Termasuk Keris Jangkung Milik Agus Bastian, Pusaka Koleksi Museum Tosan Aji Dijamas

PURWOREJO, Museum Tosan Aji Purworejo menggelar jamasan 1.159 pusaka koleksinya, Jumat (27/8). Meski tidak disaksikan masyarakat luas akibat masih pandemi, prosesi jamasan tetap digelar di Pendopo Kabupaten dan halaman depan Museum Tosan Aji.

Satu dari empat pusaka yang dijamas secara simbolis yaitu pusaka milik Bupati Agus Bastian yakni Keris Jangkung. Keris ini konon memiliki pengharapan jangkauan ke depan Purworejo akan lebih maju, lebih baik dan mulyo. 

Pusaka kedua adalah Keris Pasopati, yakni keris lurus dengan sifat ksatria yang memiliki pamor untuk membunuh angkara murka. Pusaka ketiga adalah Keris Panji Sekar Luk 9 dengan pamor bonang rinenten. Keduanya merupakan peninggalan Mataram Kuno.

Bupati serahkan pusaka untuk dijamas

Sedangkan pusaka keempat adalah Tombak Cacing Kanil dengan pamor singkir. Pusaka ini memiliki pengharapan dapat menyingkirkan permasalahan semua penyakit yang ada di Kabupaten Purworejo.

Sebelum dijamas, secara simbolis keempat pusaka diserahkan oleh Bupati Purworejo Agus Bastian, SE, MM kepada juru jamas. Pusaka kemudian diarak dari Pendopo Rumah Dinas Bupati menuju halaman Museum Tosan Aji, diiring kesenian cing poling dan para pengawal yang berpakaian ala prajurit keraton.

“Tiap tahun kami melakukan jamasan tosan aji pada bulan Muharam atau bulan Suro, dan kita ambil hari Jumat Kliwonnya. Secara umum pelaksanaan jamasan pusaka yang dimiliki sudah kita laksanakan setiap hari, namun kita tambah intensitasnya pada bulan Muharam ini,” ungkap Kepala Dinparbud Agung Wibowo, AP, MM.

Tari cing po ling

Agung mengatakan, koleksi pusaka yang dimiliki Museum Tosan Aji saat ini berjumlah 1.159. Setiap tahun pihaknya selalu mendapat tambahan pusaka dari masyarakat, tidak hanya dari Purworejo tetapi juga dari luar kota.

“Pasca jamasan dilakukan pemberian piagam penghargaan bagi penghibah tosan aji ke museum,” terangnya.

Dijelaskan Agung, jamasan yang digelar ini bertujuan nguri-uri tradisi nenek moyang. Selain itu, kegiatan ini merupakan simbol membersihkan diri atau membersihkan sukerto yang ada di Purworejo. 

“Harapannya di era pandemi ini juga bisa sebagai perlambang perwujudan doa kita agar Covid-19 bisa segera berakhir,” pungkasnya. (Nas)

 543 kali dilihat,  1 kali dilihat hari ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *