Strategi Masyarakat Desa di Tengah Meroket dan Langkanya Harga Minyak Goreng

Oleh: Miyarsih

Tingginya harga minyak goreng yang terjadi sejak akhir 2021 hingga awal tahun 2022 ini membuat sebagian masyarakat khususnya dari kalangan menengah bawah terengah-engah. Namun kondisi tersebut mampu memunculkan alternatif baru yakni dengan memproduksi minyak secara mandiri. 

Sebagaimana yang dilakukan oleh Bu Kati (58 tahun) yang merupakan warga di salah satu desa di Purworejo yang terampil membuat minyak goreng kelapa secara mandiri.

Tersedianya sumber daya alam (kelapa kopra) yang cukup berlebih dan tingginya harga minyak goreng terutama yang berbahan dasar kelapa sawit di pasaran, membuat Bu Kati kembali berinisiatif membuat minyak kelapa untuk memenuhi keperluan dapurnya sendiri. 

Bu Kati bertutur bahwa keterampilan membuat minyak kelapa tersebut diperoleh dari buah tutur dan ajaran sanak saudara terdahulu sejak dia masih remaja, yang mana hal demikian sangat berguna untuk menghadapi kondisi sulit seperti saat ini yakni melambungnya harga minyak goreng. 

Proses pembuatan minyak kelapa yang dilakukan Bu Kati cukup sederhana dan mudah karena tidak memerlukan peralatan yang banyak maupun bahan tambahan lainnya, namun tentunya sudah pasti memerlukan keuletan dan kesabaran yang lebih.

Penulis

Berikut proses pembuatan minyak kelapa sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Bu Kati:

Kelapa yang paling baik untuk dijadikan sebagai minyak adalah kelapa yang sudah tua karena akan menghasilkan santan yang lebih banyak. Kelapa yang sudah dikupas dari sabutnya, kemudian dibersihkan kulit arinya yang berwarna coklat tua (kulit bagian dalam kelapa) agar nantinya santan yang dihasilkan dapat berwarna putih bersih.

Kelapa yang sudah dibersihkan dari kulit arinya tersebut kemudian dicuci hingga bersih dan diparut.

Setelah itu, kemudian diperas menjadi santan yang kental. Bu Kati biasanya melakukanya hingga dua kali perasan yang diletakkan dalam wadah terpisah.

Panaskan santan kental tersebut ke dalam wajan besi (yang tidak mudah lengket) dengan api sedang. Umumnya selama proses memanaskan santan ini dijadikan 2 tempat yakni perasan pertama yang lebih kental diletakkan dalam wajan dan perasan kedua yang lebih cair diletakkan dalam panci untuk nantinya setelah mendidih diambil cairan kentalnya untuk kemudian ditambahkan ke dalam perasan pertama.

Selama proses memanaskan tersebut, aduk-aduk santan secara berulang agar gelembung santan tidak pecah dan lengket di wajan. 

Setelah mendidih tetap diorak-arik, agar gumpalan santan tidak gosong dan menempel pada wajan serta minyak dapat keluar dengan baik. Pada tahap ini sudah dapat dilihat minyak kelapanya, namun perlu hati-hati ketika mengorak-arik karena umumnya minyak akan meletup-letup.

Tetap panaskan hingga minyak keluar lebih banyak dan gumpalan santan matang (kerenceng) berwarna kecoklatan, setelah itu matikan api.

Saring minyak yang keluar, pindahkan minyak kelapa yang sudah disaring ke dalam botol. 

Nah bagaimana, mudah dan simpelkan? 

Memang proses pembuatannya tidaklah sebentar dan tentunya memerlukan kesabaran dan ketelatenan terlebih apabila keseluruhan pengerjaannya dilakukan secara manual. 

Terutama dalam proses membersihkan kulit ari, memarut kelapa dan memanaskan santan yang memerlukan waktu yang cukup lama. 

Selain itu, minyak yang dihasilkan juga cenderung lebih sedikit. Sebagaimana yang dialami Bu Kati, 5 butir kelapa tua ukuran besar umumnya hanya menghasilkan minyak kurang lebih 600 ml. 

Secara keseluruhan proses pengerjaan dari awal hingga akhir yang dilakukan secara manual dapat menghabiskan waktu selama 4-5 jam dan atau relatif. Proses pembuatan yang simpel namun memerlukan kesabaran dan keuletan bukan?

Namun bagi penduduk desa seperti Bu Kati, hal tersebut bukanlah perkara yang sulit. Usaha lebih keras lebih meringankan ketimbang besarnya uang yang harus dikeluarkan untuk membeli minyak yang dirasa tidak seberapa. 

Rasa minyak kelapa itu sendiri memiliki rasa yang khas dibanding minyak yang biasa dijual di pasaran yang umumnya bebahan dasar dari kelapa sawit. 

Umumnya minyak kelapa memiliki rasa dan aroma yang lebih kuat dibanding minyak goreng berbahan dasar kelapa sawit pada umumnya. 

Selain itu, perubahan struktur minyak juga dialami oleh minyak kelapa, yakni karakteristik minyak kelapa homemade yang dibuat murni tanpa ada tambahan bahan apapun termasuk pengawet sebagaimana yang dilakukan Bu Kati akan cenderung lebih mudah membeku apabila disimpan dalam suhu ruang dan atau suhu yang cenderung dingin (23-24°C) dan akan kembali cair ketika suhu lebih hangat. 

Namun jangan salah, tentunya minyak kelapa akan jauh lebih sehat karena tidak mengandung bahan pengawet apapun. Terdapat beragam manfaat minyak kelapa bagi kesehatan tubuh yakni diantaranya menjaga kesehatan jantung, menurunkan berat badan, mengurangi kadar lemak jahat dan mencegah diabetes (Alodokter.com, 2021). 

Maka dari itu, tak ayal mengapa di pasaran harga minyak goreng berbahan dasar kelapa kopra cenderung lebih mahal dibanding minyak goreng pada umumnya.

Demikianlah strategi Bu Kati yang merupakan cerminan dari masyarakat desa agar tetap dapat survive di tengah meroket dan langkanya harga minyak goreng yakni dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam sekitar serta keterampilan dan keuletan yang dimiliki. 

Hemat penulis, hidup hemat, daya kreatif dan kerja keras merupakan modal yang tepat untuk dapat terus survive terutama di tengah tejadinya krisis. (**)

Referensi:

Alodokter.com. 2021. Inilah 4 Manfaat Minyak Kelapa untuk Kesehatan Tubuh.  Di laman: https://www.alodokter.com/manfaat-minyak-kelapa-bagi- kesehatan-dan-kecantikan. Diakses tanggal 16 April 2022. Wawancara dan Observasi dengan Bu Kati tanggal 13 April 2022, Purworejo.

Penulis adalah mahasiswa jurusan Sosiologi UGM 2018, tinggal di Desa Guyangan, Kecamatan Purwodadi

Tinggalkan Komentar