Oleh: Azis Subekti, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra
Ketika Hiroshima runtuh menjadi hamparan puing akibat ledakan bom atom, dunia seakan menyaksikan ambruknya nalar kemanusiaan. Namun di tengah kehancuran yang nyaris total itu, Kaisar Hirohito justru mengajukan pertanyaan yang melampaui logika perang. Ia tidak meminta laporan tentang sisa kekuatan militer, tidak pula menghitung cadangan logistik. Ia bertanya tentang guru—berapa banyak yang masih hidup.
Pertanyaan ini menandai sebuah kesadaran mendalam: masa depan bangsa tidak ditentukan oleh apa yang tersisa dari peperangan, melainkan oleh siapa yang mampu menumbuhkan kembali akal dan karakter manusia.
Keputusan Jepang pascaperang adalah keputusan yang sunyi namun menentukan. Mereka tidak membangun kebangkitan melalui slogan, melainkan melalui kerja sistematis di ruang-ruang pendidikan. Sekolah dijadikan pusat pemulihan peradaban, guru ditempatkan sebagai figur terhormat, dan proses belajar diarahkan untuk membentuk disiplin, tanggung jawab, serta ketekunan.
Hasil dari pilihan ini bukan sekadar kemajuan ekonomi, tetapi transformasi kualitas manusia. Jepang tumbuh sebagai bangsa dengan tingkat literasi tinggi, kemampuan inovasi kuat, dan etos kerja yang menjadi rujukan dunia. Semua itu berakar dari satu kesadaran awal: membangun manusia adalah prasyarat bagi kebangkitan bangsa.
Sejarah Jepang memberi pelajaran penting bahwa pendidikan tidak bekerja dalam bentuk janji, melainkan melalui keberlanjutan tindakan. Mereka memastikan anak-anak tumbuh dengan gizi memadai, sekolah hadir hingga ke komunitas paling dasar, dan pengetahuan dapat diakses secara luas.
Investasi ini membentuk daya tahan nasional yang membuat Jepang mampu bertahan menghadapi krisis ekonomi, bencana alam, dan perubahan global yang cepat. Cermin sejarah itu kini relevan bagi Indonesia.
Dalam satu tahun terakhir, di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, negara mulai menempatkan pendidikan sebagai poros pembangunan, bukan sekadar sektor pelengkap. Program makan bergizi bagi anak sekolah, santri pesantren, ibu hamil, dan balita merupakan langkah mendasar yang berangkat dari fakta ilmiah: kecerdasan tidak mungkin berkembang optimal tanpa pemenuhan gizi. Bangsa yang ingin maju harus terlebih dahulu memastikan generasinya tumbuh sehat secara fisik dan mental.
Langkah tersebut berjalan seiring dengan perluasan akses melalui peningkatan penerima beasiswa, agar pendidikan tidak lagi menjadi hak istimewa mereka yang mampu secara ekonomi. Perbaikan sekolah-sekolah yang rusak bukan hanya soal bangunan, melainkan pemulihan martabat ruang belajar.
Di wilayah terpencil, pembangunan akses jalan dan infrastruktur dasar menegaskan bahwa kehadiran negara adalah syarat bagi pendidikan yang hidup. Sekolah rakyat berasrama gratis memberi harapan nyata bagi anak-anak dari keluarga miskin untuk keluar dari lingkaran ketertinggalan, sementara pembangunan sekolah unggulan dan perluasan SMA berstandar nasional berkualitas menyiapkan generasi pemimpin dengan disiplin, karakter, dan daya saing akademik.
Pada level pendidikan tinggi, kerja sama dengan universitas-universitas terkemuka di Inggris membuka jalur transfer pengetahuan dan standar global langsung ke dalam negeri, mempersempit jarak antara Indonesia dan pusat-pusat ilmu dunia.
Rangkaian kebijakan ini menunjukkan bahwa pembangunan manusia sedang dijalankan sebagai kerja nyata, bukan sekadar narasi. Negara mulai bekerja dari hulu: dari tubuh yang sehat, pikiran yang terasah, dan lingkungan belajar yang layak. Namun pengalaman Jepang juga mengajarkan bahwa negara tidak pernah bekerja sendirian.
Keberhasilan pendidikan lahir dari keterlibatan kolektif—guru yang berdedikasi, orang tua yang peduli, masyarakat yang menghargai ilmu, dan dunia usaha yang memberi ruang bagi pengetahuan untuk tumbuh.
Di titik inilah kesadaran bersama perlu digugah. Tidak ada bangsa besar yang lahir tanpa kesediaan seluruh elemen masyarakat untuk mendidik generasinya. Pemerintah dapat membuka jalan, tetapi akal budi hanya akan berkembang bila kita semua ikut menumbuhkannya. Saatnya berhenti sekadar mengamati perubahan, dan mulai mengambil peran di dalamnya.
Dari rumah, sekolah, pesantren, kampus, hingga ruang publik, inilah momentum untuk bangkit bersama—membangun akal budi, menajamkan kecerdasan, dan memastikan masa depan Indonesia ditopang oleh manusia yang berpikir jernih, berkarakter kuat, dan bertanggung jawab pada bangsanya.

