Tampil Perdana di Acara Resepsi HUT RI, Tari Sekar Menoreh Gabungkan Budaya 4 Desa

PURWOREJO, Empat latar budaya desa yang berbeda di Purworejo menjadi inspirasi lahirnya karya seni yakni Tari Sekar Menoreh.
Tampil perdana di Pendopo Purworejo pada gelaran resepsi HUT ke-77 RI, Senin (22/8), tarian budaya tersebut mampu memukau hadirin yang memenuhi pendopo, termasuk Bupati Agus Bastian.

Bupati bahkan menyebutkan bahwa Tari Sekar Menoreh yang ditampilkan diharapkan akan menjadi salah satu ikon atraksi pariwisata baru Kabupaten Purworejo.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo Wasit Diyono menjelaskan, Tari Sekar Menoreh merupakan gabungan latar budaya empat desa di Purworejo. Yakni Desa Benowo, Desa Cacaban Kidul Kecamatan Bener, Desa Sedayu, Kecamatan Loano, dan Desa Pandanrejo Kecamatan Kaligesing.

Keempat desa tersebut, tutur Wasit, menjadi tulang punggung pariwisata perbukitan Menoreh. “Seni tradisional yang ditampilkan yakni Pong Jir di Benowo dan Pandanrejo, kuda lumping di Sedayu dan Benowo, hadroh di Benowo dan Cacaban Kidul, serta Tari Dolalak dan musik etnik dari Pandanrejo.”

Wasit Diyono

Wasit melanjutkan, Dindikbud Purworejo berinisiasi menguatkan para pelajar dan para seniman untuk difasilitasi, berkarya, dan siap menjadi pelaku serta pendukung utama.

Tari Sekar Menoreh yang tercipta merupakan wujud perkembangan kawasan perbukitan Menoreh yang mewarnai destinasi superprioritas Candi Bororbudur. Kawasan pariwisata Menoreh pun telah melakukan kerjasama dengan Badan Otorita Borobudur.

“Proses penciptaan karya digarap berkeliling ke empat desa dengan berbagai latar belakang budaya. Delapan penari perwakilan dari SD Benowo, SD Mangguljoyo, SD Sedayu, dan SD Pandanrejo menjadi gambaran nyata betapa anak desa mempunyai keunggulan olah rasa,” lanjut Wasit.

Tari Sekar Menoreh ini, kata Wasit, juga tengah dipersiapkan untuk mengikuti ajang lomba tingkat Jawa Tengah pada 27 Agustus di Kompleks Candi Borobudur.

“Sekar Menoreh adalah pengingat pentingnya tradisi dan budaya lokal. Sederhana berarti bukan tertinggal, tradisional bukan berarti ketinggalan jaman,” tuturnya. (Dia)

Tinggalkan Komentar