisi tegak, menimbun kembali tanah, serta melakukan penyiraman awal dan pemupukan dasar menggunakan kompos alami.
Salah satu warga yang terlibat, Ferdhi menyampaikan antusiasmenya terhadap kegiatan tersebut. “Kegiatan ini sangat bermanfaat. Kami jadi tahu cara menanam yang benar dan berharap pohon ini bisa memperkuat tebing irigasi agar tidak mudah longsor,” katanya.
Hasil evaluasi awal menunjukkan capaian yang positif. Tingkat keberhasilan tumbuh tanaman mencapai 87,5 persen dalam masa pemantauan awal. Selain itu, terdapat penurunan indikasi erosi ringan sebesar 25 persen berdasarkan pengamatan komparatif sebelum dan sesudah penanaman.
Tingkat partisipasi masyarakat juga meningkat signifikan, dengan sekitar 89 persen kehadiran dari warga yang diundang.
Irfan menandaskan, secara sosial, kegiatan ini memperkuat semangat gotong royong dan kolaborasi antarwarga. “Secara ekologis, pohon mahoni yang memiliki sistem perakaran kuat diharapkan mampu menahan struktur tanah, meningkatkan daya serap air, serta menciptakan lingkungan yang lebih teduh dan asri,” ungkapnya.
Tim mahasiswa KKN berharap program ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata. Monitoring lanjutan dan perawatan berkala direncanakan agar bibit yang telah ditanam dapat tumbuh optimal. Selain itu, program ini diharapkan menjadi model konservasi berbasis komunitas yang dapat direplikasi di wilayah lain dengan kondisi serupa.
Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, reboisasi di Desa Plandi menjadi bukti bahwa pelestarian lingkungan dapat dimulai dari langkah sederhana namun berdampak besar bagi keberlanjutan desa di masa depan. (Ita)




























































Comment