Suhadi: Dari Ketua RT, Naik Ketua RW, Kini Terpilih Jadi Kades Dukuhrejo

HIRUK PIKUK pilkades di 41 desa di Kabupaten Purworejo telah berlalu setelah digelar tanggal 3 Mei lalu. Hasil pilkades pun telah diumumkan hari itu juga. Berbagai romantika baik sebelum dan pasca pelaksanaan coblosan masih menyisakan aroma cerita, baik duka maupun suka.

Di antara ratusan calon kades itu, beberapa petahana berhasil melanggengkan masa kepemimpinannya. Namun ada juga yang berguguran digantikan calon yang memang sudah digariskan untuk melanjutkan estafet kepemimpinan periode berikutnya. 

Di antara puluhan “wajah baru” yang berhasil memetik sukses di panggung pilkades kali ini, tercatat hanya ada satu orang yang berasal dari militer, tepatnya berlatar belakang TNI AD aktif. Dia adalah Serma Suhadi, kades  terpilih dari Desa Dukuhrejo, Kecamatan Bayan.

Pada pilkades tempo hari, lelaki kelahiran Demak 4 Maret 1971 itu berhasil meraup perolehan 712 suara, menggungguli calon petahana, Basirun, yang memperoleh 414 suara. Suhadi unggul di tempat tinggalnya yakni RW 3 dan RW I di desa berpenduduk 1.816 jiwa itu.

Yang menarik dari Suhadi yakni jenjang “karirnya” sebagai kades yang mulai dirintis dari jabatannya di level paling bawah yakni sebagai ketua RT pada tahun 2013, atau dua tahun setelah dirinya tercatat sebagai warga Desa Dukuhrejo.

Suasana rumah Suhadi usai memenangkan pilkades

“Sebelumnya kami tinggal di Perum Mranti dan baru pindah ke sini bulan November tahun 2011. Belum genap dua tahun di sini, saya dipilih jadi ketua RT 2 hingga tahun 2016,” ucap bapak dua orang putra itu. Ternyata “karirnya” naik hingga ia dipilih sebagai ketua RW dari tahun 2017 sampai saat ini.

Suhadi yang sudah 28 tahun bergelut di dunia militer, menceritakan pengalamannya selama menjadi tentara. “Pertama kali saya masuk jadi tentara tanggal 23 Januari Tahun 1993 di kesatuan Batalyon Infanteri 412/6/2/Kostrad,” kenangnya.

Setahun kemudian, dirinya ditugaskan di Papua hingga tahun 1995. Tugasnya di sana berlanjut di tahun 1998 hingga 1999. Suhadi juga pernah ditugaskan di daerah konflik Aceh pada tahun 2003 hingga 2004.

Suhadi yang hobi berolah raga itupun pindah tugas ke Kodim 0718 Pati pada tahun 2005 hingga 2008. Suhadi akhirnya balik kandang ke Kodim 0708 Purworejo hingga sekarang ini.

Suhadi menuturkan, jalan hidup menjadi seorang kades sebenarnya tak pernah terbayangkan selama hidupnya. Jika ia menjabat sebagai ketua RT maupun ketua RW, baginya sebagai sebuah pengabdian. Bahkan jadi tentara pun bukanlah cita-citanya, karena sebenarnya ia ingin jadi polisi. Tapi garis hidup membawanya ke dunia militer.

Suhadi dan keluarga

Dengan nada serius Suhadi bertutur, maju menjadi calon kades lebih banyak karena desakan masyarakat. Semula istrinya, Wiwit Sugiarti, S.Kep, Ns., M.Kep, tidak mengizinkan suaminya nyalon kades.

Dikatakan Suhadi yang menyukai jajanan apem itu, waktu itu di tahun 2020, dirinya banyak didatangi tokoh masyarakat dan tokoh agama. “Saya dibujuk untuk maju menjadi calon kades di Desa Dukuhrejo,” ujarnya.

Pada awalnya sang istri yang sudah mendampinginya selama 23 tahun itu menolak keras tawaran yang dianggapnya sangat merepotkan dan melelahkan. “Sudah, Bapak cukup jadi ketua RW saja, titik,” ucap Wiwit yang turut menemani Suhadi saat wawancara berlangsung.

Tapi apa daya, desakan banyak pihak semakin kuat. Terlebih Suhadi juga mendapat dukungan penuh dari Komandan Kodim 0708 Purworejo Letkol Inf Lukman Hakim, S.Sos. M.Si. “Dandim sangat mendukung karena beliau bangga anggotanya dicalonkan jadi kades. Itu berarti tugas teritorial saya dianggap berhasil,” lanjutnya.

Diakui Suhadi, pilihan paling berat dalam hidupnya adalah antara menerima dan menolak menjadi kades. Dirinya bahkan sempat tidak bisa tidur. Tapi akhirnya pada tanggal 20 Desember 2020 ia memutuskan untuk menerima pinangan tersebut.

Suhadi, pribadi yang bersahaja

Menurut Suhadi, yang membuat dirinya mantap untuk maju adalah dukungan dari istrinya dan Dandim, selain tentu saja dari banyak pihak yang menginginkan dirinya memimpin Desa Dukuhrejo agar lebih maju dari waktu sebelumnya. 

Setelah menerima pinangan tersebut, Suhadi pun mulai menginventarisir permasalahan yang ada di desa, terutama di bidang pertanian  khususnya irigasi.

Disebutkannya, pada masa tanam kedua di desanya sering mengalami kekurangan air. Disamping juga pembenahan SDM sehingga tidak menimbulkan konflik.

Dengan santai Suhadi berujar, masa jabatannya sebagai tentara akan berakhir tiga tahun mendatang. Meski demikian usai pelantikan bulan Juni mendatang, dirinya harus mengajukan pensiun dini dari pekerjaannya itu. Ia mengaku tidak kuatir dengan penghasilan yang akan diperoleh selama menjadi kades nanti.

“Saya punya pekerjaan sampingan yang Alhamdulillah bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” katanya.

Selain itu, sang istri juga bekerja sebagai Infection Prevention Control Nurse (IPCN) di RSUD Dr Tjitrowardojo Purworejo. Disamping juga sebagai owner Griya Mutiara Woundcare atau tempat perawatan luka modern dan konvensional terpercaya di Purworejo.

Wiwit Sugiarti mendampingi suaminya selama wawancara berlangsung

Dengan basik penghasilan yang sudah mapan tersebut Suhadi menginginkan bengkok yang menjadi haknya bisa dikelola bersama agar hasilnya bisa digunakan untuk keaejahteraaan warga. Kegiatan sosial, menurut Suhadi, sudah sering dilakukan jauh sebelum dirinya dipilh oleh warga untuk mencalonkan diri menjadi kades.

Di awal kontestasi pemilihan pilkades Suhadi menegaskan kepada para pendukungnya, bila dirinya kalah jangan timbul pergesekan antar warga. Ia lebih mengedepankan kekeluargaan.

Itulah sebabnya Suhadi akan menolak bila calon kades lebih dari dua. Menurutnya hal itu akan semakin memperlebar perbedaan dan potensi konfliknya lebih luas.

Meski berbasis militer, tak sebersit sedikitpun dalam pikiran Suhadi untuk  menerapkan cara-cara militer dalam kepimimpinnya nanti. Untuk itu dirinya sudah menyiapkan strategi kepemimpinan yang mengacu pada 11 asas kepemimpinan. Diantaranya, ing ngarso sing tulodho, ING madyo mangun karsa, tutwuri handayani, waspada purba waseso, ambeg paramo arto, prasojo, dan legowo.

Dua orang putranya yakni Muhamad Afif Fadhli Husnan (20) dan Farhan Naufal Zaki (14) pun diajarkan untuk bersikap andap asor dan saling menghargai. Bersama keluarganya, Suhadi tengah menikmati perjalanan hidupnya, sebuah skenario yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya, yakni menjadi kepala desa di tempat asal istrinya.

Suhadi pun bersiap untuk menata kehidupan warganya menjadi lebih sejahtera dari waktu sebelumnya. Dunia militer yang telah membesarkanya siap ditinggalkan demi bisa melompat lebih jauh lagi dalam jangka waktu enam tahun ke depan. (Yudia Setiandini)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *