TP PKK Kabupaten Gelar Sosialisasi Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital

PURWOREJO, Wakil Ketua TP PKK Kab Purworejo Dra Erna Setyowati Said Romadhon megatakan, anak adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada setiap keluarga, sebagai amanah yang harus dijaga. Anak akan menjadi generasi penerus bagi orang tua maupun bangsa Indonesia. 

“Oleh karena itu setiap perkembangan anak akan menjadi tahapan yang sangat penting untuk mewujudkan generasi yang berkualitas, berakhlak dan bertakwa,” kata Erna Setyowati saat membuka Sosialisasi Pola Asuh Anak dan Remaja di Era Digital, di Gedung PKK, Rabu (18/5).

Karenanya, lanjut Erna, pertumbuhan anak sejak dalam kandungan sampai usia 18 tahun sangat tergantung bagaimana orang tua, keluarga dan lingkungan sekitarnya memperlakukan dan mengasuhnya. 

Selama ini, katanya, pengasuhan anak dianggap sebagai pengetahuan dan ketrampilan yang alami atau terjadi begitu saja ketika mereka menjadi orangtua.

Penggunaan medsos (media social) saat ini menjadi suatu yang mau tidak mau harus kita ikuti, apalagi di dua tahun terakhir ini saat pandemi covid-19 melanda seluruh negara di dunia.  

Sementara itu anggota Komisi I DPRD Muharomah mengatakan, tujuan utama pola asuh yang normal adalah menciptakan kontrol.

Kapolsek Purworejo AKP Bruyi Rohman Warsito

Dalam hal pola asuh anak dan remaja, yang harus diperbaiki terlebih dahulu adalah orang tua itu sendiri dimana pribadi orang tua sebelum melahirkan anaknya diupayakan orang tuanya harus lebih baik. 

Dikatakan, orang tua tampil sebagai panutan (role model) sehingga anak yang lahir nantinya menjadi anak yang baik. Bibit yang anggul akan menghasilkan tanaman yang unggul.

Menurutnya, yang tak kalah penting diperhatikan adalah keluar masuknya keuangan dan sumber makanan yang sehari-hari diberikan kepada anak pastikan dari sumber yang halal dan berkah supaya anak dapat tumbuh berkembang sehat dan  penuh berkah .

Kapolsek Purworejo AKP Bruyi Rohman Warsito, SH, MH memaparkan, dampak negatif sosial media terkadang anak bisa menjadi pelaku ataupun korban dapat dilihat dengan banyaknya kasus yang berawal dari bermain handphone dan media sosial pada tahun 2019 terdapat 23 kasus, tahun 2020 terdapat 27 kasus dan pada tahubn 2021 ada 30 kasus. 

Jika dilihat dari banyaknya kasus tersebut maka dapat disimpulkan betapa besarnya dampak negatif dari sosial media di lingkungan kita. 

Pada tahun 2022 ini kasus yang marak terjadi adalah penipuan online sehingga sebelum melakukan transaksi ataupun transfer dana sebaiknya kita pastikan dulu profil dari yang bersangkutan untuk meminimalisir terjadinya penipuan online. (Nas)

Tinggalkan Komentar