Terlalu Sempit dan Berada di Kota, Rutan Purworejo dan LPKA Kutoarjo Diusulkan Pindah Lokasi

KUTOARJO,  Hampir semua lapas yang ada, termasuk di Jawa Tengah mengalami over  capacity. Paling padat yakni di lapas Semarang, seharusnya kapasitas sekitar 600-an diisi sekitar 1.200-an. Beberapa lapas sudah berpindah ke lahan yang lebih luas, seperti di Semarang yang telah memindahkan lapas khusus wanita ke Gunung Pati.

Demikian juga dengan lapas di Sukoharjo yang telah digeser lokasinya oleh bupati setempat. Di Purworejo pun, sebisa mungkin lokasi lapas baik rutan maupun LPKA ditukar guling karena lokasinya yang sempit terutama untuk ruang bermain anak dan berada di dalam kota.

Keinginan tersebut disampaikan oleh Kadiv Pemasyarakatan Jawa Tengah Supriyanto saat menghadiri acara Peringatan Hari Anak Nasional di LPKA Klas 1 Kutoarjo, Senin (25/7).
Acara dihadiri Wakil bupati Purworejo Yuli Hastuti, Ketua PKBI jawa Tengah Elisabeth Widyastuti, serta forkopincam Kutoarjo.

Dalam kesempatan tersebut sebanyak 53 anak binaan LPKA Klas 1 Kutoarjo mendapatkan remisi,  dua diantaranya langsung dinyatakan bebas. Selain itu ada delapan anak yang mendapatkan asimilasi di rumah. Mereka berasal dari Brebes (2), Purwodadi, Demak, Pemalang, Temanggung, dan Kudus (2).

Peresmian lapangan olah raga LPKA Klas 1 Kutoarjo

“Saya titip kepada wakil bupati, mudah- mudahan (lapas) bisa digeser karena  tempatnya di kota dan kecil, jadi kalau bisa tukar guling” pinta Supriyanto kepada wabup. Meski demikian, pihaknya mengapresiasi pemda yang telah memfasilitasi vaksinasi kepada seluruh penghuni lapas sehingga semua sehat dan tidak terinfeksi Covid.

Terkait hal itu, wabup Yuli Hastuti lamgsung merespon dan menyampaikan nantinya akan mengajak berbagai pihak untuk membahasnya guna menyediakan lahan yang layak.

Dalam kesempatan itu wabup juga memberi ucapan selamat kepada anak-anak yang mendapat revisi dalam rangka HAN. “Semoga anak-anak tetap ceria dan menjaga perilaku positif agar bisa kembali ke tengah masyarakat,” ucap wabup.

Menurutnya, anak-anak yang berhadapan dengan hukum bukan berarti haknya di bidang pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan terabaikan. “Masyarakat diharapkan dapat menerima dan tidak menyebut sebagai anak yang jahat karena mereka nantinya tetap dapat berkontribusi,” tegasnya.

Kepala LPKA Klas 1 Kutoarjo Hari Winarca saat menyampaikan laporan

Saat tiba di LPKA Klas 1 Kutoarjo pun, wabup disambut dengan iringan  hadroh dari 10 anak binaan yang berlatih secara rutin. Juga disambut dengan yel-yel suka cita dari anak binaan yang mengenakan seragam sekolah, pramuka, dan kaos olah raga.

Selain itu juga pertunjukan seni jaran kepang dan karawitan yang semuanya dilakukan oleh anak-anak yang sehari-hari berada di lingkungan lapas. Mereka semua kompak saat perform dan mendapat aplaus dari wabup dan rombongan tamu undangan.

Wabup juga sekaligus meresmikan lapangan olah raga di kompleks LPKA. Selain itu LPKA Klas 1 Kutoarjo juga menandatangani kerjasama dengan BPKBI Jawa Tengah dalam hal pendampingan anak. Elisabeth kemudian menyerahkan bantuan secara simbolis.

Selain malaporkan jumlah anak yang mendapatkan remisi dan asimilasi di rumah dalam rangka HAN, Kepala LPKA Klas 1 Kutoarjo Hari Winarca juga menyampaikan terkait luas lahan LPKA yakni 6.195 m2 dengan luas bangunan 1.649 m2.

“Saat ini jumlah tahanan anak sebanyak 26 orang, dan anak binaan lima orang. Adapun yang mendapatkan asimilasi di rumah pada tahun ini 32 anak, tahun 2021 ada 26 anak, dan tahun 2020 sebanyak 48 anak,” kata Hari. (Dia)

Tinggalkan Komentar