PURWOREJO, Kegiatan Forum Konsultasi Publik (FKP) yang diadakan RSUD Tjokronegoro Purworejo menjadi ajang menjaring masukan, saran, hingga kritik membangun untuk rumah sakit plat merah tipe C tersebut.
Dalam FKP yang dihelat di Aula RS pada Rabu (30/9/2026) tersebut, pihak manajemen mengundang berbagai elemen. Yakni DRPD yang dihadiri anggota dari dapil 4, KH Ahmad Tawabi, Kepala Bagian Organisasi Setda Sigit Kurniawan Saputro, Plt Kadinkesda dr. Budi Susanti, perwakilan Dishub, Organda, akademisi, nakes, komunitas, dan LSM.
Dalam kesempatan tersebut, Ahmad Tawabi antara lain menyampaikan pesan kepada jajaran direksi RSUD Tjokronegoro, apabila jarang pasien jangan mengeluh. “Malah bersyukur karena itu artinya masyarakat Purworejo sehat,” ujarnya. Selain itu menurutnya kesembuhan sakit juga tidak terlepas dari pelayanan rumah sakit.
Adapun Direktur RSUD Tjokronegoro, dr. Nunik Sulistyaningsih saat awal paparannya menyebutkan, tanggal 1 September 2026 RSUD Tjokronegoro berusia enam tahun. Adapun tema FKP kali ini yakni transformasi enam tahun RSUD Tjokronegoro menguatkan mutu, menghadirkan kepercayaan.
Ia pun menjelaskan tindak lanjut FKP tahun 2025. Meliputi tempat parkir yang nanti akan ada atap untuk motor, marka dan penerangan jalan di sekitar RSUD sudah mamadai, perbaikan waktu tunggu layanan termasuk estimasi obat dapat dipantau lewat HP. Selain itu, berupa penambahan kursi tunggu terutama di poli penyakit dalam dan syaraf, serta pembaharuan website.
“Sedangkan tahun ini dilakukan perubahan standar layanan publik pada rawat jalan (rajal), farmasi, dan hemodialisa (cuci darah). Pasien HD sekarang mengalami peningkatan lo, karena setiap hari pasti ada yang HD,” ungkap dr. Nunik.
Ia juga mengungkapkan, berdasarkan hasil survei melalui indeks kepuasan masyarakat (IKM) sebesar 88,31 dengan standar tertinggi pada kewajaran biaya. Adapun target IKM tahun depan 93.
Disebutkan pula layanan aduan melalui akun pemda, RS maupun medsos. Selama enam tahun total aduan sebanyak 66. Bulan Januari sampai September 2026 ada 11 aduan, paling banyak via WA. Tertinggi terkait prosedur layanan.
Terkait kebutuhan ruang perawatan, dr. Nunik menyatakan, paling banyak di kelas 1 dan kelas 3, sehingga kelas VVIP jadi kelas 3.
Adapun transformasi layanan kesehatan, menurutnya, layanan rajal sudah cukup lengkap. Nantinya akan ada neurologi, termasuk konsultasi gigi. Selain juga efisiensi waktu dengan adanya pengantar obat via pos.
Meski demikian, masih terdapat beberapa prioritas perbaikan, yakni:
1. Peningkatan Mutu Layanan secara berkelanjutan,
2. Efisiensi Waktu Tunggu Obat Rawat Jalan,
3. Pemeliharaan Ruang Rawat lalan dan Rawat Inap agar lebih nyaman,
4. Peningkatan Sarana dan Prasarana RS Berbasis Kompetensi,
5. Penerapan Edukasi Pasien dengan mengedepankan Senyum dan Sapa.
Pihaknya juga menjelaskan, perubahan alur pelayanan Farmasi Rawat Jalan dan IGD. Perubahan yang dilakukan berupa penerbitan nomor antrean pelayanan farmasi secara otomatis melalui SIM RS setelah DPJP melakukan entry e-Resep.
Adapun pada versi sebelumnya, pasien atau keluarga menuju Depo Farmasi dan menyerahkan checklist bukti pelayanan kepada petugas farmasi. “Perubahan ini menunjukkan integrasi proses antrean farmasi dengan entry e-Resep melalui SIM RS,” lanjutnya.
Dr. Nunik menandaskan, saat ini layanan unggulan di RSUD Tjokronegoro berupa layanan bedah minimal invasif yang menjadi satu-satunya di Purworejo.
Dalam FKP tersebut muncul banyak masukan, saran, dan kritik kepada pihak RSUD Tjokronegoro dari para peserta. Menurut dr. Nunik hal tersebut akan dapat dijadikan untuk mengembangkan layanan agar semakin berkembang dan maju.
Di penghujung kegiatan, baik Kabag Organisasi Setda maupun Plt Kadinkes memberikan apresiasi kepada pihak manajemen RSUD Tjokronegoro yang menyelenggarakan FKP meskipun baru sebatas setahun sekali. Keduanya berharap RSUD dapat terus berkembang dan maju serta memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat Purworejo. (Dia)


































Comment