Webinar Hari Jadi, Peter Carey dan Bambang Purwanto Ulas Sejarah Purworejo

PURWOREJO, Kata Purworejo pertama kali muncul dan dipakai sebagai nama resmi suatu daerah setingkat kabupaten pada
tanggal 27 Februari 1831. Tanggal inilah yang kemudian dipakai oleh PemKab sebagai Hari Jadi Kabupaten Purworejo melalui Peraturan Daerah Kabupaten Purworejo Nomor 1 Tahun 2019.

Meski begitu, masyarakat Purworejo masih banyak yang belum mengetahui sejarah Purworejo. Hal itu karena tidak banyak tulisan, jurnal, kajian, dan ulasan tertulis yang memberikan gambaran perjalanan pembangunan Purworejo, termasuk tokoh- tokoh yang terlibat.

Untuk mengenalkan sejarah Purworejo dalam perspektif kekinian, Dinas Kominfo Kabupaten Purworejo menggelar seminar virtual. Acara itu dikemas dalam Critical Voice Point bertajuk Perspektif Baru Sejarah Purworejo di Commmand Center Gedung Setda Purworejo, Rabu (24/2).

Tak tanggung-tanggung. Kali ini Plt Kadinkominfo Purworejo, Stephanus Aan Isa Nugroho S.STP., M.Si mengundang ahli sejarah kebudayaan Jawa kenamaan Prof. Peter Carey. Ia merupakan guru besar dari Trinity Collage Oxford yang juga menjadi guru besar di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI. Selain itu juga Prof. Dr. Bambang Purwanto, MA, guru besar FIB UGM.

Prof. Peter Carey

Selama lebih dari dua jam, keduanya mengulas tentang sejarah Purworejo dari semenjak jaman kolonial Belanda yang dulunya dikenal dengan nama Bagelen. Carey yang pernah berkunjung ke Purworejo 50 tahun lalu itu secara panjang lebar menceritakan tokoh-tokoh yang terkait dengan berdirinya Purworejo.

Termasuk di dalamnya trah Cokronegoro. Menurutnya, trah Cokronegoro I menjadi bupati dari mulai tahun 1831 hingga 1856. “Salah satu keturunan Cokronegoro I adalah R. Agus Bastian yang kini menjadi Bupati Purworejo,” ucap Carey. Tapi trah Cokronegoro berakhir dengan Bupati ke-4 yakni RAA Soegeng Cokronegoro IV. Ia menjabat dari tahun 1907 hingga 1919.

Adapun Bambang Purwanto menyebutkan, salah satu pribumi yakni Soemotirto warga Desa Ngandagan Pituruh. Ia merupakan tokoh yang dinilai menjadi perintis dalam proses produksi untuk kemandirian desa. Menurut Bambang, saat itu Purworejo berhasil memiliki desa sebagai perwujudan yang hampir sempurna dari cita-cita kemerdekaan.

Baik Bambang maupun Carey sepakat, bahwa untuk menulis sejarah Purworejo harus mencakup banyak hal, termasuk lingkungan geografi serta budaya dan lingkungan alamnya. Bambang berujar, untuk menjadi modern tidak harus menjadi orang kota. “Kita tetap bisa tinggal di desa sepert yang ditunjukkan dalam sejarah Purworejo melalui Desa Ngandagan”.

Prof. Bambang Purwanto

Dalam diskusi itu muncul pula wacana warga geodigital, yakni menghilangkan batas geografis melalui forum digital untuk menjadi kepentingan bersama melalui kolaborasi. Pernyataan itu disampaikan oleh budayawan Sutarto Mendut. Dirinya menjadi salah satu peserta seminar bersama ratusan peserta lainnya dari seluruh Indonesia, termasuk sutradara dan aktor Landung Simatupang.

Di akhir acara Aan mengatakan, bahwa membuka kembali warisan Bagelen merupakan concern Pemda saat ini. Pemkab akan membuka ruang perspektif menjadi maju tanpa meninggalkan Bagelenan. Disebutkan, sejarah bisa dilakukan untuk melangkah ke masa depan.

“Nantinya juga akan ada digitalisasi.Semua bahan sejarah disajikan secara online dan gratis sehingga bisa dinikmati oleh semua pihak, terrmasuk kisah sejarah Kedung Kebo yang cukup kondang,” pungkas Aan. (Dia)

.

 203 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *