Wiwit Sugiarti, S.Kep, Ns, M.Kep (CWCS), Owner Rumah Perawatan Luka Modern GMW

Wiwit Sugiarti, S,Kep., Ns.,M.Kep (CWCS). Di usianya yang akan memasuki 42 tahun pada 28 Juli mendatang, lebih dari separuhnya atau tepatnya selama 24 tahun diabdikan sebagai seorang nakes, dari
perawat biasa hingga kini sebagai Infection Prevention Control Nurse
(IPCN) atau perawat pencegah dan pengendali infeksi.

Di Purworejo, Wiwit, begitu ia biasa dipanggil, merupakan satu-satunya
nakes yang memiliki tempat perawatan luka dengan teknik modern dressing. Tempat praktek yang terletak di Desa Dukuhrejo RT 2 RW 3 Kecamatan Bayan itu diberinya nama Griya Mutiara Woundcare (GMW) yang mulai didirikan tahun 2015 hingga sekarang.

Wiwit mengawali karirnya sebagai perawat sejak berusia 19 tahun, tepatnya selepas SPK Depkes Magelang tahun 1997. Setahun kemudian dirinya dinikahi pria idamannya, Suhadi. “Nikah muda. Suami saya gak mau nunggu terlalu lama, selak diambil orang katanya,” kata Wiwit sambil tergelak.

Meski begitu, Suhadi yang waktu itu masih berdinas sebagai TNI semakin
mensupport karir istri tercintanya. Enam tahun setelah menikah, tepatnya tahun 2003, tutur Wiwit, ia menyelesaikan studi D3
Keperawatan di UM Magelang. 10 tahun kemudian barulah ia menyelesaikan studi S1 Keperawatan STIKES Muhammadiyah Gombong.

Tahun 2014 saat usianya 35 tahun Wiwit menyandang gelar Ners. Ia langsung tancap gas menyelesaikan studi S2 Keperawatan di UMY, dan tercatat sebagai wisudawan terbaik pada Program Pascasarjana UMY
Periode I Tahun 2017/2018.

Wiwit yang murah senyum itu tercatat sebagai Dosen Stikes Guna Bangsa. Ia juga pernah menjadi seorang Praktisi Hemodialisa sebelum akhirnya menjadi IPCN RSUD Dr Tjitrowardojo.

Wiwit dan suaminya yang kini jadi Kades Dukuhrejo

Sejumlah jabatan dalam organisasi pernah dipegang oleh sulung dari tiga bersaudara itu. Diantaranya Bendahara PPNI DPK RSUD Dr Tjitrowardojo, Bendahara IPDI Kedu, Ketua Bidang Dalam Negeri dan Luar Negeri IPDI Kedu, Koordinator Wilayah Purworejo InWOCNA Jateng.

Terkini, Wiwit menjabat sebagai Sekretaris Komite PPI RSUD Dr Tjitrowardojo Purworejo sekaligus Sekretaris Tim Covid-19 RSUD Dr Tjitrowardojo.

Tak hanya itu, sejumlah pelatihan pun pernah diikuti untuk mengasah
skillnya. Sebut saja Pelatihan Hemodialisa (2004), Pelatihan CAPD (2013), Pelatihan Woundcare Spesialis (2017), Pelatihan PPI Dasar (2017), Pelatihan TKHI (2018), Pelatihan Asesor (2018), Pelatihan IPCN
(2019), Pelatihan TOT PPI  (2019), dan Pelatihan TOT PPI Covid-19 (2021).

Terkait dengan pekerjaannya, Wiwit punya pengalaman paling menyenangkan. “Yakni saat terpilih menjadi Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) Tahun 2018. Waktu berangkat tugas adalah tepat di saat hari ulang tahun saya yang ke-39 yaitu pada tanggal 28 Juli,” kenangnya.

Kesibukan wanita yang suka mengoleksi bros itu seabreg. Disamping tugas utamanya sebagai ASN di RSUD Dr Tjitrowardojo Purworejo yang menjadi tempat bekerjanya selama 24 tahun dengan jabatan terakhir sebagai IPCN.

Wiwit saat jadi pembicara di sebuah seminar

Wiwit juga tergabung sebagai anggota PPNI DPD Kabupaten Purworejo, Pengurus PPNI DPK RSUD Dr Tjitrowardojo Purworejo, Pengurus IPDI (Ikatan Perawat Dialisis Indonesia) Kedu, Anggota HIPPII Jawa Tengah, dan sebagai Koordinator Wilayah Purworejo InWOCNA Jateng.

Wiwit yang hobi makan iga bakar itu masih terdaftar sebagai dosen di STIKES Guna Bangsa Yogyakarta sejak tahun 2017 sampai sekarang. Dirinya sering menjadi nara sumber di seminar keperawatan luka dan diklat yang berkaitan dengan pencegahan dan pengendalian Infeksi.

