BERITA
Home / BERITA / 195 Tahun Purworejo dalam Perjuangan dan Sejarah Panjang

195 Tahun Purworejo dalam Perjuangan dan Sejarah Panjang

PURWOREJO, Sejarah hari jadi Purworejo diawali di sekitar tahun 1992, saat Gubernur Jawa Tengah waktu itu, H. Ismail menyarankan agar kabupaten kota memiliki hari jadinya. Atas dasar itu, maka Pemda Purworejo menyusun raperda Hari Jadi. Dari kajian Tim Akademis, muncul beberapa alternatif untuk ditetapkan sebagai hari jadi. Beberapa terkait prasasti yang ditemukan di Kabupaten Purworejo, namun ada pula terkait dengan momentum pertempuran saat Perang Jawa.

Pram Prasetyo Ahmad, tokoh birokrat senior Purworejo dalam paparannya di Hari Jadi Purworejo, Jumat (27/2/2026) menyampaikan, awalnya dari alternatif yang disampaikan tim akademis, Pemda memilih penetapan Prasasti Kayu Arahiwang sebagai hari jadi Kabupaten Purworejo. 

Berikutnya menjadi Perda 9 tahun 1994, yang menetapkan hari jadi Purworejo saat itu adalah pada tanggal 5 Oktober 901. “Kalau kita masih menggunakan perda tersebut, tahun ini kita memperingat Hari Jadi ke 1.125,” jelas Pram pada acara Sidang Paripurna Hari Jadi ke-195 Purworejo.

Di hadapan Bupati Yuli Hastuti, Wabup Dion Agasi serta pimpinan dewan, forkopimda dan kepala OPD, Pram membeberkan sejarah panjang Purworejo.
“Seiiring berjalannya waktu, terkait hari jadi Purworejo, muncul beberapa masukan dari masyarakat, diantaranya masukan ke  DPRD Purworejo, baik secara langsung maupun dalam bentuk surat,” lanjutnya.

Ia memaparkan, masukan atau saran kritik mencakup antara lain:
1. Apakah hal yang wajar Purworejo hari jadinya sudah setua itu?
2. Apakah logis Purworejo jauh lebih tua hari jadinya dibanding kota kota lainnya?
3. Apa korelasinya penetapan prasasti kayu Arahiwang dengan Purworejo yang sekarang?

Seorang Sejarawan Prof Peter Kery (Guru Besar Universitas Indonesia), dalam salah satu karya juga menyoroti Hari Jadi Purworejo yang ditetapkan dalam Perda 9 tahun 1994, karena ada alternatif dokumen yang sebenarnya lebih relevan daripada prasasti Kayu Arahiwang.

Atas pertimbangan tersebut, lanjutnya, DPRD Kabupaten Purworejo pada tahun 2018 membentuk Pansus 47 DPRD untuk membahas raperda inisiatif penetapan hari jadi Purworejo.

Melalui sidang pansus, sidang paripurna, dengar pendapat dengan masyarakat, pakar, seminar, dan juga menghadirkan  keluarga keturunan RAA Cokronegoro, serta keluarga dari keturunan Pangeran Diponegoro, maka pada tanggal 31 Januari 2019 ditetapkan Perda 1 tahun 2019 pasal 4. Yakni penetapan Hari Jadi Purworejo tanggal 27 Februari 1831.



Pendekatan etimologis dipakai oleh Pansus dalam membahas hari jadi menggunakan pendekatan. Yaitu kapan kata “Purworejo” muncul pertama kalinya di momentum yang memiliki nilai historis.
Selanjutnya Pram menyebutkan lima kreteria yang dipedomani oleh tim kaji Hari Jadi. Yakni pertanggunganjawaban historikal berdasarkan data otentik, kesatuan wilayah yang bisa dirunut hingga hari ini. Berikutnya pangkal keberlangsungan dan keberlanjutan, citra dan profil kewilayahan, serta motivasi dan kebanggaan masyarakat. Kelima unsur tersebut pun terpenuhi.

“Adapun Kata Purworejo disampaikan oleh Bupati pertama Raden Adipati Aryo Cokronegoro 1secara resmi pada publik tanggal 14 Ramadan 1264 Hijrah atau 27 Februari 1831,” ungkap Pram. Para ahli bahasa juga menegaskan, bahwa “Purworejo“ adalah kosa kata yang baru, dan belum pernah ada sebelumnya.

