PURWOREJO, Sebagai upaya pelestarian warisan budaya tak benda berupa seni, Koordinator Wilayah Kecamatan Bidang Pendidikan (Korwilcambidik) Banyuurip menggelar Lomba Cingpoling untuk siswa SD dan guru di wilayah tersebut.
Lomba yang diadakan di Aula PGRI, Sabtu (17/1/2026) ini diikuti perwakilan dari 25 SD serta delapan tim dari delapan gugus yang ada di Kecamatan Banyuurip. Setiap peserta membawakan tarian Cingpoling yang memiliki kekhakhasan sebagai tari prajurit, dengan iringan Lagu Padang Bulan berdurasi tujuh menit.
“Unsur penilaian berupa harmonisasi, kekompakan, kostum, dan pola lantai berkelompok. Adapun juri berasal dari guru tari dari SMPN 3, SMPN 4, dan SMPN 30,” ungkap Ketua Korwailcambidik Banyuurip, Ika Mery Widharningsih usai pembukaan.
Sebagai bentuk apresiasi, panitia memberikan hadiah berupa piala dan piagam. Kategori siswa SD diberikan pemghargaan untuk juara 1 sampai harapan 3. Sedangkan untuk kategori guru hanya juara 1 sampai 3.
Dijelaskan bahwa kegiatan ini merupakan hasil dari diseminasi seni Tari Cingpoling yang dilakukan oleh Disdikbud. “Kegiatan ini merupakan tindak lanjut adanya diseminasi Tari Cingpoling dari Disdikbud berupa pelatihan dengan peserta guru seni. Nah, guru yang sudah ikut pelatihan kemudian mendesiminasikan hasilnya di tingkat kecamatan,” kata Ika Mery.
Menurutnya, lomba ini merupakan wujud apresiasi dari pihak Korwilcambidik Banyuurip terhadap keberlanjutan kesenian tradisional Cingpoling. “Ini sebagai upaya memperkenalkan Tari Cingpoling kepada siswa didik, selain Dolalak yang selama ini sudah mereka kenal,” imbuh Ika Mery.
Ia berharap, dengan diselenggarakan lomba ini siswa lebih mengenal warisan budaya Purworejo, sehingga nanti bisa dikembangkan untuk lebih ditingkatkan.

Kadisdikbud Yudhie Agung Prihatno yang hadir didampingi Kabid Kebudayaan, Dyah Woro Setyaningsih, mengapresiasi kerjasama antara Korwilcambidik Banyuurip dengan MKKS dan KKG ini. Menurutnya, hal ini perlu dilakukan karena Cingpolling sudah dijadikan sebagai Warisan Budaya Tak Benda sejak tahun 2021.
“Kegiatan semacam ini kami gelorakan sebagai upaya kita nguri-nguri kebudayaan. Maka di sekolah-sekolah didorong untuk mengadakan pelatihan-pelatihan dan sakarang sudah masif,” kata Yudhie.
Ia menyebutkan, lomba Cingpoling menjadi penyemangat bagi pihak yang selama ini sudah melakukan latihan, kemudian berlanjut menjadi lomba. Selain juga sebagai pemicu anak didik dan guru mengekspresikan dirinya. Menurut Yudhie, lomba ini juga bertujuan untuk mengenalkan kepada anak-anak tentang seni budaya.
Di Purworejo, lanjut Yudhie, hanya tinggal dua grup Cingpoling yang masih bertahan. Yakni di Kecamatan Kaligesing dan Pituruh. Itupun anggotanya sudah berusia lanjut. Ia pun berencana akan mengadakan lomba semacam ini di tingkat kabupaten yang diikuti perwakilan 16 kecamatan.
“Sebelumnya sudah kami rencanakan, tapi terkendala anggaran. Mudah-mudahan ke depan benar-benar bisa kita selenggarakan,” harap Kadisdikbud.
Ia menegaskan, kesenian Cingpoling ini nantinya akan disinergikan dengan konsep Sekolah Adi Budaya. “Jadi Sekolah Adi Budaya yang akan kita gulirkan ini tidak hanya tentang seni saja, tetapi juga akan masuk dalam kegiatan sekolah Adi Budaya,” tandasnya.
Sebelumnya, Tari Cingpoling juga tampil di TMII Jakarta sebagai Duta Seni Purworejo. Selain menjadi Duta Seni Purworejo, Tari Cingpoling ini juga mendapatkan apresiasi sebagai penyaji unggulan saat tampil di sana. (Dia)

