TP PKK Dorong Pengolahan Sampah Plastik Jadi Barang Bernilai Jual

PURWOREJO, Sampah jika dibiarkan akan membahayakan lingkungan. Namun di balik itu sampah memiliki nilai jual, bahkan hingga jutaan rupiah jika diolah dengan tepat dan telaten. Salah satunya pengolahan sampah menjadi pupuk organik, atau menjadi kerajinan asesoris yang menarik.

Ketua TP PKK Kabupaten Purworejo Dra Erna Setyowati Said Romadhon, mengungkapkan itu ketika membuka pemilahan dan pengelolaan limbah rumah tangga di Kantor PKK Kabupaten Purworejo, Sabtu (16/3) lalu.

Lebih jauh Erna Said mengatakan, pengolahan pupuk organik dari sampah sudah dikembangkan di Desa Trirejo Kecamatan Loano. Bahkan sudah mempunyai bank sampah yang menghasilkan omset hingga Rp 25 juta per bulan. Demikian juga sampah plastik yang dikelola Sri Bandu Sunardi seperti tas plastik (kresek) menjadi asesoris yang sangat menarik, yang sekaligus menghasilkan rupiah.

Disamping bisa menambah pendapatan keluarga juga yang terpenting kita harus ambil bagian untuk mengurangi sampah.

“Maka tinggal keniatan dan ketelatenan kita dalam mengelola sampah, untuk bisa dimanfaatkan, sehingga kita sebagai warga masyarakat dan sebagai warga negara yang baik dapat menjadi bagian penyelamat lingkungan,” kata Erna Said.

“Melalui pelatihan mengolah sampah ini, dapat dijadikan sebagai acuan untuk diipraktekkan di rumah. Terutama dalam memanfaatkan sampah menjadi pupuk maupun media tanaman, dan menjadikan asesoris seperti tas atau bunga, ” harap Erna Said.

Sementara itu Sri Bandu Sunardi melatih pembuatan bunga dan tas untuk bepergian terbuat dari sampah tas plastik (kresek). Diawali tas plastik yang warna merah, ungu, atau yang lain terus dicuci bersih dan dikeringkan. Lalu digunting menjadi dua bagian, dan disetrika dengan suhu panas sedang. Supaya tidak lengket pada setrika di atas tas plastik dibalut kertas minyak. Setelah disetrika akan menghasilkan plastik yang membentuk kerutan-kerutan rapi lalu dipola bunga dan digunting.

Selanjutnya dibentuk bunga sepatu dan bunga mawar dengan ukuran lebih besar 4 kali lipat dibanding bunga aslinya. Demikian juga dalam membuat tas, prosesnya hampir sama yakni dicuci, disetrika, dipola, lalu dijahit dengan ditambahkan busa dan kalep sebagai talinya.

“Mengolah sampah ini sangatlah mudah jadi semua pasti bisa, yang penting mau. Bahkan harganya untuk satu tangkai bunga mencapai Rp.20-25 ribu dan satu buah tas harganya Rp 50-100 ribu rupiah. Harus diingat, yang diolah adalah tas plastik bekas, bukan beli baru. Kalau beli baru percuma bukan mengurangi sampah tapi malah menambah sampah dan membuat masalah baru,” jelas Bandu Sunardi.

Sedangkan Dwi Agus Santoso melatih membuat sampah pempers menjadi media tanaman, dimulai dari pempers yang sudah dipakai bayi atau lansia maupun pembalut wanita, lalu dicuci atau tidak dicucipun tidak apa-apa. Kemudian diambil jelnya dan diberi air serta tanah yang ditaruh dalam pot dan siap ditanami.

Jel dapat menyimpan air lebih lama, sehingga lembab dan menyuburkan tanaman. Untuk pembuatan pupuk kompos dari sampah organik bisa dijual Rp.5000 perbungkus, serta pengolahan kerajinan dari sampah botol plastik yang dijual antara Rp.1 juta hingga Rp 1,5 juta. (*)

Tinggalkan Komentar