Oleh: Azis Subekti *
Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai perayaan kemenangan, melainkan sebagai penanda jalan. Sebab dalam politik, kemenangan yang tidak disertai ingatan kerap menjadi awal dari kelalaian. Partai Gerindra memasuki usia ke-18 dengan satu pengalaman penting: bahwa waktu adalah variabel politik yang tidak bisa dipercepat, hanya bisa dikelola dengan kesabaran dan disiplin.
Gerindra lahir pada 2008 bukan dari kelapangan kekuasaan, tetapi dari rasa belum selesai terhadap arah republik. Sejak awal, Gerindra memilih jalur yang tidak selalu nyaman: organisasi lebih dulu, euforia belakangan. Struktur dibangun sebelum sorotan datang, kader dipersiapkan sebelum kursi tersedia. Pilihan ini membuat Gerindra tampak kaku bagi sebagian orang, tetapi justru memberi daya tahan ketika politik nasional bergerak cepat dan sering kehilangan arah.
Masuk parlemen pada 2009 adalah pijakan awal, bukan tujuan. Di fase ini, Gerindra belajar bahwa suara rakyat tidak datang sebagai hadiah, melainkan sebagai titipan yang menuntut kerja berulang. Politik dipahami sebagai rutinitas yang melelahkan—mengunjungi daerah, menjaga struktur, dan merawat keyakinan bahwa partai harus tetap hidup bahkan ketika belum menang. Di sinilah watak jangka panjang mulai terbentuk.
Kekalahan Pilpres 2009 kemudian 2014 menjadi momen pembelajaran yang menentukan. Prabowo Subianto kalah, tetapi partai tidak runtuh. Kekalahan itu justru menguji sesuatu yang lebih mendasar: kesetiaan pada proses. Gerindra memilih menjadi oposisi dengan kesadaran penuh bahwa oposisi bukan sekadar sikap, melainkan fungsi. Kritik diarahkan untuk menjaga kewarasan demokrasi, bukan untuk merawat dendam. Dalam fase ini, partai belajar berdiri tegak tanpa kekuasaan—pelajaran yang mahal, tetapi membentuk karakter.
Sepuluh tahun berada di luar pemerintahan memperjelas satu hal: oposisi yang terlalu lama bisa berubah menjadi identitas kosong jika tidak disertai refleksi. Kekalahan ketiga pada 2019 memaksa Gerindra bercermin lebih dalam. Keputusan untuk masuk ke pemerintahan pada saat itu bukan lompatan emosional, melainkan langkah sadar bahwa politik juga menuntut keberanian untuk berubah posisi tanpa kehilangan prinsip. Dari luar, keputusan ini tampak kontradiktif; dari dalam, ia adalah upaya membaca ulang medan.

Perubahan posisi itu menggeser cara publik melihat Prabowo. Dari figur yang identik dengan perlawanan, ia perlahan tampil sebagai sosok yang bekerja dalam sistem, berbicara dengan bahasa stabilitas, dan menempatkan pengalaman sebagai modal politik. Transformasi ini tidak terjadi seketika. Ia berjalan seiring dengan perubahan cara partai mengelola pesan: lebih tenang, lebih terukur, dan lebih sadar bahwa pemilih Indonesia telah berubah—lebih muda, lebih cair, dan kurang tertarik pada konflik lama.
Yang kerap luput dibicarakan adalah kerja sunyi yang menopang semua itu. Pendidikan kader yang konsisten, perawatan struktur yang tidak tergesa, kerja senyap tokoh-tokoh kunci dan disiplin organisasi yang dijaga bahkan ketika tidak disorot kamera. Inilah aspek yang jarang viral, tetapi justru menentukan. Gerindra tidak dibesarkan oleh momen, melainkan oleh rutinitas. Bukan oleh sorak, melainkan oleh kesabaran. Banyak tokoh dan kader militan yang terlibat secara totalitas di dalamnya.
Kemenangan 2024 akhirnya hadir sebagai akumulasi, bukan kejutan. Ia terasa “pasti” bukan karena diramalkan, melainkan karena dipersiapkan lama. Prabowo berdiri sebagai simbol stabilitas, tetapi kemenangan itu sejatinya adalah kemenangan waktu—waktu yang diisi dengan kegigihan, koreksi diri, dan kesediaan untuk menunda kepuasan.
Bagi Gerindra ke depan, usia 18 tahun seharusnya menjadi pengingat, bukan garis finis. Bahwa partai ini pernah kalah tiga kali dalam kompetisi demokratis pimpinan nasional bersama Prabowo Subianto dan tetap bertahan karena tidak tergoda jalan pintas. Bahwa kekuasaan pernah diraih justru setelah kesabaran diuji berkali-kali. Ingatan semacam ini penting agar kemenangan tidak berubah menjadi kealpaan.
Bagi publik, perjalanan ini menyisakan satu pelajaran yang lebih luas: dalam politik yang sering gaduh dan serba cepat, yang paling bertahan bukan mereka yang paling keras, melainkan mereka yang paling tekun mengelola waktu. Dan dalam pengelolaan waktu itulah, politik menemukan maknanya sebagai kerja panjang—bukan sekadar perebutan sesaat.
*)Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Dapil Jawa Tengah VI