Terlebih di era pandemi Covid-19 sekarang ini tugas Wiwit menjadi sangat berat karena juga bertugas sebagai sekretaris Tim Covid-19 RSUD Dr Tjitrowardojo Purworejo.

Kiprahnya di dunia kesehatan sudah tidak diragukan lagi. Sebagai petugas surveilans RSUD Dr Tjitrowardojo, setiap hari wanita berkulit putih bersih itu selalu berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten
Purworejo dan puskesmas-puskesmas di wilayah Kabupaten Purworejo.

“Saya harus pintar dalam mengatur waktu,  karena kedua putra saya sudah beranjak remaja. Yakni Muhamad Afif Fadhli Husnan (21), kuliah di Farmasi Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMY Semester 6. Satunya lagi Farhan Naufal Zaki (15) kelas 9 di SMPN 15 Purworejo. Mereka sangat membutuhkan pendampingan,” katanya.

Griya Mutiara Woundcare milik Wiwit

Wiwit yang selalu kelihatan enerjik itu semakin bertambah kegiatannya saat suaminya, Suhadi, terpilih menjadi Kepala Desa Dukuhrejo Periode Tahun 2021 sampai 2027. Meski begitu ia bersyukur, sang suami mendukung penuh karirnya.

“Suamilah yang mendorong saya untuk terus melanjutkan sekolah dari lulusan SPK sampai bisa ke jenjang S2 Keperawatan,” ucapnya penuh syukur.

Sebagai seorang ibu, Wiwit ingin menjadi sosok ibu yang bisa diteladani oleh kedua putranya. Ia berprinsip, mencari ilmu itu
penting, dan ilmu tidak akan hilang atau berkurang kalau selalu diaplikasikan atau dibagi dengan orang lain.

Sebagai seorang Praktisi Woundcare atau perawatan luka mulai tahun 2017 hingga kini, Nyonya Suhadi itu ingin mengembangkan keilmuannya terutama dalam perawatan luka dengan teknik modern dressing. Untuk itulah ia membuka praktek perawatan luka modern yang diberi nama Griya Mutiara Woundcare (GMW).

Wiwit dan keluarga kecilnya

GMW merupakan pusat perawatan luka modern dan terpercaya yang ditangani langsung oleh dirinya sebagai spesialis perawatan luka. “Ini berawal dari kebutuhan akan fasilitas kesehatan yang mudah dijangkau oleh warga di sekitar rumah,” ucap Wiwit.

Selain itu dirinya teringat pesan dari Suriadi, MSN, AWCS,Ph.D , Ketua DPP InWOCNA (Organisasi Perawat Luka, Stoma, dan Kontinen Indonesia). Disebutkan, keahlian yang dimiliki harus diaplikasikan dan dikembangkan dengan membuka praktek keperawatan mandiri.

Dengan basik sertifikasi spesialis keperawatan luka, akhirnya Wiwit mengurus ijin praktek mandiri sejak tahun 2015. Ijin prakteknya sudah diperpanjang lagi di tahun 2020 dengan nama Griya Mutiara Woundcare,beralamat di Desa Dukuhrejo RT 2 RW 3 Kecamatan Bayan.

“GMW menangani berbagai macam luka, seperti luka trauma, luka operasi, luka bakar, luka diabetes, dan lain-lain. Dulu masih melayan homecare. Tapi dengan bertambahnya pasien dan kesibukan,  sekarang, saya hanya menerima pasien yang datang ke tempat praktek saja”.

Wiwit (kiri) saat jadi instruktur pelatihan pemulasaraan jenazah

Wiwit lebih suka merawat luka pasien dengan modern dressing, bukan konvensional dressing. Hal itu karena lebih efektif dan efisien untuk perkembangan luka pasien.

Kelak ibu dua orang putra itu berharap bisa mengembangkan GMW menjadi lebih besar dan bisa menjadi tempat praktek bersama untuk teman-teman lain yang konsen di keperawatan luka.

Wiwit hanya ingin menjadi seorang yang bisa membantu orang lain dan berguna untuk orang lain. Karena ada kepuasan tersendiri manakala orang lain puas dengan apa yang sudah dia lakukan.

“Berusaha selalu peduli dengan lingkungan adalah didikan dari suami yang memang punya
jiwa sosial yang tinggi,” tegasnya.

Baginya tidak ada yang tidak mungkin kalau kita mau belajar dan berusaha. Dengan latar belakang hanya seorang anak dari buruh petani, Wiwit berusaha menunjukkan bahwa dia mampu menjadi seorang abdi masyarakat yang bermanfaat. (Yudia Setiandini)

 730 kali dilihat,  5 kali dilihat hari ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *