Sumanang Tirtasujana Bakal Tampil di Acara Pendopo Kang Tedjo TVRI Yogya

PURWOREJO, Penulis essay dan penyair asal Purworejo, Sumanang Tirtasujana menjadi bintang tamu pada acara Pendopo Kang Tedjo di stasiun TVRI Yogjakarta. Shooting acara dilakukan pada Rabu lalu (23/6) dan akan disiarkan pada hari Kamis (1/7) mulai pukul 17.00.

Selama satu jam Sumanang tampil dalam acara yang dipandu oleh Dimas Tedjo itu. Delapan pertanyaan ditujukan kepada budayawan senior itu. Dari mulai pilihannya di dunia sastra, karya yang telah dihasilkan, manfaat sastra untuk masyarakat, tetmasuk harapannya untuk generasi muda pegiat sastra.

Usai acara, produser acara di TVRI Yogya, Ri Yoto Jepang menilai kiprah Sumanang yang eksis di dunia sastra. “Karya-karyanya berupa puisi dan essay sudah sejak tahun 85-an menghiasi berbagai media koran lokal dan nasional” ujarnya.

Tak hanya itu, menurutnya, nama Sumanang ternyata masuk dalam Ensiklopedi Sastrawan Indonesia. Bahkan puisinya dalan bunga rampai antologi Equator, diterjemahkan dalam tiga bahasa, yakni Bahasa Indonesia, Inggris, dan Jerman.

Sumanang (kiri) saat pengambilan gambar di Studio TVRI Yogya

tinggal di kampung yakni di Desa Pituruh, Kecamatan Pituruh, yang berjarak 24 Km dari pusat kota Purworejo, namanya justru berkibar di luar kota. Sumanang juga kerap melakukan bedah karya sastra puisi dan pertunjukan teater.

“Ia merupakan tipe sastrawan pemikir. Faktanya, yang seperti ini langka,” tandas Ri Yoto Jepang.

Pernyataan tentang Sumanang juga diungkapkan oleh pelukis wayang Subandi Giyanto. Disebutkannya, bahwa Sumanang adalah budayawan yang sering diundang di forum kampus seperti UGM, juga pada forum Tamansiswa Yogya dan Taman Budaya Solo. Ia pernah juga turut dalam Pidato 50 Seniman Indonesia di Mendut.

Novelis Budi Sardjono, novelis Joko Santosa, dan Sitok Srengenge menyebut Sumanang sebagai “Ki Ageng Pituruh”. Begitu pun sastrawan Sosiawan Leak dan Gunoto Sapari yang memanggilnya dengan sebutan “Begawan Pituruh”.

Bagi Sumanang yang dihubungi pada Minggu (27/6) sore, sastra tidak hanya memberi penghiburan, tetapi juga mengajak berfikir manusia. Dirinya juga mengklaim bahwa hidup yang tidak mengerti seni bukanlah contoh hidup yang baik. (Dia)

 330 kali dilihat,  9 kali dilihat hari ini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *