Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Purworejo Meningkat

PURWOREJO, Pemberitaan tentang kekerasan seksual dalam beberapa tahun terakhir menggeser isu lain dan menjadi trending. Itu karena masyarakat senang dengan model berita tersebut. Selain itu juga tidak terlepas dari fakta bahwa satu dari tiga perempuan pernah menjadi korban kekerasan seksual.

Hal tersebut disampaikan oleh Triantono, akademisi yang menggeluti bidang hukum pada Pelatihan Penerapan Kode Etik Perlindungan dari Kekerasan, Kamis (28/8).

Pelatihan yang diadakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Purworejo itu digelar di Gedung PPNI dan diikuti  puluhan wartawan di Purworejo.

Lebih lanjut Triantono, SH, MH, menyebutkan, isu seksual dan kekerasan seksual memang menjadi topik berita yang punya nilai tinggi bagi media online. Hal itu karena dianggap punya nilIai ekonomis.

Triantono

Berdasarkan penelitian termasuk yang dilakukan di Purworejo, motivasi melakukan kekerasan seksual adalah karena merasa berhak (56,9%), bersenang-senang (23,3%) dan marah (24,7%). 

“Korban kekerasan 75% adalah perempuan dan pelaku kekerasan 85% laki-laki. Dari 25% laki-laki korban kekerasan seksual, bila tidak disembuhkan maka nantinya ia akan menjadi pelaku kekerasan,” ujarnya. 

Ditambahkannya, korban dan pelaku berdasarkan umur adalah mereka yang berada di usia produktif. Berdasarkan data paling banyak usia 18-19 tahun, tapi mereka gagal menerapkan etika.

Nur Hayati, kekerasan terhadap perempuan dan anak meningkat

Terkait sisi pemberitaan, Triantono menjelaskan, korban harus dilindungi secara identitas baik nama maupun alamat yang tidak perlu dibuka secara detil, termasuk melalui kata-kata yang menggiring pembaca.

Dirinya juga menyampaikan bahwa aturan tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) telah diatur dalam UU No 12 tahun 2022. 

Adapun Sekretaris Dinas PPPAPMD Nur Hidayati, ada beberapa forum yang dibentuk untuk mendampingi anak dan perempuan termasuk menggandeng pihak pengadilan, kepolisian, dan RS untuk menangani kejadian masalah anak dan perempuan yang ada di Purworejo.

“Seiring dengan semakin majunya iptek, kejadian kekerasan terhadap perempuan dan anak di Purworejo makin meningkat. Diharapkan melalui forum kali ini wartawan berperan untuk mengurangi kasus kekerasan pada anak dan perempuan. Kalau anak banyak masalah dan masa depannya suram tentu berpengaruh terhadap kemajuanĀ  bangsa,” ucap Nur Hayati. (Dia)

Tinggalkan Komentar