Upacara Hari Kartini, Pimpinan dan Staf Dinpermades Kenakan Pakaian Adat Jawa

PURWOREJO, Jajaran pimpinan dan staf Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dinpermasdes) Kabupaten Purworejo memperingati Hari Kartini ke 140 Kabupaten Purworejo, Minggu (21/4) dengan cara unik dan meriah. Sebelum melaksanakan upacara, didahului gerakan joget ala Dinpermasdes yang diiringi lagu Perahu Layar. Dengan gerakan joget bebas, masing-masing yang mengenakan pakaian adat jawa itu tampak semangat memperingati Hari Kartini.

Tampak di barisan terdepan Kepala Dinpermasdes Agus Ari Setiyadi, S.Sos dan Sekretaris Dra Titik Mintarsih, M.Pd memimpin joged ala Dinpermasdes saat memasuki pintu gerbang kantor menuju halaman upacara. Diikuti empat Kabid, yakni Basuki, S.Sos, M.Si, Heri Susanto, SIP, MM, Anas Naryadi, SH, MM, Puguh Triatmoko, SH, MH, dan para Kasi serta semua karyawan karyawati.

Dengan berlenggak lenggok dan menebar senyuman, masing-masing tampak bergembira dan bersemangat. Berjoget sekitar 20 menitan itu, juga semakin semarak dengan tampilan pakaian adat jawa beskap dan kebaya yang berwarna warni menambah ramai suasana peringatan Kartini.

Seperti disampaikan Agus Ari Setiyadi, peringatan Hari Kartini ini pihaknya melaksanakan upacara dengan berpakaian adat jawa. Bahkan juga bergembira bersama dengan joget meriah untuk membakar semangat kebersamaan.

Diungkapkan, saat ini banyak perempuan yang mempunyai akses kemudahan dalam mengembangkan diri. Termasuk keberhasilan perempuan dari tahun ke tahun yang sangat terlihat perannya dalam pembangunan bangsa.

“Perempuan memiliki peran penting dalam keluarga. Selain sebagai ibu yang mendidik anak-anak menjadi generasi penerus bangsa, juga mendampingi suami. Maka sangat tepat perempuan sebagai titik terpertama dalam membawa keberhasilan keluarga menjadi keluarga Indonesia yang berwawasan luas dan beriman,”katanya.

Sementara itu Sekretaris Dinpermasdes Titik Mintarsih selaku inspektur upacara dalam sambutannya mengatakan, atas perjuangan Kartini saat ini kita bisa melihat perempuan-perempuan Indonesia yang hebat. Mereka tidak saja menjadi ibu rumah tangga yang mumpuni, tetapi juga ikut berpartisipasi dalam memberi warna kehidupan masyarakat dengan berbagai kegiatan-kegiatan pembangunan dan sosial.

Namun di sisi lain kata Titik Mintarsih, masih banyak perempuan yang berada dalam posisi tidak berdaya. Ketidakberdayaan mereka terjadi karena banyaknya faktor yang memandang sebelah mata dalam tingkatan stratifikasi sosial perempuan.

Kemampuan perempuan masih dianggap dibawah laki-laki, sehingga kesempatan untuk menyerap faktor produksi juga kalah jauh dengan laki-laki. (*)

Tinggalkan Komentar