Lebih lanjut, mantan Assisten Administrasi dan Kesejahteraan Rakyat Setda Purworejo ini menyebutkan beberapa dokumen yang menjadi landasan penetapan. Antara lain Babad Nagari Purworejo, oleh RAA Cokronegoro 1 tahun 1840 oleh ahli sejarah Peter Carey. Dokumen ini disebut sebagai Babad Kedung Kebo yang secara teknis ditulis oleh Basah Ngamdullatif Kerto Pengalasan.

Selain itu, Babad Metaram dari Pangeran Diponegoro tahun 1832 juga menjadi landasan. Babad Mataram adalah karya yang telah mendapatkan pengakuan Internasional PBB dalam hal ini UNESCO yang pada tahun 2013 menetapkannya sebagai “Memory of the World”.

Secara teknis Babad ini ditulis oleh ipar Pangeran Diponegoro yang ikut dalam pengasingan di Menado, yakni Tumenggung Dipowiyono.

Dokumen lainnya, berasal dari laporan Komisaris Wilayah Kerajaan, Lewiick van Pabst terkait perubahan nama
Brengkelan menjadi Purworejo kepada Residen Bagelen tanggal 27 Februari 1831.

Adipati Cokrojoyo yang saat itu Bupati Brengkelan, menyampaikan perubahan  Brengkelan menjadi Purworejo. “Pada saat itu sekalian diumumkan bahwa beliau yang semula Kanjeng Raden Tumenggung Cokrojoyo mengubah nama diri menjadi Raden Adipati Arya Cokronegoro,” jelas Pram.

Ada setidaknya empat aspek yang mewarnai momentum 27 Februari 1831 dan menjadi bagian yang penting jika  ingin memahami lahirnya Kabupaten Purworejo. Pertama, perubahan penyebutan untuk wilayah yang antara lain meliputi Tanggung, Brangkilen, Kedungkebu, Loano, Bragolan, Banyuurip yang semula bagian Kadipaten Brengkelan menjadi Purworejo.
   
Secara politis, mengubah Brengkelan menjadi Purworejo ada ungkapan atas keberadaan dan tekad kemandirian, tidak semata mata menerima keputusan atau Beslit dari Belanda. Karena setelah tahun 1828 Reksodiwiryo diangkat sebagai
Bupati Tanggung oleh Susuhunan Pakubowono VI. Bulan Desember 1830 Belanda menetapkannya menjadi Bupati Brengkelan.Pada saat mengubah nama diri dari KRT Cokrojoyo sebagai gelar Bupati Tanggung oleh Kasunanan Surakarta, ada semacam penegasan atas jati diri atau bahkan kritik atas kebijakan Kasunanan Surakarta yang menyerahkan wilayah Bagelen kepada Belanda.

Pram menyebut, perubahan nama menjadi “Purworejo” adalah doa dan harapan agar di wilayah tersebut semakin makmur dan unggul dalam berbagai bidang. Juga menjadi masyarakat yang sejahtera lahir dan batin, atau mulia.

Disamping itu, penyampaian perubahan nama diri dan wilayah oleh RAA Cokronegoro di malam bulan Ramadan tentu ada pertimbangan tertentu, setidaknya aspek religius didalamnya.

Kata Purworejo, bukan semata mata nama yang dipilih oleh RAA Cokronegoro I untuk menggantikan kata Brengkelan. Namun itu adalah langkah strategis yang menyatukan visi masyarakat untuk membangun masa depan.

Langgar Kode Etika Polri, Seorang Anggota Satsamapta Polres Purworejo Berdinas 31 Tahun Dipecat

Seperti kita ketahui bahwa seusai perang Jawa ada kondisi wilayah yang perlu di tangani. Masyarakat yang belum kondusif sebagai dampak perang Jawa, kerusakan wilayah sebagai dampak perang, perbedaan orientasi budaya dan orientasi otoritas yang jika dibiarkan akan
menciptakan situasi stagnan atau kontra produktif.

“Oleh karenanya memahami Sejarah Hari Jadi Kabupaten Purworejo bukan semata mata perubahan nama, namun ada nilai- nilai heroik didalamnya. Ada doa dan harapan, jati diri dan kemandirian, serta visi dan strategi yang jelas untuk menyongsong hari esok yang lebih baik,” pungkas Pram. (Dia)

Latest Posts

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

DPRD Hari Jadi 2026
previous arrow
next arrow
NEW CAKTI
previous arrow
next arrow
ESDM
previous arrow
next arrow
MTSN 1
previous arrow
next arrow
GAPENSI
previous arrow
next arrow
SINAR HARAPAN
previous arrow
next arrow

SEKILAS PURWOREJO

Laka Lantas di Jalan Tentara Pelajar Purworejo, Kopada Berpenumpang Pelajar Terguling Usai Tabrak Motor

PURWOREJO, Purworejonews.com. Sebuah angkutan umum Kopada yang membawa sejumlah pelajar saat pulang sekolah, terbalik setelah menabrak sebuah sepeda motor yang ...

Dengarkan Aspirasi Masyarakat, Panitia Akhirnya Rebranding dan Sayembarakan Logo Hari Jadi ke-194 Purworejo

PURWOREJO, Beberapa saat setelah dilaunching pada Jum'at (31/1/2025) siang, logo Hari Jadi ke-194 Kabupaten Purworejo mendapat kritikan dan masukan dari ...

Dihuni 86 KK, Populasi Kambing di Desa Gunung Wangi Purworejo Lebih Banyak dari Jumlah Warganya

KALIGESING, Desa Gunung Wangi di Kecamatan Kaligesing, menjadi salah satu pilihan dalam uji paket wisata yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata, ...

Sayur Blibar Khas Desa Pucungroto Purworejo, Tunggu 3 Hari Baru Bisa Dinikmati

KALIGESING, Sayur Blibar merupakan masakan tradisional khas Desa Pucungroto Kecamatan Kaligesing, Purworejo. Sayuran yang bahan bakunya berasal dari biji buah ...

Ditarik dari Pantai Jatimalang, Ribuan Warga Saksikan Proses Penguburan Hiu Tutul Seberat 4,2 Ton

PURWODADI, Ribuan warga yang berasal dari berbagai wilayah tumpah ruah di sekitar area hiu tutul (Rhincodon Typus) yang terdampar dan ...

Paguyuban Pedagang Pasar Baledono Undang Gus Miftah, Ribuan Warga Tumpah di Jalan A Yani Purworejo

PURWOREJO, Pengajian dai kondang Gus Miftah yang digelar di depan Pasar Baledono, Purworejo, pada Selasa (8/8) malam dihadiri ribuan warga ...

Gaji Rp 11 Juta Sebulan, Jabatan Direktur PDAU Kurang Diminati Masyarakat

PURWOREJO, Kursi Direktur Perumda Aneka Usaha (PDAU) Purworejo yang kosong sejak pejabat lama terjerat kasus pidana, tampaknya kurang diminati oleh ...

NASIONAL

Mengenal Desa Rejoagung, Potensi Meningkat Usai Program Penataan Akses Reforma Agraria*

JOMBANG, Di Desa Rejoagung, Kabupaten Jombang, Jawa Tiimur, air bukan hanya berkah, melainkan juga pintu pembuka rezeki baru bagi warganya ...

Wisuda 624 Taruna/i STPN, Menteri ATR/BPN Sampaikan Hal Ini

SLEMAN, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, mewisuda 624 Taruna/i Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN) ...

Wujudkan Tata Kelola Anggaran Transparan dan Akuntabel, Sekjen Kementerian ATR/BPN Beri 3 Pedoman

JAKARTA, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) mengadakan Bimbingan Teknis (bintek) untuk menyamakan persepsi 88 Satuan Kerja (Satker) ...

Temu Karya Teladan, Seorang Warga Desa Donorejo Purworejo Terima Penghargaan Wana Lestari Tingkat Nasional

JAKARTA, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia menggelar acara Temu Karya Teladan Penerima Penghargaan Wana Lestari Tingkat Nasional Tahun 2025 di Jakarta ...

Meriahkan HUT ke-80 RI, Kementerian ATR/BPN Bakal Turut Ramaikan Karnaval Kemerdekaan

JAKARTA, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) ikut meramaikan Karnaval Kemerdekaan untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 ...

MoU dengan 44 Kampus, Wagub Jateng Minta Mahasiswa KKN Dampingi Perangkat Desa Validasi Data RTLH

SEMARANG, Keterlibatan mahasiswa dalam program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik diharapkan dapat mendampingi masyarakat dan perangkat desa dalam mewujudkan data ...

Buka Acara Table Tennis Championship, Menteri Nusron Sampaikan Semangat Kesetaraan Atlet Disabilitas

JAKARTA, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menghadiri Table Tennis Championships yang diselenggarakan oleh National ...

Unissula Bersholawat, Taj Yasin Ajak Masyarakat Seimbangkan Perawatan Ruh dan Jasad

SEMARANG, Lantunan shalawat bergema di Auditorium Universitas Sultan Agung Semarang dalam acara Unissula Bersalawat pada Senin (4/8/2025) malam. Momen tersebut ...

Jadi Layanan Paling Banyak Diakses Masyarakat, Ini Penjelasan Soal HT dan Roya Elektronik bagi Debitur Perorangan

JAKARTA, Hak Tanggungan (HT) adalah hak jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah beserta objek lain yang melekat di atasnya, ...

Sampaikan 10 Capaian di Depan DPRD, Wagub Jateng: Tidak Ada Superman, Adanya Superteam

SEMARANG, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maemoen mengajak semua pihak untuk bersama-sama membangun Jawa Tengah sebagai superteam. Hal itu ...

SOSOK

Drama Malam Itu Menegaskan Bahwa Indonesia Ada Dalam Peta

Oleh: Azis Subekti *) Malam di Indonesia Arena tidak hadir sebagai kebetulan. Ia seperti halaman yang lama ditahan untuk dibuka—pelan, ...
/ OPINI, SOSOK

Prabowo Dibentuk Proses, Bukan Kekuasaan

Oleh: Azis Subekti * Tidak semua manusia tumbuh dalam ketenangan yang sama. Sebagian dibesarkan oleh satu tempat yang menetap, sebagian ...
/ OPINI, SOSOK

Akal Budi sebagai Fondasi Bangsa: dari Pelajaran Jepang ke Ikhtiar Indonesia

Oleh: Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Ketika Hiroshima runtuh menjadi hamparan puing akibat ledakan bom atom, dunia seakan ...
/ OPINI, SOSOK

Kepengurusan PWRI Puworejo Ajak Anggota Tamasya dan Dirikan Koperasi

PURWOREJO, Soekoso DM kembali terpilih menjadi Ketua Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kabupaten Purworejo Masa Bhakti 2024-2029. Bupati Yuli Hastuti ...
/ SOSOK

Pilkades Sangubanyu, Utet Barli Manuhana Bertekad Kembalikan Kejayaan Desa

GRABAG, Desa Sangubanyu Kecamatan Grabag merupakan salah satu wilayah yang paling banyak jumlah calon kepala desa (calkades) pada ajang Pilkades ...
/ SOSOK

12 Hari Ikut Jambore Dunia, Zayana Fathania Ceritakan Pengalamannya

PURWOREJO, Satu-satunya wakil Purworejo yang mengikuti Jambore Dunia di Korea Selatan yakni Zayana Fathania, siswa kelas 9F SMPN 2, telah ...
/ BERITA, SOSOK

WISATA

Ribuan Orang Saksikan Ritual Sedekah Laut di Pantai Genjik

GRABAG, Para nelayan di Desa Kertojayan, Kecamatan Grabag, yang tergabung dalam Langgeng Raharjo, menggelar ritual sedekah laut di Pantai Genjik, ...

Bupati Ingin Art Center Jadi Ikon dan Magnet Wisata Perkotaan

PURWOREJO, Bupati Purworejo Agus Bastian meresmikan gedung Art Center Purworejo yang terletak di kompleks pendopo kabupaten, Jumat (4/8). Peresmian ditandai ...

BSD di Kaligesing, Bupati Tinjau Makam Syekh Maulana Maghribi

KALIGESING, Bupati Purworejo Agus Bastian kembali melaksanakan kegiatan Bupati Saba Desa (BSD) di Kecamatan Kaligesing, Senin (24/7). Secara berurutan rombongan ...

OPINI

Drama Malam Itu Menegaskan Bahwa Indonesia Ada Dalam Peta

Oleh: Azis Subekti *) Malam di Indonesia Arena tidak hadir sebagai kebetulan. Ia seperti halaman yang lama ditahan untuk dibuka—pelan, ...

Prabowo Dibentuk Proses, Bukan Kekuasaan

Oleh: Azis Subekti * Tidak semua manusia tumbuh dalam ketenangan yang sama. Sebagian dibesarkan oleh satu tempat yang menetap, sebagian ...

Akal Budi sebagai Fondasi Bangsa: dari Pelajaran Jepang ke Ikhtiar Indonesia

Oleh: Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Ketika Hiroshima runtuh menjadi hamparan puing akibat ledakan bom atom, dunia seakan ...

Menjaga Air, Menjaga Nurani: Catatan dari Danau Menjer

Oleh: Azis Subekti, Anggota DPR RI Komisi II, Dapil Jawa Tengah VI Ada lanskap yang tak pernah meminta apa-apa selain ...