PURWOREJO, Taman Kota dan Bumi Perkemahan Heroes Park Purworejo tengah diproyeksikan menjadi kebun raya bertaraf dunia. Rencana tersebut disampaikan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Purworejo, Wiyoto Harjono, saat menghadiri Tasyakuran Hari Pers Nasional, Senin (9/2/2026) di area Heroes Park.
Kawasan seluas 10,46 hektare itu akan dikembangkan menjadi Kebun Raya Heroes Park dengan tema etnobotani. Yakni kebun raya yang berbasis pada keunikan tanaman dan kearifan lokal Purworejo. Pengembangannya akan terintegrasi dengan kawasan Perbukitan Menoreh hingga Bagelen.
Salah satu ikon utama yang diunggulkan adalah pohon nyamplung yang telah dikenal sebagai tanaman konservasi khas Purworejo.
“Di kawasan selatan sudah ada hutan nyamplung, salah satu konservasi yang sudah tercatat. Hal inilah yang mendasari kita mengambil nyamplung sebagai ikon Kebun Raya Heroes Park,” jelas Wiyoto.
Ke depan, Heroes Park akan dibagi dalam sejumlah zona tematik. Di antaranya zona tanaman obat, pangan, serta zona toponim, yakni penamaan lokasi berdasarkan jenis tanaman yang tumbuh di dalamnya.
Selain itu, sebagian kawasan juga akan dikembangkan menjadi hutan kota. Wiyoto menambahkan, proses menjadikan Heroes Park sebagai kebun raya nasional telah dimulai sejak 2024. Pada 2025, tahapan pengumpulan koleksi tanaman dilakukan dan masih terus berjalan hingga saat ini.

“Untuk menjadi sebuah kebun raya membutuhkan waktu bertahun-tahun. Semua dilakukan secara bertahap, hingga nantinya kawasan ini benar-benar kembali sesuai fungsinya,” ujarnya.
Dalam tahap pengumpulan koleksi, tidak semua tanaman otomatis menjadi bagian dari koleksi kebun raya. Setiap tanaman akan melalui proses kurasi dan dikonsultasikan dengan BRIN agar memenuhi standar ilmiah.
Kehadiran Kebun Raya Heroes Park pun diharapkan menjadi pusat edukasi lingkungan bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
“Tanaman yang sering dijumpai, terkadang anak-anak tidak mengetahui nama dan fungsinya. Dengan kebun raya ini, mereka bisa belajar,” kata Wiyoto.
Ia menegaskan, kebun raya bukan sesuatu yang statis, melainkan kawasan yang akan terus berkembang mengikuti temuan- tanaman baru, khususnya yang berasal dari Purworejo.
Karena itu, masyarakat juga diharapkan ikut berpartisipasi. “Jika menemukan jenis tanaman baru atau langka, silakan melaporkan ke dinas (LHP, Red),” pungkasnya. (Ita)

